,

Proyek Jalan Alur Naga dan Panorama Hatta Terkesan Asal Jadi

TAPAKTUAN – Proyek preservasi dan rekontruksi jalan Tapaktuan, Aceh Selatan – lintas Sumut, di kawasan Gunung Alur Naga dan Panorama Hatta (Pintu Angin), Kecamatan Tapaktuan yang menelan biaya sebesar Rp11,9 miliar terkesan asal jadi.

Badan jalan yang diketahui rawan longsor tersebut, seharusnya dibangun kontilever (jaringan cor besi dan leger beton) seperti dikerjakan  kontraktor sebelumnya, tapi ternyata hanya dibuat pagar pengaman berem jalan di pinggir tebing. Akibatnya daya tahan badan jalan sangat diragukan, terutama ketika dilintasi kenderaan bermuatan berat.

Melihat kondisi yang terjadi sekarang ini, kalangan masyarakat Tapaktuan menaruh kekhawatiran bahwa sewaktu-waktu badan jalan itu terancam amblas ke jurang bawah laut, dengan kedalaman sekitar 50 meter lebih.

“Kondisi ini sangat berbahaya, karena truck bermuatan berat, bisa terjebak di berem jalan berpagar dan terancam amblas bersama pagar, karena tidak memiliki kontilever,” kata Suherman,40, tokoh masyarakat Desa Penjupian kepada wartawan di Tapaktuan, Kamis, 21 April 2016.

Proyek preservasi dan rekontruksi jalan Tapaktuan-Bakongan-batas Aceh Selatan ini, dikerjakan salah satu perusahaan asal Banda Aceh, sesuai nomor kontrak HK.02.03/Br.A3/13/APBN/2016, bersumber dari APBN 2016, dengan nilai kontrak Rp 11.905.393.000,- dari pagu anggaran Rp 12,3 miliar lebih.

Sementara jembatan Alur Naga seharusnya dibangun baru, tetapi dipadai dengan jembatan lama yang kondisinya telah uzur. Namun luput dari perhatian Satuan Kerja (Satker) pelaksana proyek jalan nasional wilayah II lintasan Pantai Barat Selatan Aceh.

Begitu pula pekerjaan kontilever sepanjang beberapa meter pada titik  Desa Lhok Reukam, persis di penurunan Gunung Panorama Hatta menuju Desa Air Pinang, juga  terkesan dikerjakan asal jadi.

Soalnya, selain pengikatan besinya kecil juga letak legernya jarang-jarang sehingga membuat daya tahannya mengkawatirkan dan terancam amblas langsung ke laut. “Ini salah satu bukti daerah kita masih dimarginalkan  Provinsi. Bukan hanya minimnya anggaran yang turun, tetapi proyeknya pun ikut dikebiri,” ucap T Sukandi, tokoh masyarakat setempat.

Menurut dia, lika-liku permainan pekerjaan proyek tersebut terindikasi dari papan nama proyek yang tidak mencantumkan jumlah biaya, nama konsultan pengawas serta tanggal mulai dan berakhirnya pekerjaan juga tidak dijelaskan.

“Proyek ini diduga sengaja dirancang menjadi lahan korupsi empuk  bagi rekanan, PPK, Satker maupun pengawas dan konsultannya,” tambah mantan anggota DPRK Aceh Selatan ini.

Sejumlah pekerja yang ditanya wartawan  di lokasi tidak bersedia memberi keterangan. “Maaf pak, kami hanya orang kerja, jika bapak mau minta keterangan, tolong hubungi bos kami atau pengawas lapangannya,” sebut seorang pekerja tanpa bersedia menyebut identitasnya.

Sayangnya sejauh ini belum diperoleh konfirmasi menyangkut amburadulnya pekerjaan proyek jalan tersebut dari pihak berkompeten. Koordinator Lapangan PPK-12 Tapaktuan-Subulussalam, Musdi Misbah, saat dihubungi beberapa kali melalui nomor Ponsel 085260106XXX  tidak diangkat, meskipun suara panggilan masuk terdengar jelas.[HM]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *