Ratu Zakiatuddin Menolak Inggris Membangun Koloni di Aceh

0
1060

Ratu Zakiatuddin merupakan ratu ketiga yang memeritah di Kerajaan Aceh, menjabat selama sepuluh tahun, sejak 1678 hingga 1688 Masehi. Ia dengan tegas menolak keinginan Inggris membangun benteng dan koloni di Aceh.

Alasannya, Kerajaan Aceh sanggup memberi keamanan kepada para pedagang internasional di berbagai pelabuhan di Aceh, tanpa campur tangan bangsa asing. Sikap yang sebaliknya ditunjukan pada utusan dari Mekkah, Ia memberikan sejumlah hadiah kepada delegasi dari Arab.

Pada masa Ratu Zakiatuddin ini juga Kerajaan Aceh mengirim banyak sumbangan untuk fakir miskin di Mekkah. Ini pula yang membuat Aceh kemudian dikeal sebagai Serambi Mekkah.

Dalam buku Prominent Women In The Glimpse of History dijelaskan, pada tahun 1684, diplomat Kerajaan Inggris datang ke Aceh menjumpai Ratu Zakiatuddin, mereka meminta agar diizinkan mendirikan benteng dan kantor dagang di wilayah Kerajaan Aceh untuk pengamanan kapal dagang Inggris di kawasan selat Malaka.

Sejarawan Aceh Muhammad Gade Ismail menjelaskan, Ratu Zakiatuddin mencium aroma lain dari maksud diplomasi Inggris tersebut. Baginya, jika negara asing mendirikan benteng pertahanan di wilayah Aceh, tak tertutup kemungkinan mereka akan menacapkan kekuasaannya dan ujung-ujungnya akan menjajah Aceh. Karena masa itu upaya penjajahan suatu wilayah selalu diawali dengan pembangunan benteng dan koloni bangsa asing di daerah tersebut.

Kepada utusan Kerajaan Inggris tersebut Ratu Zakiatuddin dengan tegas mengatakan, dirinya sanggup memberi jaminan kemanan dan perlindungan bagi maskapai dagang mana saja yang berdagang dengan Kerajaan Aceh.

Sementara itu sejarawan Aceh lainnya, Muhammad Said dalam buku Atjeh Sepanjang Abad menjelaskan, pada masa pemerintahan Ratu Zakiatuddin, juga datang ke Aceh satu rombongan utusan dari Mekkah. Rombongan yang dipimpin oleh El Hajj Yusuf el Qadri itu diutus oleh Raja Syarif Barakat.

Ratu Zakiatuddin menerima utusan tersebut dengan upacara besar. El Hajj menyerahkan bingkisan dari Raja Syarif Barakat untuk Kerajaan Aceh. Rati Zakiatuddin menerima bingkisan tersebut. Utusan dari Mekkah itu diminta untuk tinggal di Aceh beberapa saat, selama Ratu Zakiatuddin mempersiapkan hadiah balasan untuk Raja Syarif Barakat.

Ketika rombongan El Hajj meninggalkan Aceh untuk kembali ke Mekkah, Ratu Zakiatuddin menyerahkan bingkisan hadiah berupa sejumlah uang sebagai derma untuk fakir miskin di Mekkah, sepasang terompah emas, kayu alu, kapur barus, minyak kasturi, dan perhiasan dari emas murni.

Tentang hadiah dari Aceh untuk Mekkah ini juga ditulis oleh Sutan Iljas Pemena dalam buku Rencong Aceh di Tangan Wanita, Zaman Pemerintahan Raja-Raja Puteri di Aceh. dalam buku yang diterbitkan pada tahun 1959 ini dijelaskan, Penguasa Mekkah Raja Syarif Barakat sangat terkesan dengan hadiah dari Kerajaan Aceh tersebut, apa lagi ketika El Hajj menjelaskan kepadanya tentang syariat Islam yang berjalan dengan baik di Kerajaan Aceh.

Maka sejak itu hubungan Aceh dengan Mekkah semakin diperkuat, banyak orang Aceh yang memperdalam ilmu agama ke Mekkah dan kembali ke Aceh menjadi ulama-ulama besar. Para syarif dari Mekkah juga mendapat tempat dalam pemerintahan Kerajaan Aceh.[Iskandar Norman]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here