,

Pemerintah Diminta Fasilitasi Ekspor Kemiri Aceh

TAPAKTUAN – Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat diminta untuk memfasilitasi ekspor kemiri dari Aceh ke luar negeri. Selama ini komoditas unggulan tersebut diekspor melalui pengusaha di Medan, Sumatera Utara.

Suardi (43) pedagang pengumpul kemiri di Aceh Selatan mengungkapkan, kebergantungan pada pengusaha Medan membuat para petani rugi, karena biaya produksi yang dikeluarkan sangat tinggi, ditambah lagi dengan keuntungan yang diambil oleh agen dari Medan.

“Saat ini harga jual kemiri yang kami lepas ke pedagang besar di Medan, Sumatera Utara berkisar antara Rp 18.000 – Rp 20.000/kg. Sementara harga penjualan tingkat di Jakarta saja saat ini mencapai Rp 28.000-Rp 30.000/kg. Sedangkan harga di luar negeri bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari harga Jakarta,” kata Suardi, Jumat, 21 Oktober 2016.

Warga Desa Krueng Batu, Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan ini menyatakan, melihat begitu banyaknya produksi buah kemiri di beberapa daerah dalam Provinsi Aceh khususnya Aceh Selatan, ia menilai bahwa sudah sepantasnya Pemerintah memfasilitasi ekspor kemiri Aceh langsung dari Aceh agar keuntungan yang diperoleh kembali ke daerah.

“Ini penting agar para pedagang pengumpul buah kemiri di Provinsi Aceh tidak tergantung lagi dengan Medan, Sumatera Utara yang notabenenya selama ini sering melakukan praktik monopoli dagang sehingga mengakibatkan tidak adanya kestabilan harga,” jelasnya.

Suardi mengaku sudah pernah melakukan penjajakan dengan berbagai pihak terkait upaya ekspor langsung kemiri Aceh ke luar negeri melalui Pelabuhan Kreung Geukeuh, Lhokseumawe. Namun sayangnya rencana tersebut tidak mendapat respon positif karena ada hambatan dan kendala teknis yang dihadapi di lapangan salah satunya menyangkut persoalan perizinan.

Padahal, lanjut dia, ketersediaan bahan baku komoditas buah kemiri di Provinsi Aceh tidak perlu diragukan lagi sebab jika harga penjualan mampu di atas harga normal yang dibeli oleh padagang pengumpul besar di Medan, Sumatera Utara, maka pihaknya mengklaim bahwa sanggup menyediakan berapapun kebutuhan atau permintaan buah kemiri tersebut.

Contohnya, kata Suardi, sekitar tahun 2009 hingga 2011 lalu disaat harga penjualan buah kemiri yang ditampung oleh pedagang besar di Medan tergolong tinggi karena saat itu ada kontrak dagang dengan Arab Saudi, pihaknya sanggup memasok buah kemiri mencapai 30 hingga 50 ton per minggu.

Namun kondisi saat ini sangat berbanding terbalik dari sebelumnya, sebab dengan tidak adanya sebuah ketetapan harga yang jelas karena cenderung sering naik turun (fluktuatif), maka pihaknya hanya mampu memasok buah kemiri ke Medan, Sumatera Utara sekitar 4 hingga 5 ton per minggu.

“Jumlah pasokan barang yang kami kirim ke Medan selama ini tergantung kondisi harga. Jika harga normal seperti biasa maka jumlahnya berkisar antara 4 hingga 5 ton/minggu. Namun jika harga sedikit naik maka pasokan bisa kami buru hingga mencapai 10 ton,” ungkapnya.[Hendri Z]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *