1.5 C
Alba Iulia
Wednesday, December 11, 2019

Riwayat Peutuha Pangkai dan Volks Crediet Bank di Aceh

Must Read

Polisi Musnahkan Satu Ton Lebih Ganja Sitaan

BLANGKEJEREN - Satu ton ganja dimusnahkan dengan cara dibakar di halaman Mapolres Gayo Lues. Barang haram tersebut merupakan hasil...

Setelah Dua Bulan Dipenjara, Polisi Serahkan Mantan Kepala Desa Blangkucir ke Jaksa

BLANGKEJEREN - Kasus dugaan korupsi Dana Desa yang dilakukan Kepala desa Blangkuncir, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues yang merugikan...

H Firmandez Masuk Pengurus Ikatan Alumni Lemhanas

JAKARTA - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) asal Aceh, H Firmandez dipercayakan menjadi pengurus Ikatan Alumni Lembaga...
Avatar
Iskandar Normanhttp://teropongaceh.com
Pemimpin Redaksi http://teropongaceh.com. Pernah bekerja di Tabloid Modus Aceh, Harian Aceh Independen, Harian Aceh dan Pikiran Merdeka. Menulis sejumlah buku seperti Nuga Lantui, Legenda Aceh dan Hadih Maja

Untuk menopang perekonomian, Pemerintah Kolonial Belanda membuka perkebunan dan memberi modal kepada rakyat dan uleebalang yang tidak melawan Belanda. Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Volks Crediet Bank yakni bank pinjaman rakyat.

Di Aceh Besar bank yang didirikan Belanda dinamai de Groot Atjehsche Afdeeling Bank. Rakyat yang menginginkan bantuan kredit untuk membuka kembali usaha atau menambah modal bisa mendapatkan di bank tersebut tanpa dikenakan bunga.

Salah satu nasabah bank ini adalah Moehammad Djoened Yoesoef dari perusahaan NV Indonesia Compani Limited (Indocolim). Pria kelahiran Kutaraja 7 April 1917 ini bergerak di bidang pertanian dan perdagangan.

Pada akhir tahun 1925, ia juga mulai menjadi Peutuha Pangkai (penyandang modal) tanpa bunga kepada petani yang membutuhkan. Ia membuka usaha perkebunan karet di Idi dan membina petani di sana. Masyarakat lebih senang menerima pinjaman tanpa bunga darinya dari pada meminjam sendiri dari bank Belanda. Hal itu dikarenakan masih adanya sentiment anti Belanda.

Bank Belanda di Aceh besar tersebut berkembang pesat. Sampai tahun 1916 telah didirikan lima bank kecil di Aceh Besar. Sementara di Aceh Utara dan Aceh Timur sejak tahun 1913 juga didirikan masing-masing satu bank. Dalam tahun 1918 jumlah bank yang didirikan Belanda di Aceh meningkat menjadi 29 bank.

De Javance Bank (DJB) pertama kali didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Batavia pada tanggal 24 Januari 1828. Bank ini awalnya merupakan bank sirkulasi yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang. Selain itu juga banyak berhubungan dengan kegiatan perdagangan hasil bumi di berbagai penjuru Hindia Belanda.

De Javance Bank didirikan menjelang keberangkatan Komisaris Besar Hindia Belanda Mr CT Elout ke Hindia Belanda. Tujuan lain pendirian bank ini adalah untuk melakukan penertiban keuangan dan pengaturan sistem pembayaran dalam bentuk lembaga bank. Apalagi saat itu ada desakan dari pengusaha di Batavia agar pemerintah Belanda mendirikan bank untuk kelancaran kepentingan bisnis mereka.

Pendirian Javance Bank baru benar-benar terwujud ketika Raja Willem I menerbitkan surat kuasa kepada Komisaris Jenderal Hindia Belanda pada 9 Desember 1826. Surat tersebut memberikan wewenang kepada pemerintah Hindia Belanda untuk membentuk suatu bank berdasarkan wewenang khusus berjangka waktu (oktroi).

Setelah adanya surat kuasa tersebut, Pemerintah Hindia Belanda mulai mempersiapkan pendirian De Javance Bank. Tanggal 11 Desember 1827 Komisaris Jenderal Hindia Belanda Leonard Pierre Joseph Burggraaf Du Bus de Gigignies mengeluarkan Surat Keputusan No.28 tentang oktroi dan ketentuan-ketentuan mengenai pendirian De Javance Bank. Baru pada 24 Januari 1828 dibuat akte pendirian De Javance Bank melalui Surat Keputusan Komisaris Jenderal Hindia Belanda No.25. Sebagai Presiden De Javance Bank diangkat Mr C de Haan dan CJ Smulders sebagai sekretaris.

Belanda juga membangun Javance Bank di Kutaraja, yakni kota Banda Aceh Sekarang. Bank dengan nama De Javance Bank tersebut dibangun di Jalan Kedah Singel, kemudian berubah menjadi Jalan Nasional, sekarang kita kenal sebagai Jalan Cut Mutia. Gedung Javance Bank itu hingga kini dipakai sebagai kantor Bank Indonesia (BI) Cabang Banda Aceh.[Iskandar Norman]

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Polisi Musnahkan Satu Ton Lebih Ganja Sitaan

BLANGKEJEREN - Satu ton ganja dimusnahkan dengan cara dibakar di halaman Mapolres Gayo Lues. Barang haram tersebut merupakan hasil...

Setelah Dua Bulan Dipenjara, Polisi Serahkan Mantan Kepala Desa Blangkucir ke Jaksa

BLANGKEJEREN - Kasus dugaan korupsi Dana Desa yang dilakukan Kepala desa Blangkuncir, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues yang merugikan keuangan Negara Rp 258.656.349 sudah...

H Firmandez Masuk Pengurus Ikatan Alumni Lemhanas

JAKARTA - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) asal Aceh, H Firmandez dipercayakan menjadi pengurus Ikatan Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IKAL Lemhanas). Politisi...

GTA Terobos Jalur Ekstrem Lesten-Pulo Tiga

BLANGKEJEREN - Tim Blutax's Jimny off Road 4x4 Gayo Lues bersama tim Gayo Trail Adventure (GTA) berhasil menerobos jalur ekstrem di lintasan...

Menikmati Pesona Lhok Gob di Belantara Pidie Jaya

Pesona sungai Lhok Gob yang membelah belantara Pidie Jaya di Gampong Kumba, Bandar Dua, sungguh sangat memanjakan mata. Wisata alam yang asri dan menenangkan...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -