Sejarah Sekolah Ma’had al Mualimin Bireuen

0
141

Pada 27 Desember 1939 Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) mendirikan Ma’had al-Mualimin atau Normal Islam Institut (NII) sekolah pengkaderan guru untuk persiapan pembukaan sekolah di seluruh Aceh.

Guru tersebut diharapkan bukan saja dapat pandai mengaji namun juga harus mempunyai pengetahuan ilmu umum lainnya sehingga dapat disalurkan kepada murid. Sekolah ini juga bermaksud untuk mempersatukan sistem pengajaran pada madrasah-madrasah di sekolah-sekolah di Aceh.

Hal ini sebagaimana ditulis Muhammad Yunus dalam buku Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Mutiara, Jakarta pada tahun 1979. Muhammad Yunus menjelaskan, untuk sistem pengajaran NII berpedoman pada sistem pengajaran pada Normal Islam PGAI, Padang, Sumatera Barat, dengan masa belajar 4 tahun.

Tenaga pengajar utama di NII Bireuen adalah Tgk Muhammad Nur El IBrahimy alumni Universitas Al Azhar, Cairo. Ia langsung bertindak sebagai Direktur dan pengajar ilmu-ilmu agama, bahasa Arab dan ilmu pendididk.

Pengajar utama lainnya adalah M Muhammad tamatan Sekolah Tinggi Hukum (RHS) di Jakarta yang mengajar mata pelajaran umum, bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Hal ini juga ditulis oleh Ismuha dalam majalah Sinar Darussalam edisi 14 dan 15 terbitan Yayasan Pembina Darussalam Juni dan Juli 1969 dalam tulisan Lahirnya Persatuan Ulama Seluruh Aceh, 30 Tahun yang lalu.

Pada tahun 1940, PUSA membeli gedung Javasche Bank cabang Bireuen di simpang empat arah ke Takengon. Kurikulum yang di ajarkan antara lain di bidang: Bahasa Arab, Agama, Ilmu pendidikan, Pengetahuan Umum dan bahasa. Dengan berdirinya NII ini maka pelajar-pelajar Aceh yang ingin menuntut ilmu dapat mempelajarinya di Aceh tanpa harus keluar daerah.

Perhatian masyarakat Aceh terhadap PUSA yang berusaha unutk memajukan Aceh cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari suksesnya Kongres Pertama PUSA di Kuta Asan pada tanggal 20-24 April 1940. Dalam program kerja kongresnya PUSA menggunakan dasar agam Islam dalam memperbaiki kondisi masyarakat . Dengan demikian jelaslah bahwa PUSA akan berjuang di bidang sosial dan ekonomi berdasarkan asas Islam.

PUSA mengharapkan terjalinnya kerja sama dengan berbagai golongan masyarakat untuk bisa membawa Aceh kearah yang lebih baik lagi. Pada Kongres pertama tersebut PUSA dan berbagai undangan yang turut serta hadir mengadakan berbagai jenis lomba yang bersifat membangun untuk menyemarakkan acara.

Adapun kongres dari PUSA yang pertama ialah: Membentuk Pemuda PUSA sebagai tenaga baru dan calon pengganti ulama, Membentuk Majelis Tanfiziyah Syariah, Membentuk Muslimah PUSA, Menyepakati diadakannya suatu perencanaan pelajaran untuk seluruh sekolah, Membuat peraturan-peraturan PUSA, Pengurus Besar PUSA bergerak pada seluruh cabang untuk memantapkan ide, Pengurus besar harus mengamati perang dunia II, Membentuk bidang penyiaran dan menerbitkan majalah.[Iskandar Norman]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here