,

Pemerkosa Anak di Bawah Umur Dicambuk 153 Kali

TAPAKTUAN – Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Selatan menggelar eksekusi cambuk terhadap dua orang terpidana pelaku pemerkosaan terhadap anak di bawah umur di halaman kantor Kejari, Tapaktuan, Jumat, 5 Mei 2017 sekitar pukul 11.30 WIB.

Kedua terpidana yang sudah mendapat vonis hakim pengadilan syariah Tapaktuan tersebut masing-masing benama M Junaidi Alias Juned dan Tarmizi. Namun hdilaksanakan terhadap M Junaidi, sementara Tarmizi tidak bisa menjalani eksekusi hukuman cambuk karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.

Terpidana M. Junaidi (20 tahun) berasal dari Gampong Krueng Batee, Kecamatan Trumon Tengah merupakan pelaku pemerkosaan terhadap anak di bawah umur terbukti telah melanggar Qanun Aceh Nomor : 6 tahun 2014 tentang hukum Jinayat.

Mahkamah Syar’iyah Tapaktuan menghukum terpidana dengan jumlah `uqubat cambuk Ta’jir sebanyak 160 kali dipotong masa tahanan selama 196 hari sehingga jumlah hukuman cambuk yang diterima menjadi 153 kali.

Sesuai tata cara hukuman cambuk yang diatur dalam Qanun Jinayat, proses eksekusi cambuk dilakukan pertahapan. Tahap pertama dilakukan sebanyak 25 kali selanjutnya terpidana diperiksa kesehatannya oleh tim dokter.

Setelah eksekusi cambuk terhadap M. Junaidi dilakukan pada tahap terakhir tim dokter memutuskan untuk melanjutkan eksekusi cambuk terhadap yang bersangkutan hingga selesai seluruhnya sebanyak 153 kali.

Sedangkan terpidana Tarmizi warga Kecamatan Pasie Raja yang merupakan terpidana kasus pemerkosaan juga terhadap anak sekolah dasar masih di bawah umur seharusnya akan mendapat hukuman cambuk sebanyak 200 kali. Namun karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan sehingga eksekusi cambuk kembali terpaksa dibatalkan.

Pembatalan ini merupakan sudah yang ketiga kali setelah pada beberapa rencana eksekusi cambuk sebelumnya pihak Kejari selalu menemukan kendala dan hambatan serupa saat hendak mengeksekusi cambuk terhadap yang bersangkutan.

Kepala Kejari Aceh Selatan, Munif SH menyatakan, karena beberapa kali rencana eksekusi cambuk terhadap terpidana Tarmizi selalu gagal, maka sesuai ketentuan KUHAP yang bersangkutan sudah harus dibebaskan tidak boleh lagi dilakukan kurangan badan.

Ia menjelaskan, terpidana Tarmizi yang dalam kondisi sakit tersebut harus dibebaskan karena sudah cukup lama eksekusi cambuk terhadap yang bersangkutan tidak bisa dilaksanakan. Yang bersangkutan tidak mungkin terus menerus ditahan sebab hal itu bisa menjurus pelanggaran HAM.

Sementara untuk opsi tebusan mahar pengganti cambuk juga tidak mungkin sanggup dipenuhi oleh yang bersangkutan yang hidup dibawah garis kemiskinan. “Hal ini merupakan salah satu kelemahan Qanun Jinayat di Aceh, karena tidak mengatur secara spesifik terkait implementasi pemberian hukuman terhadap terpidana,” jelasnya.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *