,

Pentingnya Keluarga Siaga Bencana

Oleh Irawati

Indonesia berada pada daerah rawan bencana. Letak di lempeng Eurasia dan Australia menjadikan Indonesia sering diguncang oleh gempa bumi tektonik akibat pergeseran kedua lempeng tersebut. Ditambah lagi dengan bencana-bencana lainnya. Karena itu membentuk keluarga yang siaga bencana merupakan suatu keharusan.

Aceh juga merupakan bagian dari kerawanan tersebut. Bencana di Indonesia secara umum dan Aceh khususnya, bukanlah semata-mata hanya gempa bumi saja, masih banyak bencana-bencana alam lainnya yang selama ini makin sering kita rasakan. Banjir, angin kencang, hujan lebat, tanah longsor, dan lain sebagainya seolah sudah menjadi ragam cerita harian yang terus terpublikasi silih berganti.

Mitigasi bencana, sebagai upaya untuk mengurangi risiko menjadi korban akibat bencana, sudah terlihat semakin melibatkan kelompok masyarakat dalam kegiatannya. Sudah banyak kelompok masyarakat yang dibentuk dan diberi pendidikan khusus mengenai kebencanaan ini. Kelompok masyarakat ini hendaknya sudah betul-betul memahami kegiatan-kegiatan yang mesti mereka lakukan dalam mewujudkan kesiap-siagaan ini.

Kegiatan seperti menyiapkan tanda bahaya yang disepakati dan mensosialisasikannya kepada seluruh masyarakat, menyiapkan tempat evakuasi dan melengkapinya dengan sarana dan prasarana yang diperlukan ( seperti tenda, genset dan lampu-lampu, bahan makanan kering, air minum dalam kemasan, peralatan masak, dan lain lain).

Selain itu perlu juga dilakukan inventarisasi potensi warga dalam hal keahlian misalnya dokter, perawat, instalasi listrik, tukang masak, serta menginventarisir sarana yang diperlukan misalnya kendaraan, alat komuniksi, alat P3K dan lain sebagainya.

Lebih penting dari itu adalah menyusun perencanaan untuk membantu masyarakat dalam membuat perencanaan untuk persiapan sebelum bencana, penanggulangan pada saat terjadi bencana dan pemulihan setelah bencana.

Selama ini sudah banyak pendidikan kebencanaan yang diberikan kepada pelajar di sekolah. Lewat pendidikan, pelajar-pelajar kita perlu disadarkan bahwa daerah yang kita tempati saat ini rawan bencana alam. Sekolah diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan siswa menghadapi segala bentuk bahaya yang mungkin timbul akibat bencana, sehingga mampu menghadapi dan melakukan tindakan penyelamatan diri pada saat bencana terjadi.

Keluarga menjadi institusi pertama dan utama dalam membentuk karakter, mental, serta kualitas SDM. Kesadaran ini perlu ditanamkan kembali secara mendalam kepada segenap masyarakat, termasuk dalam penanaman kebiasaan siap siaga bencana.

Berbicara tentang keluarga yang siaga bencana, tentu tidak terlepas dari peningkatan pengetahuan bahwa kita semua sangat perlu memahami upaya-upaya dan langkah-langkah yang tepat dalam penanggulangan bencana. Keluarga sebagai unsur terkecil dalam lingkungan sosial masyarakat, jika dapat menjadi keluarga yang siaga bencana, maka akan memungkinkan terbentuk suatu sistem masyarakat yang juga siap siaga terhadap bencana.

Kita perlu belajar siaga menghadapi bencana dari Jepang. Seperti diberitakan dilansir Kompasiana.com, salah satu langkah konvensional yang sudah membudaya pada masyarakat Jepang hingga saat ini untuk mengatasi bencana adalah “Rumah Siaga Bencana”. Rumah siaga ini merupakan salah satu bentuk mitigasi bencana secara konvensional yang melibatkan masyarakat bersama-sama pemerintah membangun ketangguhan menghadapi bencana. Setiap rumah memiliki ‘tas siaga bencana’.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membentuk keluarga siap siaga bencana antara lain, memberi pendidikan kebencanaan kepada keluarga, mengajarkan keluarga tehnik yang tepat dalam melakukan penyelamatan diri, menyiapkan tas siaga di tempat yang mudah dijangkau.

Selain itu, berdiskusi dan menyepakati lokasi bertemu atau berkumpul saat menghindar dari bencana, menyimpan nomor telepon penting. Langkah-langkah itu dapat diterapkan dalam keluarga guna membina keluarga yang siaga bencana. Dengan keluarga yang siaga bencana, diharapkan akan terbentuk kesiapsiagaan seluruh masyarakat dalam menghadapi bencana, dimana saja dan kapan saja.[**]

Irawati adalah mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

One Comment

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *