,

Remaja Pemain Debus Tewas Saat Atraksi Menusuk Pisau

BAKONGAN – Pertunjukan persahabatan khalifah debus antara grup Rapai Desa Padang Beurahan dan grup Rapai Desa Ujong Pulo, Kecamatan Bakongan berujung tragis. Seorang remaja pemain debus tewas setelah pisau menembus kulitnya.

Atraksi debus itu berlangsung di Dusun Lhok Jamin, Desa Sawah Tingkeum, Bakongan Timur, Kamis malam, 5 Januari 2017. Remaja naas itu adalah Muhammad Yunan (16) dari khalifah Padang Beurahan.

Pisau yang dimainkannya (boh daboh) yang ditusuk ke tubuh ternyata menembus paha korban sebelah kanan. Anehnya, pada saat kejadian yang berlangsung sekitar pukul 22.30 WIB tersebut, ayah korban yang merupakan khalifah grup rapai debus Desa Padang Beurahan bersama grup rapai debus Desa Ujong Pulo terus melanjutkan permainan hingga selesai larut malam.

Sementara korban yang masih tercatat sebagai pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bakongan tersebut, langsung dievakuasi oleh masyarakat setempat ke Puskesmas Bakongan Timur. Karena mengalami pendarahan hebat akhirnya korban di rujuk ke RSUD Yulidin Away, Tapaktuan.

Setelah sempat mendapat penanganan medis RSUD Yulidin Away Tapaktuan akhirnya korban meninggal dunia pada Jumat pagi, 6 Januari 2017 sekitar pukul 05.00 WIB.

Atraksi debus tersebut ditonton ratusan masyarakat itu, awalnya juga sempat menampilkan pendebus dari anak-anak Sekolah Dasar (SD), namun atraksi debus yang mereka peragakan dengan mengikuti irama dentuman rapai dan radat (syair rapai) yang dibawakan khalifah belangsung sukses tanpa ada pemain yang terluka.

Setelah itu, secara tiba-tiba naik Muhammad Yunan bersama seorang temannya dengan gaya seperti orang mabuk. Keduanya diketahui membawa pisau sendiri dari rumah yang diletakkan di pinggang bagian belakang tertutup baju.

Atraksi pertama yang diperagakan mereka berdua adalah mematahkan kawat behel, kemudian rantai besi dipukul-pukul ke kening. Kedua atraksi ini mereka lakukan dengan sukses.

Saat melakukan atraksi ketiga yakni menusuk-nusuk pisau ke paha mereka itulah naas menimpa korban Muhammad Yunan. Karena saat hentakan pertama berlangsung sukses tidak apa-apa, kemudian M Yunan menghentak pisau yang kedua kali di pahanya. Saat itulah terlihat M Yunan menghentikan atraksinya lalu merapat ke arah khalifah karena pisau sudah menembus pahanya.

Diduga insiden itu terjadi disebabkan karena saat pertama kali naik ke atas panggung Muhammad Yunan selain bergaya seperti orang mabuk juga tidak mengikuti irama dentuman rapai dan radat (syair rapai) yang di bawakan khalifah.

Selain itu, keputusan korban membawa alat peraga debus yakni pisau sendiri dari rumah tanpa terlebih dulu mendapat penawar dari khalifah dinilai merupakan keputusan sangat berbahaya karena bisa mencederai pemain debus itu sendiri. Karena biasanya hanya alat peraga atraksi debus yang dibawa atau sepengetahuan khalifah yang aman digunakan oleh pemain debus dalam atraksi maut serta penuh resiko itu.

“Kemungkinan satu lagi bisa saja disebabkan karena ada orang lain yang berada di sekitar lokasi acara itu yang memiliki ilmu lebih dari khalifah yang sedang memainkan rapai debus. Istilahnya menguji ilmu,” ujar sumber tersebut.

Kapolres Aceh Selatan AKBP Achmadi SIK yang dikonfirmasi melalui Kapolsek Bakongan Timur, Ipda Mirkam, Sabtu, 7 Januari 2017 membenarkan kejadian tersebut. Saat korban sudah berada di Puskesmas Bakongan Timur, kata Ipda Mirkam, pihaknya sempat berdebat dengan orang tua korban karena masih menganggap insiden itu hal biasa dan menyatakan jiwa korban tidak apa-apa masih yakin bisa diselamatkan.

“Orang tua korban yang seolah-olah seorang khalifah masih mengatakan tidak apa-apa karena menganggap sudah menghentikan pendarahan melalui doa yang ia miliki. Bahkan yang tragisnya lagi, pihak keluarga korban memberi air minum saat korban mengalami pendarahan hebat. Langkah saya mencegah keputusan itu tidak diindahkan. Padahal keputusan itu sangat berbahaya bagi nyawa korban yang sedang mengalami pendarahan,” ungkap Ipda Mirkam.

Hal itu terbukti, lanjut Mirkam, muka korban yang sudah terlihat mulai pucat dan lemas terpaksa harus di rujuk ke RSUD Yulidin Away Tapaktuan pada malam itu juga hingga akhirnya korban di ketahui meninggal dunia pada esokan harinya.

Kapolsek Bakongan Timur, Ipda Mirkam menegaskan bahwa jauh-jauh hari sebelumnya pihaknya telah mengingatkan bahkan melarang warga setempat memainkan atraksi rapai debus yang ditonton apalagi mengikutsertakan anak-anak yang masih dibawah umur.

Namun sayangnya, himbauan atau permintaan tersebut tidak pernah di indahkan karena beralasan acara rapai debus merupakan sudah menjadi tradisi secara turun temurun di daerah itu.

“Saat itu terbukti, saat kami tanyakan terkait persoalan ini kepada ayak korban yang merupakan seorang khalifah, dia menyatakan insiden yang merenggut nyawa anaknya tersebut merupakan hal biasa dalam sebuah permainan. Kematian korban merupakan sudah ajal keputusan tuhan menjemputnya. Karena ternyata korban sudah terbiasa tertusuk pisau karena di paha sebelah kirinya saja sudah ada dua lobang yang tertusuk pisau sebelumnya namun nyawa korban saat itu masih selamat,” kata Ipda Mirkam mengutip keterangan ayah korban.

Pihak kepolisian tidak bisa melakukan pengusutan terkait kasus ini karena tidak ada pihak yang merasa dirugikan, meski sudah ada korban yang meninggal.[Hendri Z]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

One Ping

  1. Pingback:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *