,

Sidang Kasus Korupsi Tanah Terminal

Saksi Cabut Keterangan dalam BAP

BANDA ACEH – Tiga dari tujuh saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Aceh Selatan, mencabut keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) perkara dugaan korupsi pengadaan tanah terminal tipe C Labuhanhaji dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Banda Aceh, Kamis, 5 Januari 2017.

Ketiga saksi tersebut adalah mantan anggota DPRK Aceh Selatan Sulaiman Mas Bin Nyak Manih, Kasubbag Program Dishubkominfo Aceh Selatan Edward Noris Bin Ismed dan salah seorang warga Desa Pisang, Kecamatan Labuhanhaji, Sayed Rahmatillah.

Dalam keterangannya di hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor Banda Aceh yang diketuai Nurmiyati SH MH dengan dua hakim anggota masing-masing H Supriadi SH MH dan M Fatan Riadi SH MH, ketiga orang saksi yang diperiksa secara terpisah tersebut menegaskan bahwa seluruh keterangannya di bawah sumpah yang disampaikan dimuka pengadilan itulah yang benar adanya meskipun bertolak belakang dengan keterangan yang pernah disampaikan dalam BAP di hadapan penyidik.

Hal itu seperti disampaikan saksi Sulaiman Mas, dimana sebelumnya dalam BAP dirinya menyebutkan bahwa mengetahui lokasi tanah rencana pembangunan Terminal Tipe C yang berlokasi di Dusun IV Sawah Liek, Desa Padang Bakau, Kecamatan Labuhanhaji akan dibebaskan oleh Pemkab Aceh Selatan dari terdakwa Tio Achriyat saat keduanya bertemu dilokasi.

“Pernyataan tersebut tidak pernah saya sampaikan kepada penyidik Polres Aceh Selatan. Yang benarnya adalah saya bertemu dengan terdakwa Tio Achriyat saat berlangsungnya sidang Paripurna di DPRK Aceh Selatan dengan agenda pengesahan rencana pembangunan Terminal Tipe C Labuhanhaji dengan syarat harus adanya pembebasan tanah terlebih dahulu,” kata Sulaiman di hadapan majelis hakim.

Sulaiman juga mengklarifikasi pernyataannya dalam BAP yang sebelumnya menyebutkan menerima perintah dari terdakwa Tio Achriyat untuk memberitahukan kepada masyarakat terkait rencana pembangunan terminal. Menurut Sulaiman, dirinya tidak pernah menerima perintah dari terdakwa Tio Achriyat untuk mengumumkan atau memberitahukan rencana pembangunan terminal Tipe C Labuhanhaji tersebut kepada masyarakat.

“Informasi terkait rencana pembangunan terminal saya sampaikan kepada masyarakat atas inisiatif saya sendiri karena saya selaku anggota dewan dari daerah pemilihan Labuhanhaji merasa memiliki tanggungjawab moril kepada masyarakat,” kata Sulaiman.

Sedangkan terkait informasi akan adanya rencana pembebasan tanah untuk pembangunan terminal, diakui Sulaiman diketahuinya dari Kepala Desa Padang Bakau bernama Adam Malik. Dan bahkan dia mengaku pernah diundang oleh Adam Malik di sebuah Mushalla Desa Padang Bakau untuk membicarakan hal itu supaya tidak adanya tumpang tindih harga. “Pertemuan tersebut turut dihadiri para pemilik tanah,” tambah Sulaiman.

Hal yang sama juga disampaikan saksi Sayed Rahmatillah. Menurut Sayed, keterangan dalam BAP yang menyebutkan dirinya pernah bertemu dengan terdakwa Tio Achriyat sama sekali tidak benar karena dirinya hanyalah orang yang diajak oleh Kepala Desa Padang Bakau, Adam Malik dan Kafrawi seorang terdakwa satu lagi dalam berkas perkara yang terpisah.

Sementara saksi Edward Noris menerangkan dalam persidangan bahwa dirinya tidak terlibat dalam tim sembilan pengadaan tanah dan dia sama sekali tidak tahu mekanisme kerja tim sembilan. Dia mengaku hanya terlibat saat melakukan sondir bersama ahli sondir yang hasilnya adalah tanah tersebut layak untuk dibangun terminal.

Selain itu, saksi juga pernah membuat Rencana Kerja (Renja) pada tahun 2009 yang pokok isinya adalah tentang rencana pembangunan Terminal Tipe C di Kecamatan Labuhanhaji yang diusulkan kepada pihak Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Provinsi Aceh melalui Pemkab Aceh Selatan.

“Tidak ada hal yang salah terkait permohonan pengadaan pembangunan fisik terminal yang salah satu syaratnya adalah pembebasan tanah terlebih dahulu,” tegas Edward Noris.

Sementara empat orang saksi lagi sebagai pemilik tanah yang berasal dari Desa Padang Bakau, masing-masing bernama Amsal Wadi, Agustiar Nur, Ahmad bin Dolasuman dan Muliadi, dua orang diantaranya mengaku tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengan terdakwa Tio Achriyat baik di lokasi rencana pembangunan terminal maupun di tempat lain.

Sementara orang lagi yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) mengaku mengenal terdakwa Tio Achriyat sebagai mantan Camat Labuhanhaji namun mereka tidak mengetahui apa hubungannya terdakwa dengan pembebasan tanah.[Hendri Z]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *