PT ANI Siap Lepas Lahan Untuk Pembangunan Kampus Unsyiah II

0
316

BANDA ACEH – PT. Acehnusa Indrapuri (PT. ANI) siap melepas lahan seluas 2.572 hektare untuk pembanguan kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) II. Pemerintah Aceh bersama Rektorat Unsyiah juga telah mengajukan permohonan alih kepemimpinan tersebut.

Kesediaan PT ANI melepaskan lahan di Aceh Besar itu disampaikan salah satu pemegang saham PT. ANI, Robin Sitaba, dalam rapat pembahasan digelar Rektor Unsyiah bersama Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan Bupati Aceh Besar Mawardi Ali, Kamis, 14 Februari 2018 di Unsyiah.

Robin menyebutkan secara pribadi dirinya sangat mendukung rencana pemerintah Aceh tersebut. “Saya sifatnya merekomendasikan dengan catatan-catatan aturan yang harus diikuti,” kata Robin.

Namun kata Robin, haus ada tim khusus terpadu yang dibentuk untuk membuat rencana bersama antara PT. ANI, pemerintah Aceh, Unsyiah dan Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, sehingga proses pembangunan kampus Unsyiah bisa segera terwujud.

“Yang pasti mewakili dari pemegang saham saya setuju dan akan merapatkan secepatnya (dengan pemegang saham lain). Secepatnya kita bisa membentuk tim terpadu,” kata Robin.

Rapat pembahasan tersebut juga ikut dihadiri oleh Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali, Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Hilman Nugroho dan Robin Sitaba Salah Satu Pemegang Saham PT. Acehnusa Indrapuri.

Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL), Hilman Nugroho, menyebutkan dari 2.572 hektare yang diajukan untuk kawasan pembangunan kampus Unsyiah, di antaranya terbagi dalam tiga kawasan. Kawasan terkecil adalah kawasan khusus untuk areal penggunaan lain yang luasannya hanya sekitar 182 hektar.

Sementara sisanya berada di kawasan hutan produksi dan kawasan hutan produksi yang bisa dikonversi. “Khusus untuk areal penggunaan lain hanya harus diberikan oleh pak bupati (Aceh Besar),” kata Hilman Nugroho. Sementara penggunaan kawasan hutan produksi dan kawasan hutan produksi yang bisa dikonversi harus terlebih dahulu diubah menjadi kawasan hutan khusus penggunaan lain.
Namun demikian, secara prinsip, pihaknya sangat mengapresiasi keinginan pemerintah Aceh tersebut. “Pengembangan kampus Unsyiah merupakan posisi kunci. Pusat harus memperhatikan secara khusus sebagaimana hajat pak rektor dan plt gubernur,” kata Hilman.

Jika untuk memulai pembangunan, Hilman menyebutkan bahwa pembangunan di areal penggunaan lain seluas 182 hektar bisa secepatnya dilakukan. Sementara itu, Plt Gubernur menyebutkan bahwa pembangunan di lahan 2.572 sudah dipikirkan ssecara matang dengan masterplan yang matang pula. Konsep pembangunan adalah kampus masa depan. Di mana secara umum, tata ruang, konsep pembangunan serta laboratorium telah disusun sedemikian rupa.

Akademisi yang juga mantan Rektor Unsyiah, Profesor Abdi Abdul Wahab, mengatakan sebenarnya proses pencarian lahan untuk perluasan kampus Unsyiah sudah dimulai sejak 2003 lalu. Namun, usaha itu timbul-tenggelam. “Alhamdulillah hari ini kita mendengar ide itu diteruskan dan barangkali kita semua memahami pengembangan kampus sudah sangat sulit,” katanya.

Profesor Abdi mengatakan, pembangunan kampus baru untuk Unsyiah merupakan sebuah investasi yang cukup besar bagi Aceh bahkan Indonesia. Investasi yang dimaksud Guru Besar Unsyiah itu adalah dalam hal pengkaderan Sumber Daya Manusia.

“Universitas tidak mencari keuntungan tapi menciptakan Sumber Daya Manusia,” kata Nova. “Ini kesempatan untuk membantu masyarakat. Kita di kampus konsen untuk mencerdaskan bangsa,” kata Profesor Abdi.[rls]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here