,

Pewaris Kesultanan Aceh Bangkitkan Kembali Kaum Alaidin

BANDA ACEH – Para pewaris Kesultanan Aceh Darussalam kembali mengaktifkan dan membangkitkan Kaum Alaidin yang sudah lebih 3 dekade mengalami kevakuman. Pelantikan dilakukan Sabtu malam, 22 September 2018 di Taman Budaya, Banda Aceh.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci alquran dan salawat badar kemudian diiringi dengan penampilan tari ranup lampuan, kemudian laporan panitia disampaikan oleh Tuanku Muhammad. Sementara amanat atau sambutan Ketua Kaum Alaiddin, Tuanku Anwar Wahab disampaikan oleh Khatibul Muluk Tuanku Muntazar.

Kepala Dinad Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh yang hadir pada acara tersebut, ikut memberikan sambutan, sebelum kemudian dilakukan prosesi penjemputan tokoh kaum Alaidin untuk dipesijuek.

Menariknya, penjemputan dilakukan oleh para pengawal berpakaian tradisional Aceh dengan tombak dan tameng/perisai di kedua tangannya layaknya tradisi pada masa kesultanan.

Para tokoh kaum Alaidin yang dijemput untuk dipeusijeuk tersebut adalah 4 orang Kadi Malikul Adil yakni Tuanku Raja Yusuf, Tuanku Maimun, Tuanku Yavis dan Tuanku Bukhari, kemudian Khatibul Muluk Kaum Alaiddin Tuanku Muntazar dan Wakil Khatibul Muluk Tuanku Warul Waliddin.

Prosesi peusijuek pertama kali dilakukan oleh Tengku Putroe Seri Awan binti Tuanku Raja Ibrahim, selanjuunya peusijuk dilakukan oleh Tengku Ainul Mardiah binti Tuanku Johan Ali dan diakhiri peusijuk oleh Almukaram Abi Lampisang.

Wakil Khatibul Muluk Kaum Alaiddin Kesultanan Aceh Darussalam, Tuanku Warul Waliddin menjelaskan, dengan terbentuknya kembalu kepengurusan kaum Alaidin tersebut, dapat mengembalikan peran kaum Alaiddin sebagai penggerak peradaban Aceh dimasa depan.

“Dinasti Alaidin merupakan pemegang kekuasaan Aceh selama 176 tahun dengan 13 orang sultan.  Alaiddin bermakna meninggikan agama atau penjaga agama. Kami berharap dengan terbentuknya kembali kepengurusan kaum Alaidin ini, peran kaum Alaidin dalam membangun peradaban Aceh bisa terus dilanjutkan, sebagaimana telah dilakukan oleh Endatu kami tempo dulu,” ujar Tuanku Warul Waliddin.

Tuanku Warul Waliddin yang juga mejabat sebagai Pang Ulee Komando Aneuk Muda Alam Peudeung (Komandan) Al Asyi melanjutkan, kaum Alaiddin merupakan Dinasti Kesultanan Aceh Darussalam yang mendirikan Kesultanan Aceh sejak Sultan pertama yang merintis lahirnya Kesultanan Aceh yakni Sultan Alaiddin Johansyah bin Machdum Abi Abdillah Asyekh Bandar Darussalam pada 22 April 1205.

“Tanggal ini pula yang kemudian diambil dan menjadi cikal bakal lahirnya Kota Banda Aceh yang sekarang berusia 813 tahun,” lanjut pria bernama lengkap Tuanku Warul Walidin Bin Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah tersebut.

Masih menurut Tuanku Warul Waliddin, wilayah Aceh berhasil disatukan secara utuh oleh sultan Alaiddin Ali Mughayatsyah hingga Sultan terakhir berdaulat Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah yang tidak pernah menyerahkan kedaulatan Aceh kepada pihak Belanda. “Jadi apabila dihitung sejak masa pertama dirintis 813 tahun silam maka Kesultanan Aceh mampu bertahan sekitar 700 tahun lamanya,” tegas Tuanku Warul Waliddin.

Acara turut dihadiri Kadisbudpar Aceh, Walikota Banda Aceh yang diwakili oleh asisten walikota, perwakilan Pangdam Iskandar Muda, perwakilan Polda Aceh dan Kodim 0101 BS, serta keluarga besar kaum Alaidin dan sejumlah elemen masyarakat lainnya.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *