,

TMMD dan Air Mata Haru Salmalita

Pagi masih dhuha ketika Salmalita meninggalkan rumahnya. Ia menutup rapat pintu rumah berukuran 4 x 7 meter dan berdinding papan usang itu. Saban hari saban malam di sana ia berteduh.

Subuh-subuh ia sudah bangun, usai shalat lalu menyiapkan berbagai peganan, kue-kue riangan. Dan ketika matahari sudah tampak di ufuk timur, ia meninggalkan kediamannya itu. Seperti pada Kamis pagi, 26 Juli 2018, ia berjalan sambil membawa bermacam kue buatannya ke sekolah SMP Negeri 1 Kutapajang, Kabupaten Gayo Lues. Di sana ia menjajaan kuenya kepada siswa.

Sepanjang perjalanan dari rumahnya di Desa Tampeng ke sekolah SMP Kutapajang, rona-rona lelah sangat kentara muncul di wajahnya. Ketika sedang menjajakan kuenya itu, tiba-tiba satu suara mengejutkannya. “Bu, pak tentara datang ke rumah,” suara itu datang dari Robyanto, pemuda berusia 24 tahun, yang tak lain adalah anaknya Salmalita.

Mendengar itu, Salmalita kaget dan penasaran. Ada apa gerangan tentara datang ke rumahnya. Maklum sebagai daerah bekas konflik, masyarakat Aceh termasuk masyarakat Gayo di dalamnya, punya kenangan tersendiri tentang derita sebagai korban kecamuk perang.

Tapi pagi itu, Salmalita menyembunykian kegusarannya itu. “Aceh sudah damai, sudah 13 tahun, ini bukan sesuatu yang harus ditakutkan,” perempuan paruh baya itu membatin.

Perempuan yang sering disapa Inen Elvi itu pun bergagas pulang. Jalannya pelan, sepanjang perjalanan itu ia berharap tak ada sesuatu yang tidak baik baginya. Benar saja, ketika sampai di rumahnya, ia melihat beberapa pria berpakaian loreng di halaman.

Melihat perempuan itu kebingungan, Letnan Satu Inf J Girsang selaku Dan SSK Satgas TMMD ke 102 dari Yonif RK 113/JS menghampirinya. “”Maaf bu, ibu terpilih mendapatkan bantuan rehab rumah dari Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 102 Kodim 0113/Gayo Lues, tadi kami sudah meminta izin kepada anak ibu untuk memulai bekerja,” jelasnya. Ada sepuluh anggota TNI yang sedang mengangkut material untuk memperbaiki rumah Salmalita.

Perempuan itu kemudian langsung sujud syukur di tanah di hadapan Lettu Girsang. Melihat itu Girsang menunduk memegang tangan Salmalita membantunya bangkit berdiri.

“Terimakasih nak, terimakasih. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kalian,” katanya yang terlihat meneteskan air mata. “Sudahlah bu, ini memang sudah menjadi rezeki ibu, dan sudah menjadi kewajiban kami atas perintah pimpinan membantu rakyat, terutama orang-orang seperti ibu,” kata Girsang.

“Ibu memang sangat berharap mendapatkan bantuan ini nak, tapi sama sekali tidak yakin akan mendapatkannya,” kata bu Salmalita sembari mengusap air mata dengan jilbab panjangnya.

Salmalita pun menceritakan kisah pahitnya selama 10 tahun belakangan, suaminya yang bekerja sebagai tukang serabutan dan ia sebagai pedagang kue jajanan anak sekolah hanya mampu menghasilkan uang Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu per bulannya, uang itu digunakan untuk menyekolahkan anak dan membeli beras.

Mahalnya harga bahan pokok dan bahan kebutuhan dapur lainnya membuat Salmalita dan suaminya hanya bisa bertahan hidup di rumah kayu berukuran 4 x 7 meter itu, atapnya yang bocor dan dinding kayu rumah yang sudah dimakan rayap tak mampu lagi ia perbaiki, rumah itu benar-benar telah dimakan usia.

“Sudah sejak lama saya mengimpikan tinggal di rumah layak, tapi mau bagaiman rejeki bapak belum ada, dan saya tetap pasrah tinggal di sini,” katanya, saat itu suaminya juga tidak ada di rumah karena sedang bekerja mencari nafkah.

Baru pada sore hari, tepat pukul 16:27 WIB, Sapriandi pulang, lelaki tua berdiri di depan rumahnya yang sedang direhab oleh tentara. Tangan kirinya memegang rokok kretek, tangan kanannya memegang erat sebuah karung.

Melihat suaminya pulang, Inen Evi bergegas meninggalkan masakannya yang akan disajikan untuk TNI itu. Ia berjalan setengah lari kea rah pria berusia 45 tahun itu. “Pak, kita dipilih Pak Kodim, rumah kita jadi direhab,” katanya dengan penuh haru.

Sapriandi pun memeluk istrinya, dan langsung menyalami seluruh anggota TNI di sana sembari mengucapkan terima kasih. Mimpi keluarga kecil itupun kini terwujud berkat TMMD reguler 102 yang dilaksanakan Kodim 0113/Gayo Lues.[Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *