,

Pengusaha Harus Teladani Tradisi Wakaf Saudagar Aceh

BANDA ACEH – Para pengusaha Aceh, baik di daerah, kancah nasional, maupun internasional, harus memiliki jiwa dan spirit seperti saudagar Aceh tempo dulu yang mendedikasikan keberhasilannya untuk masyarakat banyak.

Sejarah wakaf rumah Aceh (Baitu Asyi) di Arab menjadi salah satu bukti bagaimana peninggalan saudagar dan ulama Aceh zaman dahulu, Habib Bugak Asyi yang hingga kini masih bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat Aceh. “Spirit ini yang harus dibangkitkan lagi oleh pengusaha-pengusaha sukses Aceh,” ujar Ketua Komite Internasional Kamar Dagang dan Indistri (KADIN) Aceh, Shalahuddin Alfata, Rabu, 11 Oktober 2017.

Shalahuddin mengungkapkan, suksesnya pengusaha Aceh di Arab pada masa lalu, membuat bangsa Arab memangil orang Aceh dengan lakab Asyi sebagai sebuah pengakuan identitas bagi setiap orang Aceh di Arab.

“Kontribusi para Asyi, orang Aceh di Arab masa lalu itu sangat luar biasa. Hingga kemudian ada hubungan emosional antara Aceh dengan Arab. Ini juga salah satu faktor Aceh digelar sebagai serambi Mekkah,” jelasnya.

Masih menurut Shalahuddin Alfata, sejarah juga mencatat Kerajaan Aceh pernah mengirim sumbangan emas kepada Kerajaan Arab Saudi yang kala itu dikenal sebagai Tanah Hijaz.

“Orang Aceh bukan hanya mewakafkan tanah tapi juga emas yang didatangkan khusus dari Aceh ke Mekkah Al Mukarramah pada abad ke-17 masehi. Ini yang kemudian membuat hubungan dagang dan diplomasi Aceh dengan Arab sangat kuat,” lanjutnya.

Untuk memperkuat hubungan dagang dan politik, pada tahun 1672 Masehi, penguasa Arab, Syarief Barakat mengirim dutanya ke Aceh untuk mencari sumbangan dana pemeliharaan Masjidil Haram. Duta Arab itu sampai ke Aceh pada tahun 1681 Masehi atau sekitar tahun 1091 Hijriah saat Aceh dipimpin oleh Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah.

“Sejarah mencatat ketika delegasi Arab itu kembali, Aceh menyumbang tiga kinthar emas murni, tiga rathal kamfer, kayu cendana dan civet (jeubeuet musang) tiga gulyun yakni alat penghisap tembakau dari emas, dua lampu kaki (panyot dong) dari emas, lima lampu gantung dari emas untuk Masjidil Haram, lampu kaki dan kandil daeri emas untuk Masjid Nabawi,” ungkap Shalahuddin Alfata.

Selain itu. Lanjut Shalahuddin Alfata, sikap demawan penguasa Aceh juga diikuti oleh saudagar-saudagar Aceh yang juga menyumbang dan mewakafkan hartanya. Wakaf dari saudagar Aceh masa lalu itu masih tercatat dalam dokumen resmi Kerajaan Arab Saudi hingga sekarang.

Wakaf tersebut diantaranya adalah: Baitul Asyi (rumah Aceh) wakaf Syeik Habib Bugak Al Asyi, wakaf syeikh Muhamamd Saleh Asyi dan istrinya Syaikhah Asiah (sertfikiat nomor 324) di Qassasyiah, wakaf Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail (pasar seng), wakaf Muhammad Abid Asyi, wakaf Abdul Azis bin Marzuki Asyi, wakaf Datuk Muhammad Abid Panyang Asyi di Mina.

Selain itu juga ada wakaf Muhamamd Saleh Asyi di Jumrah Ula di Mina, rumah wakaf di kawasan Baladi di Jeddah, rumah wakaf di Taif, rumah wakaf di kawasan Hayyi Al Hijarah Mekkah, rumah wakaf di kawasan Al Aziziyah Mekkah, wakaf Aceh di Suqulail Zugag Al Jabal di kawasan Gazzah.

Kemudian rumah wakaf Syech Abdurrahim Bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Teungku Syik Awe Geutah, Peusangan) di Syamiah Mekkah, wakaf Syeikh Abdusalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Teungku Di Meurah, Samalang) di Syamiah, wakaf Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi di Syamiah, serta wakaf Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi di Syamiah.

“Itu membuktikan bagaimana saudagar Aceh dulu mendedikasikan dirinya bukan hanya untuk kejayaan dunia, tapi juga berinvestasi untuk akhirat. Spirit ini yang mulai pudar pada pengusaha Aceh. Tradisi lelulur kita yang banyak mewakafkan tanahnya di Mekkah ini harus dijadikan sebagai contoh teladan oleh pengusaha-pengusaha keturunan Aceh sekarang, baik yang di Aceh, nasional, maupun yang berkiprah di kancah internasional,” harap Shalahuddin Alfata.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *