,

Teror Raja Catur

Teror psikologi dalam sebuah perlombaan sering dilakoni para atlit dunia untuk menjatuhkan mental lawan. Ada yang sesumbar, ada pula yang dingin tapi mematikan. Teror juara catur dunia, Bobby Fischer paling mencengangkan.

Kali ini saya ingin menulis tentang teror dari perspektif positif. Katakanlah semisal terornya pemain poker terhadap lawan. Pemain poker selain memainkan kartunya juga merancang teror untuk membuyarkan konsentrasi lawan. Selagi memainkan kartunya, pemain poker yang baik jarang menjadi seorang aktor. Sebaliknya ia mempraktikkan sikap membosankan yang meminimalkan pola yang bisa dibaca lawan.

Teror semacam ini membuat lawan frustasi dan bingung hingga kehilangan konsentrasi. Robert Greene penulis buku The 48 Law of Power menyebut tingkah seperti ini sebagai teror di balik tabir asap.

Pada Mei 1972, teror seperti ini pernah dilakoni pada kejuaran catur dunia. Juara catur Boris Spassky harus menunggu lama lawannya Bobby Fischer di Reykjavik, Islandia. Fischer sengaja tidak datang tepat waktu untuk menciptakan terornya, pertandingan pun di tunda.

Pada kali kedua, ia memang datang, tapi mempermasalahkan jumlah uang sebagai hadia dan mekanisme penyerahan uang itu. Ia juga mempermasalahkan logistik yang akan diterimanya selama pertandingan. Atas ulahnya itu, pertandingan catur dunia itu kembali ditunda.

Dua kali ditunda, Spassky tetap bersabar, meski bosnya di Rusia memintanya untuk mundur karena menilai Fischer sedang mempermainkannya. Tapi Spassky ingin tetap mengikuti pertandingan itu dan yakin bisa mengalahkan Fischer.

Akhirnya Fischer datang untuk mengkuti pertandingan bersejarah itu. Tapi kali ini ia kembali berulah, ia mempermasalahkan aula tempat pertandingan itu digelar. Ia megkritik pencahayaan di dalam aula dan kebisingan kamera. Ia juga mempermasalahkan kursi yang harus ia dan Spassky duduki.

Tak tahan diperlakukan seperti itu, Unisoviet bermaksud menarik Spassky, jagoan mereka dari pertandingan itu. Sebagai juara bertahan Spassky dinilai tidak layak mendapatkan perlakuan demikian.

Gertakan Unisoviet itu berhasil membuat Fischer bersedia bertanding beberapa minggu kemudian. Tak ada yang menyadari waktu itu, bahwa sesungguhnya Fischer sedang meneroe Unisoviet dengan juara caturnya itu.

Tapi bukan Fischer namanya kalau tidak berbuat ulah. Pada hari perkenalan resmi pertandingan dua grand master catur dunia itu digelar, Fischer datang terlambat. Orang menganggap ia takut berhadapan dengan Spassky, ada juga yang mengira si Fischer sesungguhnya demam panggung. Ficher baru benar-benar datang semenit menjelang pertandingan itu hendak dibatalkan.

Bagi pemain catur dunia, pertandingan pertama merupakan sesuatu yang sangat menentukan untuk pertandingan babak selanjutnya, tapi Fischer yang sebenarnya sedang mempertahankan terornya terhadap Spassky, ia sengaja bermain buruk. Ia benar-benar terdesak hingga rajanya mengalami “skak mat”. Saat itulah puncak dari terornya, ia melakukan langkah berani yang membuat Spassky dan penonton tercengang.

Keterkejutan Spassky terhadap langkah yang tak terduga membuat penonton tertawa dengan riuh. Spassky yang terdesak, namun ia bisa bangkit dan mampu mengalahkan Fischer. Pengamat catur menanggap Fischer nekat malah gila dalam langkahnya sehingga dikalahkan. Ia benar-benar kehilangan pertandingan pertamanya itu. Namun seseungguhnya kekalahan itu hanya tangga kesekian dari teror terhadap Spassky yang dirancangnya.

Usai kekalahan itu, Fischer mengeluh tentang ruangan pertandingan. Pada pertandingan kedua ia kembali datang terlambat. Panitia pertandingan catur dunia itu benar-benar muak dengan tingkah Fischer dan ia dianggap kalah. Ia telah kalah dua kosong, posisi yang sangat sulit untuk menjadi juara dunia dengan dua kekalahan itu. Ternyata kekalahan kedua itu juga bagian dari puncak teror yang diciptakan Fischer.

Pada pertandingan ketiga ia datang tepat waktu dan bermain dengan gaya yang jauh berbeda. Ada mimik ganas di wajahnya, hal yang benar-benar membuat Spassky tidak nyaman. Ketika Fischer malakukan langkah yang tidak biasa, Spassky menganggapnya perangkap hingga tidak peduli terhadap langkah gila itu. Namun beberapa langkah kemudian membuatnya secara tiba-tiba telah diskak-mat oleh Fischer. Inilah yang oleh Robert Greene disebiat sebagai langkah yang tak ortodok yang benar-benar menggelisahkan lawan.

Pada pertandingan selanjutnya Fischer tetap membuat langkah langkah tak terduga hingga Spassky terdesak dan mulai melakukan banyak kesalahan. Spassky akhirnya kalah secara beruntun sampai pertandingan keenam dan membuat Fischer menang empat banding dua.

Pada pertandingan ketujuh ia juga kalah hingga kemudian menganggap Fischer telah menghipnotis dirinya. Lalu pada pertandingan kedelapan ia memutuskan untuk tidak menatap mata Fischer. Namun ia tetap kalah sampai pertandingan keempatbelas. Fischer menang besar setelah kekalahan dua kosongnya.

Spassky kemudian menggelar konferensi pers dan menuduh Fischer telah mengendalikan pikirannya. Ia juga menduga jus jeruk yang diminumnya telah diberikan zat kimia. Selain itu Spassky juga menuduh Fischer telah meletakkan sesuatu di kursi yang bisa mengubah pikirannya.

Kursi-kursi itu dibongkar dan diperiksa oleh ahli kimia, tapi tidak ditemukan zat apa pun. Satu-satunya benda yang ditemukan hanya bangkai lalat di sebuah peralatan lampu. Spassky mulai mengeluh bahwa ia berhalusinasi. Ia mencoba terus bertanding pada babak selanjutnya, namun pikirannya telah kacau. Ia benar-benar kalah dan tak sanggup melanjutkan pertandingan, hingga pada 2 September 1972, juara dunia catur itu mengundurkan diri di usia yang relatif masih sangat muda. Ia tak pernah pulih dari kekalahannya itu.

Sementara Fischer usai pertandingan melompat dan bergegas keluar, lalu berteriak kepada rekan-rekannya bahwa ia telah mengalahkan lawannya itu dengan kekuatan alam yang kasar. Itulah teror psikologi terhebat dalam dunia catur sepanjang sejarah. Teror yang memberikan hasil positif bagi Fischer; mengalahkan juara dunia.[Iskandar Norman]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *