,

Penyesuaian Tarif Listrik Pengaruhi Inflasi

JAKARTA – Penyesuaian tarif listrik tahap ketiga untuk pelanggang pasca bayar daya 900 VA nonsubsidi, ikut mempengaruhi inflasi administered prices di bulan Juni 2017. Inflasi juga didorong oleh tarif angkutan udara, tarif angkutan antar kota, dan tarif kereta api seiring peningkatan penggunaan angkutan selama lebaran Idul Fitri 1438 Hijriah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Tirta Segara dalam rilis nomor 19/48/DKom, Senin, 3 Juli di Jakarta menjelaskan, secara tahunan, inflasi administered prices mencapai sebesar 10,64 persen.

Meski demikian, jelas Tirta, inflasi pada Juni 2017 masih terkendali sehingga masih mendukung pencapaian sasaran inflasi 2017 sebesar 4,0±1 persen. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2017 tercatat 0,69 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi periode puasa dan lebaran tiga tahun terakhir sebesar 0,85 persen (mtm).

“Perkembangan ini tidak terlepas dari kontribusi positif berbagai kebijakan yang ditempuh Pemerintah dan koordinasi yang kuat dengan Bank Indonesia dalam menghadapi lebaran,” jelas Tirta.

Tirta melanjutkan, berdasarkan komponen, inflasi yang terkendali terutama dipengaruhi inflasi volatile foods yang lebih rendah dari pola historis dan inflasi inti yang juga tercatat rendah. Sementara itu, inflasi kelompok administered prices tercatat cukup tinggi dipengaruhi penyesuaian tarif listrik tahap ketiga. Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK hingga Juni tercatat 2,38 persen atau secara tahunan mencapai 4,37 persen.

Sementara itu komponen volatile foods (VF) mengalami inflasi sebesar 0,65 pesen (mtm), lebih rendah dari data historis periode lebaran dalam tiga tahun terakhir yang mencatat rata-rata inflasi 1,78 persen, (mtm). Komoditas cabai merah, bawang putih, dan cabai rawit tercatat mengalami deflasi. Sementara itu, beberapa harga komoditas terutama ikan segar, bawang merah, daging ayam ras, pepaya, beras, dan daging sapi tercatat meningkat. Secara tahunan, inflasi volatile food mencapai sebesar 2,17 persen.

Tirta merincikan, inflasi inti Juni 2017 tercatat cukup rendah, yaitu 0,26 persen (mtm) atau lebih rendah dari historis inflasi inti periode lebaran tiga tahun terakhir yang sebesar 0,40 persen (mtm). Kenaikan harga barang dalam kelompok ini seperti emas perhiasan, kue kering berminyak, mie, nasi dengan lauk, dan baju muslim wanita masih cukup terkendali. Inflasi kelompok inti semakin terkendali karena harga cat tembok dan mesin cuci tercatat menurun. Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 3,13 persen. Inflasi administered prices pada Juni 2017 tercatat tinggi, yaitu 2,10 persen (mtm).

“Ke depan, inflasi akan tetap diarahkan agar tetap berada pada sasaran inflasi 2017, yaitu 4,0±1%. Untuk itu, koordinasi kebijakan Pemerintah di pusat dan daerah dengan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi terus diperkuat,” pungkasnya.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *