,

Puluhan Joki Mengasah Animo Berkuda di Buntul Nege

BLANGKEJEREN – Animo masyarakat Gayo Lues untuk menjadi joki kuda sangat tinggi. Menjelang lomba pacu kuda tradisional, sejak seminggu terakhir para joki mulai asah kemampuan di stadion Buntul Nege.

Para joki tersebut lebih leluasa melatih diri, setelah panitia menggeser lomba pacu kuda dari 1 Agustus 2016 menjadi 8 Agustus. Tambahan waktu seminggu itu dimanfaatkan untuk menguji landasan pacu di Buntul Nege.

Ibrahim, warga Blangkejeren, salah satu pemilik kuda, Senin, 1 Agustus 2016 mengatakan, setiap satu ekor kuda dibawa dua orang ke Stadion Buntul Nege, satu orang pemilik dan satu orang joki untuk latihan.

“Tujuannya agar saat perlombaan nantinya sudah terbiasa, larinya kencang, dan fisiknya sudah kuat, kalau tidak dilatih, bisa-bisa tidak akan menang meskipun sebelumnya sudah mendapatkan juara, karena hanya berlatih ini satu-satunya cara supaya lari kuda bisa kencang,” katanya.

Pada acara pertandingan pacuan kuda tradisional nantinya, Ibrahim mengaku kuda yang akan dipertandingkan bukan saja milik warga Gayo Lues, melainkan kuda dari Aceh Tegah dan Bener Meriah juga ikut memperebutkan Piala bergilir Bupati Gayo Lues beserta hadiah uang tunai mencapai ratusan juta.

“Untuk bisa menang banyak hal yang harus dilakukan selain melatih kuda, seperti mencari makanan yang bagus, memberi poding, memberikan vitamin, dan bermacam lainya, karena larinya kuda ini juga tergantung kesehatanya, kalau kudanya sakit tidak mungkin bisa cepat,” jelasnya.

Konon, saat pertandingan pacuan kuda tradisional di Gayo Lues, biasanya ada sebagian pemilik kuda yang mencari dukun supaya bisa menang, disamping itu ada juga dukun yang membuat kudanya anti guna-guna supaya saat berlari tidak keluar dari arena ataupun jatuh. [Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *