,

Polisi Selidiki Dugaan Korupsi Proyek Pasar Rakyat

TAPAKTUAN – Petugas Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Satreskrim Polres Aceh Selatan mulai melakukan proses penyelidikan dugaan korupsi pembangunan Pasar Rakyat Tapaktuan di kompleks Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI), Gampong Lhok Bengkuang.

Proyek senilai Rp 14 miliar lebih sumber APBN 2015 sebesar Rp 6,4 miliar dan 2016 Rp 8 miliar lebih. Secara bersamaan, polisi juga turut menyelidiki pekerjaan proyek penataan lingkungan pasar rakyat tersebut yang diduga dikerjakan tumpang tindih (over laps) yakni selain dialokasikan melalui sumber APBA tahun 2017 senilai Rp 1,6 miliar lebih juga turut dibiayai melalui sumber dana intensif daerah (DID) APBK Aceh Selatan tahun 2017 sebesar Rp 960 juta lebih.

Kapolres Aceh Selatan, AKBP Dedi Sadsono ST mengatakan, langkah penyelidikan kasus tersebut dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari masyarakat. Bahkan pihaknya mengaku sudah meninjau langsung kondisi bangunan yang baru selesai dikerjakan tersebut.

“Berdasarkan penilaian dan amatan di lapangan kualitas pekerjaan proyek tersebut sangat rendah, maka saya perintahkan anggota untuk melakukan langkah penyelidikan tahap awal,” kata AKBP Dedi Sadsono diTapaktuan, Rabu, 7 Maret 2018.

Saat ini, lanjut kapolres, pihaknya sedang memfokuskan proses penyelidikan kasus terhadap pekerjaan proyek pasar rakyat tahun 2016 yang menelan anggaran mencapai Rp 8 miliar lebih, serta pekerjaan pasar rakyat tahun 2015 yang menelan dana mencapai Rp 6,4 miliar lebih. Kedua bangunan tersebut dibangun bersisian dalam satu kompleks.

Untuk mendukung langkah penyelidikan kasus tersebut, kata kapolres, pihaknya telah meminta data-data yang dibutuhkan pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Aceh Selatan salah satunya adalah dokument kontrak kerja. “Sekarang tinggal kita dalami saja kasusnya, mudah-mudahan akan kelihatan jelas dugaan tindak pidana korupsinya,” tegas Kapolres.

Sementara itu Kepala Disperindagkop dan UKM Aceh Selatan, Mualimin menjelaskan, proyek pasar rakyat Tapaktuan tersebut dikerjakan oleh PT Permata Bunda Grup dalam dua tahap. Tahap pertama tahun 2015 sebesar Rp 6,4 miliar lebih dengan konsultan pengawas CV Pobriena Razeki dan tahap kedua tahun 2016 Rp 8 miliar lebih dengan konsultan pengawas CV Gamma Konsultan seluruhnya bersumber dari APBN Tugas Pembantuan.

Sedangkan untuk item pekerjaan proyek penataan lingkungan pasar rakyat, kata Mualimin, melalui sumber APBA sebesar Rp 1,6 miliar lebih dikerjakan oleh CV Perta Utama dengan konsultan pengawas CV Krent Karya. Untuk pekerjaan proyek yang bersumber dari DID APBK Aceh Selatan tahun 2017 sebesar Rp 960 juta, dikerjakan oleh CV Meredom Ratna.

Sementara itu, PPTK pekerjaan proyek pasar rakyat tahun 2016 yang juga Kepala Bidang Perdagangan pada Disperindagkop dan UKM Aceh Selatan, Saiful Rahman mengaku bahwa pekerjaan proyek tahun 2016 telah sesuai dengan spesifikasi kontrak kerja. Sebab sebelum pekerjaan tersebut diserahterimakan (PHO), pihaknya telah melakuan pengecekan langsung ke lokasi dan dipastikan telah sesuai dengan kontrak.

“Tidak mungkin kami menerima (PHO) pekerjaan proyek tersebut jika tidak sesuai dengan spesifikasi teknis. Mengenai rembesan air dari lantai atas merupakan sebuah hal yang wajar karena bangunan itu sudah selesai sejak dua tahun lalu. Proses pengecoran rumah atau Ruko milik pribadinya saja tetap terjadi rembesan air dari lantai atas hasil pengecoran, kecuali dilapisi dengan keramik lagi baru airnya tidak merembes ke bawah,” ujarnya.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *