,

Polisi Tahan Tiga Tersangka Kasus Korupsi Irigasi Lawe Sawah

TAPAKTUAN – Polres Aceh Selatan menahan tiga tersangka dugaan korupsi pekerjaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi Lawe Sawah/Porang, Kecamatan Kluet Timur, sumber DAK Tambahan tahun 2016 sebesar Rp. 1,7 miliar lebih. Kasus “rasuah” ini diperkirakan mengakibatkan kerugian keuangan negara mencapai Rp 800 juta lebih.

Ketiga tersangka tersebut masing-masing RCH, selaku kontraktor pelaksana dari CV. Puri Indah, AF selaku konsultan pengawas dari CV. Edition Design Ornamen dan YL selaku pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK).

“Kasus ini sudah mulai kami usut sejak bulan Februari 2018 lalu, menindaklanjuti laporan masyarakat,” kata Kapolres Aceh Selatan AKBP Dedy Sadsono ST saat menggelar konfrensi pers di Mapolres, Tapaktuan, Senin, 15 Oktober 2018.

Konfrensi pers ini turut didampingi Kasat Reskrim Polres Aceh Selatan, Iptu Irwansyah, SE dan Kanit Idik 3 Tipikor, Bripka Hendra S serta anggota Unit Tipikor Reskrim lainnya. Setelah dilakukan proses penyelidikan awal, kemudian kasus tersebut diekspos di Polres Aceh Selatan. Selanjutnya kasus ini juga sudah di ekspos di Polda Aceh.

“Berdasarkan hasil gelar perkara (ekspos) di Polda Aceh terhadap perkara dengan laporan polisi Nomor : LP-Al39/IX/2018/Polda Aceh/Res Asel/Reskrim tanggal 17 September 2018, kasus itu dinaikkan ke tahap penyidikan dengan menetapkan tiga tersangka. Ketiga tersangka secara resmi sudah ditahan di Mapolres,” ungkap AKBP Dedy Sadsono.

Menurut kapolres, proses penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi pekerjaan proyek yang dikelola Dinas Sumber Daya Air Aceh Selatan tersebut, dilakukan oleh Satreskrim berawal dari laporan masyarakat beserta perangkat Gampong Lawe Cimanok, Kecamatan Kluet Timur. “Masyarakat memprotes hasil pekerjaan proyek karena irigasi tersebut tidak bisa difungsikan untuk mengaliri air ke lahan sawah masyarakat,” beber kapolres.

Menindaklanjuti laporan tersebut, unit idik 3 Tipikor melakukan proses penyelidikan dengan cara meminta dan mempelajari dokumen-dokumen terkait dengan pekerjaan proyek tersebut. Penyidik juga telah meminta keterangan terhadap pihak-pihak terkait lainnya.

“Ternyata dalam proses penyelidikan di lapangan, benar ditemukan penyimpangan dalam pekerjaan proyek tersebut, sehingga memenuhi unsure di naikkan ke tahap penyidikan,” tegasnya.

Untuk membongkar kasus dugaan korupsi tersebut, pihak penyidik telah memanggil dan memeriksa sejumlah saksi yang terkait dengan pekerjaan proyek dimaksud. Selain itu, penyidik juga telah melakukan proses pemeriksaan lapangan bersama dengan pihak-pihak terkait dan juga telah dilakukan gelar perkara bersama dengan tim ahli yang juga melibatkan pihak auditor Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh.

“Seluruh rangkaian proses penyelidikan dan penyidikan yang telah dilakukan, akhirnya penyidik menyimpulkan bahwa pekerjaan proyek tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi teknis, bestek (gambar kerja) dan kontrak pekerjaan yang berdampak terjadinya kerugian keuangan negara,” papar Kapolres.

Para tersangka dijerat dengan pasal 2 ayat (1) dan pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.

“Kami akan terus meningkatkan koordinasi dengan pihak auditor BPKP perwakilan Aceh menyangkut dengan jumlah kerugian keuangan negara dan pihak Kejari Aceh Selatan untuk melengkapi barang bukti lainnya dan menyiapkan berkas perkara untuk selanjutnya dilimpahkan kepada Jaksa Penuntut Umum,” pungkasnya.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *