,

Pinang, Primadona Baru Pasir Putih

BLANGKEJEREN – Ketika tanaman lain seperti kemiri dan coklat tak berbuah, pinang memberi harapan dan penghasilan bagi warga Desa Pasir Putih, Pining, Gayo Lues. Sebagain besar dijual ke penampung di Kabupaten Bireuen.

Rabi (40) warga Pasir Putih Selasa (31/1) mengatakan, ia memiliki setengah hektar kebun pinang, sekali panen bisa mencapai satu ton pinang. Namun untuk mengambilnya yang sangat sulit karena tidak adanya akses jalan ke sana. Ia harus memikul karung pinang dari kebun ke jalan desa.

“Kalau mau ambil 100 kilogram pinang, cukup sehari saja ke kebun. Namun yang sulit adalah memikulnya dari gunung ke rumah. Sedangkan untuk mengupas dan membelahnya biasanya saya upahkan ke warga,” jelasnya.

Jika harga pinang naik, Rabi akan memanjat pohon pinang untuk memetik hasilnya, sementara saat harga sedang turun pinang dibiarkan jatuh sendiri ke tanah baru dikutip untuk dikeringkan supaya tahan lama, dan saat harga naik baru dijual.

Hal yang sama juga disampaikan Siti, seorang ibu rumah tangga di Pasir Putih. Hasil pinang bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anaknya. “Sekarang harga pinang belah Rp 10 ribu sekilo. Ini sangat membantu kami karena kemiri lagi tidak berbuah, sementara coklat baru berbunga,” ungkapnya.

Pinang yang dijual masyarakat kepada agen penampung di Kecamatan Pining dengan harga Rp 10 Ribu langsung dibawa agen penampung ke Kabupaten Bireuen, di sana Pinang kembali dijual dengan harga Rp 15 ribu per kilo kepada penampung. [Win Porang]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *