,

Sisi Lain Perang Aceh
79 Warga Dibantai Saat Kenduri

Sebuah fakta sejarah terungkap dalam laporan militer Belanda (Militaire Tijdschrift). 79 warga di Kuta Blang Jeurat dibantai saat menggelar kenduri. Kekejaman Belanda yang masih disembunyikan.

Peristiwa tragis itu terjadi pada 31 Desember 1901. Sebuah kambing besar akan disembelih untuk peganan acara kenduri di Blang Jeurat. Pada saat yang sama, pasukan marose Belanda pimpinan Heynen, yang kelelahan dan kelaparan melewati daerah tersebut.

Mereka mengepung daerah yang letaknya agak rendah di lereng bukit itu. Pasukan Heynen melihat dengan jelas acara persiapan kenduri itu. Mereka yang sudah kehabisan bekal makanan untuk operasi segera menyerang warga yang mengadakan kenduri itu. Sasaran utama mereka adalah kambing besar yang sudah disembelih.

Dalam sebuah laporan militer Belanda, Militaire Tijdschrift, peristiwa itu digambarkan, karena khawatir tidak kebagian daging kambing itu, para marsose saling sikut dan rebut sesamanya. Namun usaha mereka untuk merebut daging kambing itu mendapat perlawanan dari warga.

Seorang marsose dari Ambon bernama Mruku, ketika mencoba merebut kambing itu mendapat luka parah kenak dua kali sabetan. “Dialah yang paling dahulu berada dalam benteng dan berkelahi satu lawan satu. Letnan Berger yang melihatnya terluka, segera menariknya, tapi ia melepaskan diri dan kembali bertempur untuk mendapat kambing tersebut,” tulis laporan Militaire Tijdschrift.

Pertempuran yang tak imbang itu berlangsung singkat. Untuk mendapat daging kambing tersebut, marsose membantai 79 masyarakat yang hadir pada acara kenduri itu. Sementara dipihak Belanda, dua orang marsose mati dan 24 luka-luka. “Mengenai kambing tadi, semuanya beres, tak seiris daging pun yang tersisa. Semuanya masuk perut, dan semuanya kebagian,” lanjut laporan itu.

Pasukan itu kemudian bergerak pulang, membawa mayat kedua marsose. Mereka berjalan amat lambat, karena tandu-tandu penuh dengan muatan korban yang luka-luka. Pada saat mendekati tengah malam, barulah pasukan itu sampai di kampung Lampahan. Karena sangat letih dan kehabisan tenaga, mereka terpaksa berhenti dan menunggu sampai siang hari berikutnya. Mereka berteduh di bawah kolong rumah-rumah penduduk, dengan menempatkan mayat-mayat serta marsose yang luka-luka di tempat yang baik dan aman.

Salah seorang di antara mereka melihat arlojinya; dan tatkala tiba saat tengah malam tepat, anggota-anggota pasukan itu saling mengucapkan selamat tahun baru. Mereka duduk-duduk sambil bergembira menikmati apa adanya sambil menantikan datangnya siang hari. Makanan dan minuman tidak ada sama sekali. Keesokan harinya, dalam tempo lima menit seluruh pasukan sudah dapat disiapkan untuk meneruskan perjalanan dengan perut kosong mereka berjalan bagaikan serigala kelaparan. Meskipun demikian mereka mengangakut mayat-mayat teman mereka dengan baik-baik. Mereka digotong menuju Peusangan, dan dikuburkan dekat rumah warga.[iskandar norman]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Iskandar Norman

Pemimpin Redaksi http://teropongaceh.com. Pernah bekerja di Tabloid Modus Aceh, Harian Aceh Independen, Harian Aceh dan Pikiran Merdeka. Menulis sejumlah buku seperti Nuga Lantui, Legenda Aceh dan Hadih Maja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *