,

Plafon Ruang Belajar SMAN 2 Meukek Ambruk

TAPAKTUAN – Dari enam ruang kelas belajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Meukek yang dibangun sumber APBK tahun 2015 lalu sekitar Rp 2 miliar lebih, empat ruang kelas belajar diantaranya telah rusak.

Empat ruang kelas belajar tersebut masing-masing dua ruang berada di lantai dua dan dua ruang lagi berada di lantai satu. Ruang kelas tersebut plafonnya telah ambruk ke atas lantai. Dari empat ruang kelas belajar, dua diantaranya terlihat sangat parah. Sebab hampir seluruh plafon yang terbuat dari tripleks tersebut telah rusak dan ambruk sehingga terlihat besi rangka baja yang sebelumnya mengikat plafon.

Proyek yang dikerjakan oleh salah seorang kontraktor asal Blang Pidie, Aceh Barat Daya (Abdya) tersebut telah mulai rusak berselang satu tahun pasca selesai dibangun yakni sejak tahun 2016.

Kepala SMAN 2 Meukek, Drs Abdaruddin yang dihubungi wartawan, Selasa, 19 Desember 2017 membenarkan plafon empat ruang kelas belajar sekolah yang dipimpinnya telah ambruk.

Menurutnya, plafon ruang kelas belajar tersebut cepat rusak disebabkan karena atap bangunan sekolah bocor. Sehingga setiap diguyur hujan air masuk dan merembes di atas plafon. “Karena terus menerus masuk air hujan menyebabkan plafon lapuk sehingga lama kelamaan ambruk karena tidak sanggup lagi menahan beban,” ujarnya.

Bagian plafon yang telah lapuk akibat dibasahi dari tetesan air dari atap bocor tersebut, terpaksa dibongkar pihak agar tidak jatuh menimpa siswa saat belajar. “Karena itu, dari empat ruang kelas yang plafonnya telah rusak. Tiga diantaranya masuk bisa digunakan untuk kegiatan belajar siswa. Hanya satu yang benar-benar tidak bisa digunakan lagi sampai saat ini,” jelasnya.

Ruang yang tidak bisa digunakan lagi sampai saat ini berada di bagian ujung lantai satu. Siswa diruang tersebut terpaksa di ungsikan ke ruang kelas belajar lama (bekas gedung SD Muhammadiyah Kuta Buloh II Meukek).

“Sedangkan ruang kelas belajar yang lain masih bisa digunakan. Meskipun disaat diguyur hujan, tetesan air hujan membasahi ruang kelas belajar. Karena meja dan kursi siswa masih bisa digeser-geser ke lokasi tidak menetes air. Tapi khusus untuk satu ruang memang benar-benar tidak bisa digunakan lagi,” ungkapnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, sambung Abdaruddin, pihaknya telah melayangkan proposal ke Dinas Pendidikan Provinsi Aceh untuk biaya rehabilitasi ruang kelas belajar siswa yang plafonnya telah ambruk akibat atap bangunan sekolah bocor tersebut.

“Anggaran untuk rehabilitasi ruang kelas belajar sudah kami ajukan ke Dinas Pendidikan Provinsi Aceh. Mudah-mudahan anggaran tersebut dapat terakomodir pada tahun 2018,” pintanya.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *