0 C
Alba Iulia
Wednesday, December 11, 2019

Peran Jenderal Amerika dan Wakil Panglima NATO dalam Perdamaian Aceh

Must Read

Polisi Musnahkan Satu Ton Lebih Ganja Sitaan

BLANGKEJEREN - Satu ton ganja dimusnahkan dengan cara dibakar di halaman Mapolres Gayo Lues. Barang haram tersebut merupakan hasil...

Setelah Dua Bulan Dipenjara, Polisi Serahkan Mantan Kepala Desa Blangkucir ke Jaksa

BLANGKEJEREN - Kasus dugaan korupsi Dana Desa yang dilakukan Kepala desa Blangkuncir, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues yang merugikan...

H Firmandez Masuk Pengurus Ikatan Alumni Lemhanas

JAKARTA - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) asal Aceh, H Firmandez dipercayakan menjadi pengurus Ikatan Alumni Lembaga...
Avatar
Iskandar Normanhttp://teropongaceh.com
Pemimpin Redaksi http://teropongaceh.com. Pernah bekerja di Tabloid Modus Aceh, Harian Aceh Independen, Harian Aceh dan Pikiran Merdeka. Menulis sejumlah buku seperti Nuga Lantui, Legenda Aceh dan Hadih Maja

Ketika dialog damai Aceh jalan di tempat, Henry Dunant Centre (HDC) merasa perlu menghadirkan pada wiseman internasional untuk meyakinkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia (RI) melanjutkan perundingan.

Para orang bijak internasional yang dihadirkan itu diantaranya Anthony Zinni seorang jenderal pensiunan marinir dari Amerika Serikat, Ruper Smith mantan Wakil Panglima Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO), Budimir Lancar mantan Menteri Luar Negeri Yugoslavia, Surin Pitsuwan mantan Menteri Luar Negeri Thailand, serta David Bryer advisor (penasehat) HDC.

Para wiseman internasional yang dilibatkan HDC dalam proses dialog antara pemerintah RI dan GAM juga berkunjung langsung ke Aceh. Kunjungan mereka diharapkan mampu memberikan keyakinan bagi para pihak untuk melanjutkan dialog menuju penyelesaian konflik Aceh secara damai.

Pada 20 Mei 2002, David Bryer seorang advisor HDC yang juga mantan Direktur OXFAM datang ke Aceh dan bertemu dengan sejumlah elemen masyarakat sipil, mulai dari ulama, mahasiswa, aktivis LSM, kalangan eksekutif dan legislatif, serta beberapa pihak lainnya. David Bryer datang ke Aceh untuk mencari masukan dan menggali format bagi proses All-Inclusive Dialogue (AID). Masukan-masukan yang didapatnya akan dijadikan bahan untuk menyusun suatu kerangka dan mekanisme AID yang ideal.

Kemudian pada 19 Juni 2002 giliran Ruper Smith yang datang ke Aceh. Ia merupakan penasehat HDC di Jenewa. Mantan Wakil Panglima NATO dari Inggris ini ketika di Aceh didampingi oleh David Gorman Project Manager HDC untuk Aceh. Ketika di Aceh Ruper Smith juga mengadakan pertemuan dengan beberapa elemen masyarakat untuk mencari masukan mengenai situasi keamanan di Aceh. Diantaranya yang ditemuinya adalah para juru runding GAM di Hotel Kuala Tripa, Kapolda Aceh Irjen Pol Jusuf Manggabarani, dan Pangdam Iskandar Muda Mayjen M Djali Yusuf.

Sementara wiseman internasional lainnya, Anthony Zinni datang ke Aceh pada 5 Agustus 2002. Pensiunan jenderal bintang empat marinir Amerika Serikat ini datang ke Aceh bersama Deputi HDC Jenewa Andrew Marshall. Ketika sampai di Aceh keduanya juga ditemani David Gorman.

Anthony Zinni merupakan wiseman yang aktif dalam perundingan antara pemerintah Indonesia dan GAM, baik pada perundingan 2-3 Februari 2002 maupun pada 9-10 Mei 2002 di Jenewa, Swiss. Kedatangannya ke Aceh juga dalam rangka menggali informasi tentang Aceh secara langsung dalam kapasitasnya sebagai penasehat HDC di Jenewa.

Siang itu juga ia mengadakan pertemuan dengan para juru runding GAM di Hotel Kuala Tripa, diantaranya dengan Tgk Muhammad Usman Lampoh Awe, Teuku Kamaruzzaman, Tgk Amni bin Ahmad Marzuki, dan Amdy Hamdani. Setelah itu pria kelahiran Philadephia tahun 1947 ini melakukan pertemuan dengan anggota TMMK pusat DMD Aceh yaitu Kolonel Purn Muhammad Daim, Tgk Imam Suja’, A Gani Nurdin, serta Yusni Saby. Sore harinya Anthony Zinni melakukan pertemuan dengan para anggota TMMK dari Pidie, Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur. Pertemuan itu berlangsung hingga pukul 18.00 WIB.

Keseokan harinya, Selasa, 6 Agustus 2002, pukul 09.00 WIB, Anthony Zinni dan rombongan berkunjung ke Mapolda Aceh dan bertemu dengan Kapolda Aceh Irjen Yusuf Manggabarani untuk mendapatkan masukan tentang kondisi kemanan di Aceh.

Dari Mapolda Aceh rombongan itu kemudian bertolak ke Kabupaten Pidie dan singgah di Padang Tiji untuk melihat sekolah yang terbakar, kemudian baru menuju Sigli. Di Sigli mereka ditemani TMMK Pidie berkunjung ke Markas Komando Distrik Militer (Makodim) dan bertemu dengan Komandan Kodim (Dandim) Pidie.

Setelah itu pertemuan juga dilakukan dengan Kapolres Pidie AKBP Drs Maryanto. Baru pada sore hari rombongan tersebut kembali ke Banda Aceh. Setelah magrib rombongan Anthony Zinni diterima dikediaman Wakil Gubernur Aceh, Ir Azwar Abubakar hingga pukul 20.00 WIB.

Pagi Rabu, 7 Agustus 2002 pukul 08.30 WIB, Anthony Zinni melakukan pertemuan terakhir dalam rangka kunjungannya ke Aceh. Bersama staf HDC ia kembali bertemu dengan Pangdam Iskandar Muda Mayjen Djali Yusuf di Makodam. Sekitar pukul 11.00 WIB Anthony Zinni bersama Andrew Marshall dan David Gorman terbang dengan menggunakan pesawat reguler meninggalkan Aceh.

Kemudian pada 19 Oktober 2002, giliran Martin Griffiths, Direktur Kantor Pusat HDC di Jenewa yang datang ke Aceh. Secara khusus ia membuat pernyataan singkat tentang kunjungannya itu untuk segera dirilis oleh HDC kepada masyarakat Aceh. Dalam pernyataannya Martin Griffiths mengatakan sengaja datang ke Aceh untuk melakukan pertemuan dengan pemerintah Indonesia, GAM, serta masyarakat sipil di Aceh untuk mendengar pendapat dan pandangan mereka mengenai prospek damai di Aceh.

Martin menyimpulkan bahwa hal yang sangat dibutuhkan dengan segera dan sangat mutlak adalah menghentikan perang. Kedua pihak yang bertikai harus meletakkan senjata agar rakyat Aceh dapat hidup tenang dan bebas dari ketakukan terhadap tindak kekerasan.

Rakyat Aceh kata Martin, mendesak kedua belah pihak untuk menyetujui penghentian permusuhan. “Kami juga telah mendengar betapa perlunya keadilan dan aturan hukum, karena tidak mungkin ada kedamaian tanpa keadilan,” tulis Martin Griffith dalam pernyataannya itu.

Ia juga menyampaikan bahwa selama delapan minggu terakhir telah dilaksanakan negosiasi yang intensif antara pemerintah Indonesia dan GAM mengenai rincian perjanjian damai berdasarkan penghentian permusuhan. Pihaknya telah menjalin hubungan yang erat dengan pimpinan GAM di Stockholm dan pemerintah Indonesia di Jakarta. Pada bagian akhir pernyataannya Martin menulis:

“Saya ingin memberitahukan kepada saudara bahwa tidak ada keraguan lagi mengenai teguhnya keinginan kedua belah pihak untuk mencapai sebuah perjanjian, dan untuk melaksanakannya secepat mungkin. Proses dialog yang dimulai pada Januari 2000 ini belum pernah sebelumnya memperoleh kekuatan dan komitmen – dari kedua belah pihak – yang seperti kita lihat sekarang. Dengan ini saya yakin bahwa sebuah perjanjian damai dapat dicapai…”

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Polisi Musnahkan Satu Ton Lebih Ganja Sitaan

BLANGKEJEREN - Satu ton ganja dimusnahkan dengan cara dibakar di halaman Mapolres Gayo Lues. Barang haram tersebut merupakan hasil...

Setelah Dua Bulan Dipenjara, Polisi Serahkan Mantan Kepala Desa Blangkucir ke Jaksa

BLANGKEJEREN - Kasus dugaan korupsi Dana Desa yang dilakukan Kepala desa Blangkuncir, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues yang merugikan keuangan Negara Rp 258.656.349 sudah...

H Firmandez Masuk Pengurus Ikatan Alumni Lemhanas

JAKARTA - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) asal Aceh, H Firmandez dipercayakan menjadi pengurus Ikatan Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IKAL Lemhanas). Politisi...

GTA Terobos Jalur Ekstrem Lesten-Pulo Tiga

BLANGKEJEREN - Tim Blutax's Jimny off Road 4x4 Gayo Lues bersama tim Gayo Trail Adventure (GTA) berhasil menerobos jalur ekstrem di lintasan...

Menikmati Pesona Lhok Gob di Belantara Pidie Jaya

Pesona sungai Lhok Gob yang membelah belantara Pidie Jaya di Gampong Kumba, Bandar Dua, sungguh sangat memanjakan mata. Wisata alam yang asri dan menenangkan...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -