,

Terkait Proyek IPAL, Tim Pemantau Otsus Akan Temui Ahli Waris Raja Aceh

JAKARTA – Tim pemantau otonomi khusus (Otsus) Aceh, Papua dan Keistimewaan Yogjakarta di DPR RI, rencana akan menemuai ahli waris Kerajaan Aceh terkait polemik proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAl) di Gampong Pande, Kota Banda Aceh.

Proyek yang didanai APBN senilai Rp 107 miliar di lahan seluar 1,6 hektar tersebut memunculkan polemik karena dibangun di atas lahan bekas lokasi Kerajaan Aceh pertama dibangun, di sana terdapat sejumlah makan ulama dan keluarga kerajaan.

Koordinator Tim Pemantau Otsus Aceh di DPR RI, H Firmandez menjelaskan, Tim Pemantau Otsus akan tiba di Aceh pada Minggu, 22 Oktober 2017. Selama di Aceh tim yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI, Fazli Don tersebut akan bertemu dengan Gubernur dan Forkopimda Aceh, serta berbagai pihak terkait pelaksanaan Otsus Aceh, termasuk dengan ahli waris Kerajaan Aceh.

“Kita akan minta kepada Pemerintah Aceh untuk dipertemukan dengan ahli waris raja-raja Aceh. Tim akan mendengar masukan dari berbagai pihak, untuk kemudian dicari solusi penyelesaiannya, apalagi proyek IPAL itu proyek nasional, kewajiban kami di DPR untuk melakukan pengawasan,” jelas H Firmandez.

Politisi Golkar asal daerah pemilihan (Dapil) Aceh 2 ini melanjutkan, jika pun proyek IPAL itu dihentikan karena merusak situs sejarah, Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh bersama Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat melalui Meteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) harus mencari jalan tengah sebagai solusinya.

“Bagaimana pun itu marwah Aceh, situs sejarah harus diselamatkan. Apa lagi sejumlah pihak termasuk Wali Nanggroe selaku lembaga adat dan keturuan raja-raja sudah meminta agar proyek itu dihentikan. DPRK Banda Aceh juga sudah merekomendasikan untuk dihentikan. Solusinya lebih baik direlokasikan saja ke tempat lain,” saran H Firmandez.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar Bidang Maritim ini melanjutkan, memorandum yang disampaikan oleh ahli waris raja-raja Aceh patut menjadi pertimbangan bersama, apalagi lokasi proyek IPAL itu merupakan tempat awal mula Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Johansyah pada tanggal 1 Ramadhan 601 H atau 22 April 1205 M, yang menjadi Kilometer Nol Kota Banda Aceh.

“Hasil kajian arkeolog Lucas Partanda Goestoro juga menyebutkan Gampong Pande sebagai Important Sites In North Sumatra Island. Ini menunjukkan tempat tersebut merupakan sebuah bekas kota pusat peradaban Aceh masa lalu. Makanya kami Tim Pemantau Otsus berencana untuk menjumpai pewaris raja-raja Aceh terkait proyek IPAL ini,” pungkas H Firmandez.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *