,

Proyek Docking Kapal Pasie Meukek Mangkrak

TAPAKTUAN – Proyek pembangunan docking kapal di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Pasie Meukek, Kecamatan Meukek, Aceh Selatan yang dibangun tahun 2014 lalu sampai sekarang mangkrak.

Proyek senilai Rp 1,7 miliar dari dana Otonomi Khusus (Otsus) 2014 tersebut dikerjakan CV Atifa. Disinyalir pembangunannya tidak sesuai spesifikasi sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.

Ketua LSM Forum Pemantau dan Kajian Kebijakan Publik (Formak) Aceh Selatan, Ali Zamzami menilai proyek tersebut dikerjakan asal-asalan. “Dengan masih terbengkalainya bangunan docking kapal di Pasie Meukek tersebut makin menguatkan sinyalemen selama ini bahwa banyak proyek yang dilahirkan Pemkab Aceh Selatan selama ini terkesan hanya berorientasi untuk pencitraan demi meraup keuntungan pribadi serta kelompoknya,” ujar Ali Zamzami, Senin, 1 Mei 2017.

Ia menilai mangkraknya proyek tersebut merupakan salah satu contoh kecil dari berbagai macam persoalan serupa lainnya. Hal itu terjadi karena program pembangunan yang dijalankan selama ini tanpa adanya kajian dan analisis yang mendalam sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Selain itu kata Ali Zamzami, akibat pekerjaan proyek docking kapal yang terkesan asal-asalan tersebut telah memaksa para nelayan setempat, saat melakukan perbaikan atau perawatan boat atau kapal mereka masih secara manual. Untuk keperluan docking kapal atau boat, para nelayan setempat terpaksa harus menunggu datangnya pasang air laut kemudian menarik boat secara ramai-ramai ke daratan.

Sementara itu, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) proyek docking kapal pada Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Selatan, Adi Suhaima yang dikonfirmasi secara terpisah, Senin, 1 Mei 2017 menyangkal tudingan yang menyebutkan docking kapal Pasie Meukek terbengkalai tidak bisa difungsikan.

“Docking kapal tersebut sudah pernah difungsikan pasca selesai dibangun. Buktinya sampai saat ini sudah ada setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar Rp 6 juta lebih. Tidak mungkin dari uang saya sendiri menyetor PAD tersebut,” tegas Adi Suhaima.

Namun dia mengakui bahwa saat ini docking kapal tersebut tidak bisa difungsikan lagi karena terjadi kerusakan pada rel bantalan bawah. “Kerusakan itu terjadi sekitar delapan bulan lalu,” tambah Adi Suhaima.

Menurut dia, kerusakan rel bantalan docking tersebut disebabkan karena para nelayan setempat menaikkan boat berkapasitas lebih dari 30 GT naik dock. Sementara kapasitas docking itu maksimal di bawah 30 GT.

“Memang dalam surat boat nelayan kita tidak tertera kapsitasnya di atas 30 GT melainkan hampir mayoritas boat-boat besar di Aceh Selatam dibuat 30 GT untuk menghindari kewajiban pengurusan document boat ke provinsi sesuai ketentuan perundang-undangan,” ungkapnya.

Karena itu, tambah Adi, pihaknya telah memprogramkan anggaran pada tahun 2017 untuk memperbaiki kembali rel bantalan docking yang sudah rusak tersebut dengan cara menggantinya dengan rel bantalan yang lebih besar, sehingga sudah bisa digunakan untuk perbaikan boat-boat diatas 30 GT.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *