,

Sekeping Inspirasi dari Tuna Netra

Seorang tuna netra di Tapaktuan hidup sukses dari usaha panti pijatnya. Bukan hanya mampu menyekolahkan keempat anaknya, tapi juga membeli tanah dan kebun pala untuk masa depan buah hatinya. Sebuah kisah sederhana tapi sangat inspiratif, bukan hanya bagi tuna netra tapi juga bagi orang yang normal.

Pria itu bernama Rusli. Ia lahir sebagai anak normal. Namun ketika berusia 3 tahun mengalami demam tinggi hingga step, kedua matanya jadi buta. Kini 41 tahun sudah ia mengarungi kehidupan. Baginya mata boleh gelap, tapi tangan harus tetap lihai.

Pria asal Pante Raja, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan ini, sejak tahun 2002 membuka panti pijat tuna netra mandiri di pasar baru depan Losmen Jambu, Kampung Hilir, Kota Tapaktuan. 14 tahun sudah ia menjalani profesinya sebagai tukang pijat profesional.

Dengan keahliannya itu, ia mampu menafkahi istri dan empat anaknya, meski dunianya gelap karena buta. Dalam menjalani profesinya di Panti Pijat Tuna Netra Idris Mandiri, ia dibantu oleh istrinya, Nurhayati, perempuan asal Gampong Gluk Aluya, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie yang dinikahinya pada tahun 1997.

Sabtu, 22 Oktober 2016 disela-sela kesibukannya memijit pelanggan. Ia menceritakan kisah hidupnya. Keahlian menjadi tukang kusuk professional bukan didapatkannya secara otodidak ataupun secara turun-temuran dari orang tuanya. Melainkan hasil pelatihan secara khusus di Panti Sosial Rehabilitasi Bina Netra Meutuah Mata (PSRBNM), Jabal Ghafur, Kabupaten Pidie.
 
Dia dikirim ke lembaga pendidikan itu saat masih berumur 17 tahun setelah direkrut oleh Dinas Sosial Aceh Selatan pada tahun 1993 melalui program Kementerian Sosial Republik Indonesia.

“Sebenarnya, satu angkatan dengan saya saat itu ada tujuh orang tuna netra lagi asal Aceh Selatan. Tapi sayang, dari delapan orang kami dari Aceh Selatan yang dikirim ke Pidie hanya dua orang yang berhasil memiliki keahlian khusus, yakni saya dan seorang perempuan asal Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah,” ungkapnya.
 
Menurutnya, selama tiga tahun menempuh pendidikan di Jabal Ghafur hingga tamat tahun 1996, selain diajari bidang keahlian kusuk, teknik peternakan hewan dan pertanian dengan metode belajar teori dan praktek langsung mereka juga berkesempatan menempuh pendidikan luar sekolah hingga mendapatkan ijazah persamaan tingkat SD dan SMP.
 
“Dari hasil mengikuti pendidikan itu, saya berhasil mendapatkan sertifkat sebagai tukang kusuk professional dan ijazah persamaan tingkat SD dan SMP. Bagi saya pribadi program yang digagas oleh Kementerian Sosial tersebut sangat bermakna dan telah merubah hidup saya menjadi orang mandiri meskipun mengalami cacat panca indra. Apalagi akibat cacat tersebut telah mengakibatkan saya tidak bisa mengenyam pendidikan formal sejak kecil, tapi Alhamdulilah saat ini selain sudah memiliki keahlian khusus saya juga telah memiliki ijazah SD dan SMP,” jelasnya.
 
Anak dari pasangan almarhum Cut Bit dan Mintijah ini melanjutkan, cacat fisik kedua matanya terjadi pada usia 3 tahun yakni pada tahun 1979. Saat ia demam tinggi hingga mengalami step. Karena hiduo dalam keluarga miskin, pengobatan terhadap dirinya tidak maksimal. Ia hanya diobati dengan obat tradisional, hingga berdampak pada putusnya saraf mata yang mengakibatkan buta permanen.

“Jika ada anak bayi atau balita yang mengalami demam tinggi apalagi sampai step, sama minta kepada para orang tua segera bawa anaknya tersebut ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat supaya segera mendapat pertolongan medis. Semoga sejarah kelam yang pernah saya alami tidak menimpa anak-anak sekarang ini,” pesannya.

Rusli mengaku sangat bahagia, keempat anaknya lahir normal. Dan dari hasil usaha kusuknya itu, ia mampu menyekolahkan keempat buah hatinya itu. Putra pertamanya
Ismihadis (18) sudah tamat SMA, Zikra Ananda (16) kelas 3 SMP, Khairul Rizaqi (11) kelas V SD dan Alif Munawar (9) kelas II SD.

Tidak hanya mampu menyekolahkan anaknya saja, dari hasil usaha panti pijatnya, Rusli juga mampu membeli sepetak tanah di Desa Lhok Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan. Saat ini diatas tanah yang dibeli dari hasil keringatnya itu, telah berdiri satu unit rumah tipe 36 bantuan pemerintah melalui program bantuan rumah kaum dhuafa tahun 2010 lalu.

Bukan itu saja, Rusli juga telah mampu membeli kebun pala di Desa Lhok Bengkuang untuk masa depan anak-anaknya. Bagi Rusli, capaian yang telah didapatnya tersebut belumlah cukup. Sebab demi menghindari melakoni pekerjaan sebagai tukang peminta-minta dimasa hari tua nanti, mulai saat ini dia sudah mulai memikirkan serta mempersiapkan untuk mengembangkan bidang usaha selain sebagai tukang pijat.
 
“Saya tidak ingin menjadi peminta-minta seperti kebanyakan tuna netra. Saya sudah memikirkan ingin mendirikan kios kecil untuk berjualan bahan kelontong di Kota Tapaktuan,” tegasnya. Sebuah kisah yang sangat inspiratif bukan? [Hendri Z]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *