,

Sensasi Jangan Salah Persepsi

Oleh Ridha Yuadi

Sensasi melahirkan persepsi, jika persepsi tidak akurat, kita tak mungkin berkomunikasi dengan efektif.

Menurut Jalaluddin Rakhmat, dalam Psikologi Komunikasi, perbedaan sensasi dapat disebabkan oleh perbedaan pengalaman atau lingkungan budaya, di samping kapasitas alat indra yang berbeda. Contoh, jika sang guru mengucapkan “Fikri” tetapi Anda mendengar “Fitri”, berarti sensasi Anda keliru!

Sensasi akan mempengaruhi persepsi. Sensasi adalah tahap awal penerimaan informasi berupa pemahaman pesan. Singkat cerita; beda kapasitas alat indra maka menyebabkan perbedaan ketika antum membaca koran, mendengar musik atau saat ente menyeruput kopi musang alias kopi hasil simbiosis mutualisme yang bercita rasa tinggi itu.

Iya. sebagaimana kacamata menunjukkan berbagai ukuran, seperti itu pula alat indra yang lain. Oke! Sekarang letakkan hape dalam keadaan terbuka, kira-kira 44 cm di depan hidung anda. Anda melihat huruf-huruf yang kabur, bukan? Perlahan-lahan, dekatkan kembali handphone pada mata Anda. Sekarang huruf-hurufnya tampak jelas. Inilah sensasi. Lalu, apa yang disebut Persepsi?
Persepsi (perception) adalah proses lanjutan dari sensasi. Persepsi sering diartikan sebagai penglihatan atau cara seseorang melihat sesuatu. Dalam arti luas, Persepsi adalah pandangan atau pengertian, yakni bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.

Nah, ketika anda melihat huruf per huruf, lalu merangkainya dalam kalimat dan mulailah menangkap makna dari apa yang anda baca, maka terjadilah Persepsi. Dengan kata lain, persepsi adalah mengubah sensasi menjadi informasi.

Informasinya begini. Kemarin petang, saya mendapati seorang kawan SMA sedang melihat-lihat etalase toko. Lalu saya menyergapnya dari belakang, “Hemm, sudah lupa sama saya, ya!”.

Seketika, orang tersebut membalik. Saya terkejut! Ternyata ia bukanlah kawan saya melainkan orang yang belum pernah saya kenal seumur hidup saya. Ini namanya bukan kesalahan sensasi, tapi kekeliruan persepsi.

Persepsi digadang-gadang sebagai inti komunikasi, karena jika persepsi tidak akurat, kita tak mungkin berkomunikasi dengan efektif. Persepsi juga identik dalam memilah, mengelompokkan dan memberikan makna pada informasi yang diterima.

Misalnya: Lemari Es, Emas dan Surat Kabar. Sidirijo langsung memilih lemari es dan emas, sebab dalam “persepsinya” benda- benda tersebut masuk dalam satu kategori yang sama, yaitu barang mewah. Bagaimana dengan mahasiswa komunikasi? mereka tetap memilih “Surat Kabar”, karena Emas dan Kulkas bukanlah kelompok media massa. Nah, pengelompokan struktur ini erat pula kaitannya dengan Label, dan yang diberi label yang sama, cenderung dipersepsikan sama.

Dalam ilmu komunikasi, dalil kesamaan dan kedekatan ini sering dipakai oleh komunikator untuk meningkatkan kredibilitas. Ia sering menghubungkan diri atau mengakrabkan dirinya dengan orang-orang-orang yang ber-prestise tinggi. Terjadilah apa yang disebut “gilt by association” (cemerlang karena hubungan). Misal, orang menjadi terhormat karena duduk berdampingan dengan anggota parlemen atau bersalaman dengan Presiden.

Sebaliknya, kredibilitas bisa anjlok karena berdampingan dengan orang yang nilai kredibilitasnya rendah. Di sini terjadi apa yang disebut “guilt by association” atau bersalah karena hubungan. Jadi, kedekatan dalam ruang dan waktu menyebabkan stimuli ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama.

Sering terjadi hal-hal yang berdekatan juga dianggap berkaitan atau punya hubungan sebab dan akibat. Bila setelah terjadi kematian seorang tokoh, hujan lebat mengguyur Serambi Mekkah, kita pun cenderung menganggap atau menghubungkan hujan lebat itu, diakibatkan oleh matinya sang tokoh.

Dalam logika, kecenderungan ini dianggap sebagai salah satu kerancuan berpikir: Post hoc ergo proter hoc; sesudah itu, dengan demikian karena itu.

Persepsi, seperti juga sensasi, ditentukan oleh faktor personal dan situasional. Lalu bagaimana jika saya mengatakan: “Fantastic, anda luar biasa!” kemudian anda merespons pujian saya dengan berang, karena dikira saya mempermainkan anda? Berarti dirimu salah mempersepsikan pesan saya, bro. Khaak! [*]

Ridha Yuadi, Sekretaris Eksekutif SiPADE Institut

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *