,

Tim Gabungan Tangkap Perambah Rawa Singkil

TAPAKTUAN – Tim gabungan dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh dan Polres Aceh Selatan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap perambah kawasan margasatwa rawa Singkil di Desa Keude Trumon, Kecamatan Trumon, Sabtu 29 Oktober 2016 sekitar pukul 14.00 WIB.

Selain petugas BKSDA, operasi yang digelar secara mendadak atau tiba-tiba tersebut, juga melibatkan petugas dari Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Wilayah Sumatera, Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah 18 Banda Aceh, Forum Konservasi Leuser bersama anggota Polsek Trumon.

“OTT ini menindaklanjuti laporan masyarakat kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta terkait maraknya aksi perambahan dan pengrusakan kawasan hutan marga satwa rawa Singkil di Kecamatan Trumon. Dari hasil patroli yang dilakukan tim terpadu ditemukanlah pelaku yang sedang merambah lahan konservasi tersebut,” ungkap Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Provinsi Aceh, Handoko Hidayat, kepada wartawan di Mapolres Aceh Selatan, Sabtu malam.

Menurutnya, dari sekitar 800 meter kawasan hutan yang telah dibuka oleh pelaku menggunakan alat berat (beco) di Desa Keude Trumon tersebut, sekitar 500 meter masuk ke dalam kawasan hutan konservasi suaka margasatwa rawa Singkil.

Saat ditemukan di lokasi, sambung Handoko, alat berat (beco) tersebut sedang bekerja membersihkan lahan sembari menggali sejumlah parit. Namun saat ditanya, apakah pembukaan lahan tersebut bertujuan untuk dijadikan lahan perkebunan sawit?. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Aceh, Handoko Hidayat belum berani memastikannya.

Demikian juga saat ditanya siapa pelaku perambahan kawasan hutan konservasi tersebut?, Handoko menyatakan sejauh ini pihaknya belum mengetahui siapa pelaku utamanya. Sebab dalam operasi tangkap tangan tersebut, pihaknya hanya menemukan barang bukti satu unit alat berat (beco) bersama operator beco dan dua orang kernetnya.

“Artinya bahwa, tiga orang saksi yang ditemukan dilokasi tersebut merupakan pekerja, mereka bukan pemilik alat berat dan juga bukan orang penyandang dana untuk membuka kawasan hutan tersebut. Siapa sosok orang dibalik kasus ini, mari kita tunggu saja hasil penyelidikan dan pengembangan kasus yang nantinya akan dilakukan pihak Satreskrim Polres Aceh Selatan,” tegasnya.

Menurut keterangan yang diterima, tiga orang pekerja yang ditangkap dilokasi tersebut telah dimintai keterangan sebagai saksi di Mapolres Aceh Selatan Sabtu, 29 Oktober 2016 malam. Sedangkan satu unit alat berat (beco) sampai saat ini masih berada di lokasi yang dikelili rawa-rawa tersebut. Karena agak sulit untuk dikeluarkan pada hari itu juga, rencananya alat berat tersebut akan di bawa ke Mapolres Aceh Selatan pada Minggu 30 Oktober 2016 untuk dijadikan barang bukti (BB).[Hendri Z]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *