Ratu Nurilah Penguasa Pasai Hingga Kedah Malaysia

0
391

Tak jauh dari ladang gas Arun, di Desa Minye Tujoh, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, bersemayam seorang ratu, di pusaranya terpahat nama Malikah Nur Ilah (Nurilah). Ia mangkat pada tahun 1380.

Nurilah tidak saja menjadi ratu di Pasai, tapi juga Kedah yang terletak di seberang Selat Malaka, di pantai barat semenanjung tanah Melayu. Jejaknya jelas terpahat pada dua batun nisan yang terpahat huruf Arab dan Jawi kuno.

Banyak sejarawan yang sudah meneliti nukilan informasi yang terpahat di nisan sang ratu, diantaranya: Prof Dr Hoesein Djajadininggrat, kemudian Dr Othman Yatim pakar arkeologi Islam Malaysia bersama Abdul Halim Nasir.

Othman Yatim dan Abdul Halim Nasir berpendapat, berdasarkan inskripsi yang terpahat pada nisannya, Ratu Nurilah wafat pada Jumat, 14 Zulhijjah tahun 781 Hijriah. Inskipsi nisan itu juga sudah diteliti oleh Stutterheim dan dimuat dalam Acta Orientalita, Leiden, tahun 1936.

Inskipsi pada nisan Ratu Nurilah berdasarkan terjemahan Dr C Hooykaas bertuliskan,
“After the hijrah of the Prophet the chosen One she who departed, seven hundred eighty and one year, on Dzulhijjah, the fourteenth, Friday, was the Quen of the Faith Varda Rahmatallah, from the house Bharubha, which has rights on Kadah and Pase, having sprouts…all the world. My God, O my lord, of the Universe, place our fist Lord in heaven.”

Terjemahan ke bahasa Indonesia kurang lebih, seperti di bawah ini.
“Setelah hijrah Nabi, kekasih yang telah wafat, tujuh ratus delapan puluh satu tahun, bulan Zulhijah, 14, hari Jumat, Ratu iman Werda rahmat Allah bagi Baginda, dari suku Barubasa [di Gujarat], mempunyai ha katas Kedah dan Pasai, menaruk di laut dan di darat semesta, ya Allah, ya Tuhan semesta, taruhlah Baginda dalam surga Tuhan.”

Inskripsi yang terpahat pada nisan Ratu Nurilah ini seakan mensahihkan bahwa, hubungan pertalian sejarah dan budaya antara Pasai di Aceh dengan Kedah di Malaysia sudah terjalin sejak lama.

Sejarawan lainnya, Prof Dr T Ibrahim Alfian menjelaskan, Kerajaan Pasai juga memiliki pertalian dengan Kerajaan Majapahit di Jawa. Ia mengutip keterangan P De Roo de la Faille, dalam tulisannya “Bij de Terreinschets van de Heilige Begraafplaats Goenoeng Djati’’, 1920, tentang adanya koloni orang-orang Islam di Gresik pada masa itu yang dibawa dari Pasai dan menyebarkan agama Islam di sana.

Ibrahim Alfian melanjutkan, nama Pasai juga disebutkan dalam Jawa, Tapel Adam, yang menceritakan tentang para pendakwah Islam pertama dari Pasai yang datang ke Majapahit, diantaranya Syaikh Jumadilkubra keturunan Zainul Abidin, kemudian putra Jumadilkubra yang tertua dikenal sebagai Maulana Ishak. Dalam naskah itu mereka disebut “wontening pase negeri, anyelammaken taiya, manjing Islam Nate Pase’’, kemudian putera kedua Jumadilkubra yang bernama Ibrahim Asmara, dalam naskah itu disebut sebagai “lumampah dateng Cempa”

Islamisasi Majapahit oleh para pendakwah dari Pasai juga diceritaka dalam Hikayat Banjar. Hikayat yang menceritakan tentang pertalian Pasai dengan Majapahit ini, pernah diteliti oleh Dr JJ Ras pada tahun 1968. Ia malah menulis desertasi tentang itu dan mempertahankannya di Rijksuniversiteit Leiden.

Salah satu kutipan dalam Hikayat Banjar terkait hal tersebut adalah, “Katakan arah Bungsu, barang siapa handak masuk Islam itu terima masukkan Islam itu. Jangankan desa itu, maski orang dalam nageri Majapahit ini, namun ia hendak masuk Islam itu, masukkan.”[Iskandar Norman]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here