,

Tim RPJM Irwandi/Nova Diminta Prioritaskan Penyelesaian Masalah Lingkungan

TAPAKTUAN – Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Gubernur/Wakil Gubernur Aceh terpilih Irwandi Yusuf/Nova Iriansyah, diminta untuk memprioritaskan penyelesaian masalah tambang dan lingkungan hidup di Aceh Selatan.

Permintaan itu disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan Gunung Hutan Lestari (YGHL) Aceh Selatan, Sarbunis di Tapaktuan, Rabu, 7 Juni 2017. Menurut Sarbunis ada beberapa kasus yang butuh penyelesaian segera yakni seperti izin usaha pertambangan mineral emas, baik yang melibatkan perusahaan swasta maupun usaha pertambangan emas tradisional yang melibatkan masyarakat luas.

Kemudian kasus tapal batas lahan perkebunan sawit antara PT Asdal Prima Lestari dengan masyarakat beberapa gampong di Kecamatan Trumon Timur, termasuk tapal batas kawasan hutan konservasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil di wilayah Kecamatan Trumon.

“Melalui momentum telah dibentuknya tim Perumus RPJM Irwandi – Nova maka kami meminta kepada para pihak yang terlibat dalam tim tersebut agar memasukkan sejumlah persoalan terkait wilayah pertambangan, perkebunan dan lingkungan di Aceh Selatan ke dalam draft RPJM Provinsi Aceh,” harapnya.

Sarbunis menyarankan kepada tim Perumus RPJM Irwandi – Nova tersebut agar dalam bekerja benar-benar serius dan berpihak kepada masyarakat dengan melepaskan berbagai kepentingan kelompok tertentu. Sebab menurutnya, RPJM tersebut merupakan pijakan awal bagi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih dalam mengimplementasikan seluruh program – program kerjanya di lapangan.

“Tim Perumus tersebut agar benar-benar berpihak kepada rakyat. Sebab masukan yang diberikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur nantinya sangat menentukan nasib rakyat dan kemajuan pembangunan daerah ke depan, hal ini harus disikapi serius dan tidak boleh main-main,” tegasnya.

Sarbunis mencontohkan seperti terkait wilayah pertambangan emas di Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah. Dimana karena tambang tersebut terus dieksploitasi secara serampangan tanpa ada sebuah regulasi yang jelas telah mengakibatkan kawasan hutan dan lingkungan daerah tersebut hancur.

“Bahkan wilayah Menggamat sudah sampai di stigmakan tinggal menunggu kiamat. Anggapan ini kami nilai bukan main – main, tapi benar-benar serius dengan melihat kondisi alam dan lingkungan sekarang ini, salah satunya hutan yang sudah gundul dan terjadinya pendangkalan sungai,” beber Sarbunis.

Sarbunis juga mengungkapkan terkait kasus semakin meluasnya perambahan kawasan hutan konservasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Kecamatan Trumon. Dengan melihat aksi perambahan oleh oknum tertentu dengan tujuan dibuka lahan perkebunan sawit semakin marak, Sarbunis justru mengusulkan kepada Pemerintah Aceh dan Pusat agar menetapkan saja kawasan tersebut menjadi kawasan hutan adat sehingga bisa dikelola langsung oleh masyarakat.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *