,

Santri Darusy Syuhada Hilang Diterkam Buaya

TEROPONGACEH.COM | TAPAKTUAN – Noval Firmansyah (12) santri pesantren Darusy Syuhada, Desa Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan, Aceh Selatan, hilang setelah diterkam buaya di Sungai Lembang, Jumat, 9 September 2016 sekitar pukul 08.30 WIB. Sungai tersebut berada dalam Wilayah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Santri Darusy Syuhada memang sering mandi di sungai yang letaknya di belakang pesantren itu. Dari belasan santri yang mandi, korban bersama empat orang temannya Ismail, M Tanwir, M Akin dan M Bastian diketahui yang paling terakhir naik ke daratan. Saat mereka hendak menepi ke pinggir sungai dengan kandungan air yang keruh itulah, secara tiba-tiba muncul buaya ganas yang langsung menerkam kaki Noval Firmansyah.

Saat kaki Siswa Kelas 1 MTs Swasta Pesantren Darusy-Syuhada ini ditarik oleh buaya dari dalam air, korban sempat meminta tolong pada rekannya bernama Ismail yang berada tidak jauh dari korban. Ismail sempat memegang dan menarik tangan korban, namun karena tarikan dari buaya lebih kuat akhirnya korban lepas dari tangan Ismail. Setelah itu tubuh korban langsung tenggelam dalam sungai.

Ismail bersama belasan teman-temannya yang lain langsung berlarian sembari berteriak histeris meminta tolong, sehingga mengundang perhatian warga desa setempat yang langsung berkumpul di pinggir sungai. Tak lama setelah itu, buaya ganas tersebut sempat menampakkan diri dengan berputar-putar di dalam sungai sembari mengangkat tubuh korban ke atas air.

“Saat diperlihatkan kepada warga, nampak tubuh korban sudah digigit di bagian pinggang oleh Buaya, namun yang nampak ke atas permukaan air adalah bagian kaki sedangkan bagian dada hingga kepala tidak nampak,” kata Martunis, mantan Sekretaris Desa Pasie Lembang yang dijumpai dilokasi.

Bahkan, sambung Martunis, berselang sekitar dua hingga tiga jam setelah kejadian naas itu, tiga ekor buaya kembali menampakkan dirinya kepada warga di bawah jembatan Lembang yang berjarak sekitar dua kilometer dari tempat kejadian.

“Kebiasaannya memang seperti itu, setelah menerkam manusia buaya kembali menampakkan dirinya setelah tubuh korban yang dimangsanya di simpan pada suatu tempat tersembunyi di bawah sungai. Itu dilakukan untuk menunggu tubuh manusia yang dimangsanya membusuk baru setelah itu dimakan,” jelas Martunis.

Tim gabungan TNI/Polri, BPBD dan Satgas SAR dengan dibantu puluhan masyarakat terus melakukan pencarian korban dengan menggunakan beberapa unit rubber boat milik BPBD dan Satgas SAR. Pihak aparat desa setempat juga telah mendatangkan seorang paranormal (pawang buaya) dari Desa Kampung Tinggi, Kecamatan Kluet Utara.

Bahkan Kapolres Aceh Selatan AKBP Achmadi SIK, bersama Wakil Bupati Kamarsyah dan Kepala BPBD Erwiandi, langsung memimpin proses pencarian korban. Para pejabat tersebut dengan didampingi beberapa orang petugas kepolisian bersenjata laras panjang terlihat langsung menaiki rubber boat untuk melakukan penyisiran di sepanjang sungai Lembang.

Martunis menambahkan, pihaknya mengaku kaget atas kejadian tersebut sebab meskipun pihaknya telah jauh-jauh hari mengetahui bahwa di dalam sungai dengan kedalaman sekitar 5 meter dan lebar 30 meter itu ada buaya. Sungai yang berhulu di Gunung Pucuk Lembang atau di kaki Gunung Leuser dengan kandungan airnya cukup keruh serta permukaan airnya cukup tenang.

Di perkirakan ada puluhan buaya yang mendiami sungai Lembang, namun keberadaan buaya-buaya itu sudah cukup lama tidak pernah lagi memangsa manusia, setelah kejadian serupa pernah terjadi pada tahun 2006 lalu yang menerkam seorang ibu rumah tangga bernama Syarifah Khairu saat sedang mencuci pakaian di pinggir sungai.

“Baru kali ini kembali memakan korban jiwa setelah berselang sekitar sepuluh tahun lalu. Sebab selama ini tidak hanya para santri di pesantren itu saja yang bebas mandi-mandi di sungai tersebut, tapi masyarakat luas termasuk saya sendiri juga mencari ikan secara bebas baik pada siang maupun malam hari. Kami sering menjumpai buaya tapi tidak pernah mengganggu kami,” ungkap Martunis.

Namun saat pihaknya menjumpai buaya di dalam sungai keberadaan buaya – buaya tersebut tidak pernah berkerombolan melainkan antara satu dengan yang lainnya terpisah-pisah dengan jarak mencapai puluhan meter.

“Menurut keterangan orang tua di sini, jika keberadaan buaya tersebut sudah bergerombolan maka biasanya ganas dan pasti ada manusia yang menjadi korban. Namun jika keberadaan mereka terpisah-pisah biasanya tidak sampai mengganas,” jelasnya.

Berdasarkan keyakinan yang telah difahami secara turun temurun oleh warga setempat, kata Martunis, ada dua kemungkinan yang menyebabkan buaya tersebut menerkam manusia, pertama karena memang disebabkan buaya – buaya itu benar-benar sudah lapar, kedua warga yang menjadi korban tersebut telah melakukan pelanggaran hukum adat.

Sebab belajar dari pengalaman yang terjadi tahun 2006 lalu, korban terkaman Buaya yang sedang mencuci pakaian di pinggir sungai membanting-banting pakaian sehingga mengeluarkan suara. “Ada beberapa tindakan yang tidak boleh dilakukan oleh warga saat berada di sungai dan itu telah dituangkan ke dalam peraturan (qanun) gampong di sini,” tegasnya.[Hendri Z]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *