,

Proyek PPDI Labuhanhaji Diduga tak Sesuai Spek

LABUHANHAJI – Proyek pembangunan gedung Pasar Pembersihan dan Distribusi Ikan (PPDI)di kompleks Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Labuhanhaji ditengarai tidak sesuai spesifikasi. Aparat penegak hukum diminta untuk melakukan pengusutan.

Permintaan itu disampaikan Ketua Komunitas Masyarakat Peduli Pelabuhan Pendaratan Ikan (Kompi) Labuhanhaji, Ali Zamzami. Menurutnya, pekerjaan proyek yang bernilai Rp 1,2 miliar lebih sumber APBK Aceh Selatan tahun 2015 itu sarat penyimpangan.

“Buktinya, meskipun proyek tersebut baru selesai dibangun tahun 2015 lalu namun atapnya sudah bocor dan beberapa bagian lantai serta dinding bangunan tersebut plasternya terlihat sudah terkelupas. Kami mendesak aparat penegak hukum di Aceh Selatan segera mengusut kasus ini karena berpotensi ada tindak pidana korupsi,” kata Ali Zamzami kepada wartawan di Tapaktuan, Senin, 16 Mei 2016.

Ali Zamzami menyatakan, akibat pekerjaan proyek tidak sempurna tersebut bangunan PPDI tersebut sampai saat ini masih terbengkalai tidak bisa dimanfaatkan oleh nelayan setempat.

“Kondisi ini jelas merugikan nelayan karena bangunan proyek yang didanai dari sumber anggaran negara itu tidak bisa difungsikan oleh para nelayan. Hal ini sama halnya membuang-buang anggaran negara secara mubazir,” sesalnya.

Menurutnya, ketidaksempurnaan pekerjaan proyek tersebut di samping terlihat jelas dari kondisi ruangan terlihat sudah tergenang air akibat atapnya bocor sehingga saat cuaca hujan air menetes dari plafon, juga di saat malam hari gedung tersebut dalam kondisi gelap gulita karena meskipun jaringan listrik sudah dimasukkan oleh pihak kontraktor tapi anehnya bola lampu justru tidak dipasang.

Ali Zamzami melanjutkan, sejak saat berlangsungnya proses pekerjaan hingga proyek selesai, pihak kontraktor pelaksana justru tidak memasang plang (papan) nama proyek di lokasi, sehingga masyarakat setempat tidak mengetahui nama perusahaan yang mengerjakan proyek tersebut termasuk jumlah anggaran serta batas waktu terakhir pelaksanaannya.

“Keberadaan proyek ini terkesan seperti proyek siluman. Saat proses pekerjaan pada tahun 2015 lalu, dinding bangunan itu sempat ambruk dengan sendirinya, namun dibangun kembali oleh pihak kontraktor,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Selatan, Cut Yusminar, membantah pekerjaan proyek tersebut telah terjadi penyimpangan. Namun sebaliknya, dia justru mengklaim bahwa pekerjaan proyek dimaksud telah sesuai spesifikasi sesuai kontrak kerja.

Terkait adanya temuan beberapa pekerjaan proyek masih terdapat kekurangan, menurut Cut Yusminar masih bisa diperbaiki oleh pihak kontraktor pelaksana karena proyek tersebut masih dalam masa pemeliharaan. Pihaknya berjanji segera akan memerintahkan pihak kontraktor untuk melakukan rehabilitasi kembali terhadap bagian pekerjaan yang dinilai masih ada kekurangan.

“Saat ini masih dalam masa pemeliharaan, sehingga masih menjadi kewajiban pihak kontraktor untuk memperbaikinya sehingga bangunan itu bisa segera dimanfaatkan oleh nelayan. Kami akan meminta pihak kontraktor untuk memperbaikinya kembali,” tegasnya.

Sedangkan terkait jaringan listrik, menurut Cut Yusminar, telah terpasang seluruhnya termasuk bola lampu yang belum terpasang. Hanya saja, terkait arus listrik padam sejak beberapa hari terakhir, menurut Cut Yusminar hal itu bukan lagi menjadi tanggungjawab pihak kontraktor melainkan sudah menjadi tanggungjawab pihaknya untuk membayar rekening listrik.

“Selama ini listriknya sudah menyala hanya saja sejak beberapa hari terakhir pulsa pra-bayar sudah habis yang kebetulan belum kami isi. Saya segera akan memerintahkan pihak UPTD PPI Labuhanhaji untuk mengisi pulsa listrik pra-bayar tersebut,” pungkasnya.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *