,

Sakit Politik

Oleh Yahya Alinsa

Sakit politik belum ada obatnya, teguk obat apa saja tak akan sembuh. Kekalahan dalam pertarungan politik memang menyakitkan bagi mereka yang tidak mampu move-on.

Dalam tahun 2018 nanti, tiga daerah tingkat dua di provinsi Aceh akan menggelar pemilhan kepala daerah (Pilkada) serentak, ketiga daerah itu adalah Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Pidie Jaya, dan Kota Subulussalam. Berbagai nama kandidat sudah bermunculan.

Yahya Alinsa

Namun, langkah-langkah penting harus dilakukan agar sakit politik itu tidak muncul di akhir pertarungan. Para kandidat harus memperhatikan kekuatan politik lawan, berapa personil tim sukses yang perlu diturunkan, kemudian bagaimana dengan logistiknya, karena bagaimana pun politik juga tidak jauh-jauh amat dari yang namanya uang.

Selanjutnya juga harus diperhatikan medan pertarungannya bagaimana, alat apa yang perlu digunakan. Kemudian juga harus dipikirkan langkah-langkah strategis sesuai dengan kondisi saat pertarungan itu digelar. Karena bagaimana pun orang yang punya strategi lah yang akan berhasil, bukan orang pintar. Dalam politik bisa saja terjadi orang pintar akan dikalahkan oleh orang bodoh yang punya strategi yang mumpuni.

Jadi, dalam politik, sebelum pemilihan tak perlu mengandalkan, saya pemegang ijazah master, doktor dan lain sebagainya. Ijazah master dan doktor tersebut digunakan setelah terpilih nanti. Sementara saat menuju panggung pemilihan yang dibutuhkan adalah strategi, modal (termasuk uang), serta lobi-lobi politik dengan pihak-pihak yang potensial membantu pemenangan.

Jangan sampai jadi partisipan dalam persta demokrasi hanya karena ikut-ikutan, itu cari sakit dalam politik namanya, uang dan tenaga habis, usaha sia-sia. Orang Aceh menyebutnya tangkulok peucah, kupiyah hanco, arang habeh busoe han peuja, sia-sia belaka.

Sekali lagi, jangan karena orang lain maju ke arena pemilihan, kita juga maju ikut-ikutan. Pikirkan secara matang setiap langkah yang diambil, karena semua perbuatan/pekerjaan ada resiknya. Pubuet beurangkapeu jeut nyang bek gadoh ingat, begitu pesan orang bijak.

Orang berhasil bukan karena pintar, tapi karena punya strategi, sehebat apa pun orang pintar kalau tidak punya strategi, bisa dikalahkan oleh orang bodoh yang punya strategi.

Lebih dari itu, pilkada sudah punya rambu-rambu dan aturan hukum yang jelas. Pelajari rambunya, karena kalau keluar dari rambu-rambu tersebut akan berbenturan dengan hukum. Aturan main harus dikedepankan. Aturan hukum itu juga bagian dari pengamanan agar berjalannya setiap tahapan pilkada.

Makanya, jangan ikut-ikutan maju dalam kancah pemilihan, jika tidak punya modal, strategi, dan pemahaman aturan yang memadai, kalau tidak maka yang akan dituai nantinya hanyanlah sakit politik semata. Wallauhualam.

Yahya Alinsa, advocat di kantor hukum Yahya Alinsa Law Firm and Asociate, Banda Aceh.

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *