,

Pemerintah Pusat Bangun Dua Pesantren di Aceh

KUALA SIMPANG – Pemerintah Pusat melalui Departemen Pekerjaan Umum (PU) mengalokasikan dana Rp60 miliar untuk membangun asrama santri/santriwati untuk dua pesantren di Aceh. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya membangun infrastruktur syariah di Aceh.

Kedua pesantren yang dibantu tersebut adalah Dayah Babussalam, Abu Tumin Blang Bladeh, Bireuen, dan Dayah Bustanul Huda, Abu Paya Pasi, Julok Aceh Timur. Masing-masing dayah dibantu Rp 30 miliar melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) 2016.

Hal itu diungkapkan anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, H Firmandez, Rabu, 30 Maret 2016 di sela-sela sosialisasi dana desa di Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khsus (Otsus) Aceh ini menjelaskan, pembangunan asrama santi/santriwati di dua dayah tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan infrastruktur penegakan syariat Islam di Aceh.

“Kita telah perjuangkan itu. Alhamdulillah disetujui. Bagaimana pun Pemerintah Pusat harus membangun infrastruktur syariah di Aceh, karena Syariah Islam di Aceh merupakan amanah undang-undang. Jadi tidak mungkin maksimal kalau hanya mengandalkan dana Otsus dan APBA saja,” jelas politisi Golkar tersebut.

Firmandez melanjutkan, disetujuinya pembangunan asrama di dua dayah tersebut merupakan hasil perjuangan bersama dalam mengupayakan anggaran untuk pembangunan infrastruktur syariah di Aceh.

“Bupati Bireuen, Ruslan H M Daud juga ikut mengirimkan tim ke Jakarta untuk sama-sama berjuang. Begitu juga dengan Badan Dayah. Ini salah satu upaya kita bersama-sama untuk Aceh. Ke depan kita berharap akan ada lagi bantuan-bantuan untuk dayah di Aceh,” lanjut Firmandez.

Selain itu kata Firmandez, Aceh sebagai daerah Syariat Islam, harus memiliki fasilitas pendukung syariat yang memadai. Infrasruktur syariah harus mencerminkan nilai-nilai Islami yang bersih dan baik agar penegakan Syariat Islam bisa berjalan maksimal.

“Kita berharap ke depan tidak ada lagi masjid yang kotor, asrama-asrama santri di dayah-dayah harus representatif. Miris kita lihat para santri harus tinggal berdesak-desakan dalam asrama. Dapurnya juga harus higenis, ini penting agar santri bisa menuntut ilmu dengan baik. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” harap Firmandez. [HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *