,

Puluhan Kerbau Mati Mendadak di Aceh Selatan

TEROPONGACEH.COM | TAPAKTUAN – Beberapa hari terakhir, puluhan kerbau mati mendadak di Pasie Raja, Aceh Selatan. Ketersediaan daging untuk meugang hari raya idul adha 1437 jadi terancam. Kerbau-kerbau tersebut mati akibat penyakit ngorok dari virus septicaemia epizootica.

Anggota Komisi B DPRK Aceh Selatan, Hadi Surya meminta kepada Dinas Pertanian dan Peternakan untuk mengatasi hal tersebut, serta berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop) untuk bisa menjamin ketersediaan daging meugang.

“Kami menilai telah tergolong kasus besar yang harus mendapat perhatian secara serius. Sebab jika terlambat ditangani dampak yang akan ditimbulkan akan cukup besar yakni disamping akan menular ke kerbau yang lain juga mengancam ketersediaan daging untuk kebutuhan masyarakat,” jelasnya, Kamis, 1 September 2016.

Hadi surya juga mengkritik kebijakan yang diambil Kadis Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan, Yulizar, yang memerintahkan petugas kesehatan hewan menyuntikkan obat-obatan terhadap ratusan kerbau milik masyarakat setempat dalam radius 2 hingga 3 kilometer dari lokasi temuan kasus pertama, setelah temuan kasus kerbau mati yang mencapai puluhan ekor mencuat ke permukaan.

“Kebijakan itu jelas-jelas sudah terlambat. Seharusnya langkah penyuntikan vaksin atau imunisasi dilakukan jauh-jauh hari sebelum penyakit ngorok itu terjangkit dan itupun harus dilakukan secara berkala atau rutin,” tegas Hadi Surya.

Camat Pasie Raja, Said Ali yang dihubungi dari Tapaktuan, Kamis, 1 September 2016 menjelaskan, dari beberapa desa sentra peternakan kerbau di Kecamatan Pasie Raja, di Desa Teupin Gajah ditemukan kasus kerbau mati sebanyak 31 ekor, di Desa Pasie Rasian sebanyak 17 ekor serta belasan ekor lagi di Desa Seunebok.

Sedangkan di Desa Ladang Tuha yang sebelumnya diketahui juga sempat terjangkit penyakit, cepat mendapat penanganan dari petugas kesehatan hewan Dinas Pertanian dan Peternakan sehingga bisa menyelamatkan kerbau milik masyarakat setempat dari kematian.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan, Muhammad membantah tudingan yang menyebutkan ada temuan kasus Kerbau mati mencapai 50 ekor lebih di Kecamatan Pasie Raja sejak beberapa pekan terakhir.

“Tudingan itu keliru sebab tidak kerbau mati yang mencapai 50 ekor yang ada hanya 8 ekor itupun disebabkan karena masyarakat terlambat memberitahukan hal itu kepada petugas,” kata Muhammad.

Menurutnya, petugas kesehatan hewan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan mengalami hambatan dalam menanggulangi penyakit kerbau di beberapa desa dalam Kecamatan Pasie Raja selama ini, karena mayoritas peternak di wilayah tersebut tidak mengizinkan petugas menyuntikkan obat-obatan pada kerbau mereka.

“Sebenarnya penyakit tersebut sudah mulai terjangkit sejak bulan Juli 2016 lalu, kami langsung merespon persoalan itu dengan menurunkan petugas ke lapangan namun peternak tidak mengizinkan petugas menyuntikkan obat-obatan pada kerbau mereka. Petugas kami di lapangan diperlakukan seperti pengemis,” tegasnya.

Padahal, sambung Muhammad, terhadap beberapa peternak yang mengizinkan petugas menyuntikkan obat-obatan pada kerbau mereka, terbukti hingga saat ini terbebas dari serangan penyakit. Salah satu contoh kasus, seperti yang dialami oleh dua orang peternak di Desa Pasie Rasian dan Desa Teupin Gajah meskipun serangan penyakit telah mematikan beberapa kerbau milik peternak di desa itu, namun kerbau milik peternak dimaksud hingga saat ini masih sehat.

“Contoh kasus lainnya juga dapat di buktikan di beberapa kecamatan lainnya dalam Kluet Raya yang diizinkan petugas menyuntikkan obat-obatan pada kerbau mereka, terbukti sampai saat ini terbebas dari serangan penyakit,” jelas Muhammad.

Kendala lainnya juga dialami pihaknya, sambung Muhammad, terhadap peternak kerbau di Desa Teupin Gajah yang memelihara ternaknya dengan sistem melepas liar kerbau di alam lepas baru setahun sekali baru ada di kandangnya masing-masing, sehingga sangat menyulitkan petugas memberikan vaksin.

Muhammad juga membantah tudingan yang menyebutkan pihaknya kurang maksimal mengatasi persoalan itu karena minimnya tersedia anggaran. “Anggaran tersedia sangat maksimal, pada tahun 2015 saja ada anggaran mencapai Rp 400 juta, lalu pada tahun 2016 bertambah menjadi Rp 500 juta. Pengadaan obat-obatan tersedia lengkap di dinas, petugas kami di kantor kesehatan hewan di masing-masing kecamatan stanby setiap hari dan siap menerima laporan masyarakat,” pungkasnya. [Hendri Z]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *