,

Pemerintah Setujui Malahayati Jadi Pahlawan Nasional

JAKARTA – Pemerintah akhirnya menyetujui pengangkatan Malahayati dari Aceh sebagai pahlawan nasional. Dengan demikian Aceh sudah memiliki 3 perempuan pahlawan nasional dari 15 pahlawan nasional dari seluruh Indonesia. Pengumuman secara resmi akan dilakukan pada upacara peringatah hari pahlawan, 10 November 2017 nanti.

Kepastian itu disampaikan Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, H Firmandez, Jumat, 27 Oktober 2017 di Jakarta. Politisi Golkar di DPR RI asal daerah pemilihan (Dapil) Aceh 2 ini menjelaskan, ada 3 pahlawan nasional yang ditetapkan tahun ini, salah satunya Malahayati dari Aceh.

“Dua orang lagi yang disetujui itu adalah Mahmud Marzuki dari Riau dan Tuan Guru Kyia Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madid atau dikenal sebagai Hamdanwadi dari NTB,” jelas H Firmandez.

Diakuinya Malahayati sebagai pahlawan nasional telah menambah jumlah perempuan asal Aceh yang menjadi pahlawan nasional. Sebelumnya pemerintah Republik Indonesia telah mengakui dua perempuan Aceh lainnya, yakni Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia sebagai pahlawan nasional.

“Kita bersyukur atas pengangkatan Malahayati ini dan kita patut berbangga dari 15 orang perempuan pahlawan nasional, 3 orang diantaranya merupakan orang Aceh,” jelas H Firmandez.

Anggota DPR RI asal Aceh ini melanjutkan, Aceh masih memiliki peluang untuk menambah perempuan nasional asal Aceh. selain Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan Keumalahayati, sejarah Aceh mencatat ada wanita-wanita tangguh lainnya asal Aceh yang aktif digarda depan peperangan melawan penjajahan Belanda, bahkan mereka langsung memimpin peperangan bersama pasukannya.

Wanita-wanita lainnya pejuang asal Aceh yang potensial untuk jadi pahlawan nasional itu adalah Pocut Meuran Intan yang dikenal sebagai Pocut Di Biheue di Pidie, Pocut Baren di Woyla Aceh Barat dan Teungku Fakinah di Aceh Besar.

“Mereka-mereka itu pejuang-pejuang tanggung di masa perang dengan Belanda. Nama-nama mereka tertulis dengan tinta emas dalam buku Prominent Women in the Glimpse of Histori atau wanita-wanita utama nusantara dalam sejarah,” ungkap H Firmandez.

Malah lanjut H Firmandez, karena kegigihannya melawan penjajahan Belanda, Pocut Di Biheue pada akhir hidupnya setelah sakit akhibat perang ditawan oleh Belanda dan diasingkan ke Jawa Timur. Ia dimakamkan di Blora, Jawa Timur.

“Pocut Di Biheue ini dicatat dalam sejarah bukan hanya oleh bangsa Indonesia tapi juga oleh Belanda. Perwira militer Belanda semasa Perang Aceh, Veltmant yang dikenal sebagai Tuan Pedoman yang bisa berbahasa Aceh, datang langsung menjenguk Pocut Di Biheue dalam sakitnya sebelum ditawan. Veltmant berdiri tegak dan mangangkat tabik menaruh hormat atas perempuan pemberani itu,” jelas H Firmandez.

Begitu juga dengan Pocut Baren wanita pejuang tanguh asal Woyla, Aceh Barat, kakinya diamputasi setelah ditangkap oleh Belanda. Sementara Teungku Fakinah memimpin perang melawan Belanda di empat benteng pertahanan.

“Spirit kepahlawanan perempuan-perempuan Aceh masa lalu luar biasa. Mereka pantas digelar sebagai pahlawan nasional. Spirit mereka itu yang harus ditiru oleh generasi Aceh sekarang dalam membangun bangsa dan negara,” harap H Firmandez.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *