,

Pelajar Malaysia di Aceh Perkuat Kerja Sama Serumpun

BANDA ACEH – Para pelajar dan mahasiswa asal Malaysia di Aceh yang tergabung dalam Persatuan Kebangsaan Pelajar Malaysia di Indonesia-Cawangan Aceh (PKPMI-CA), Rabu, 7 Maret 2018 melakukan audiensi dengan Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh.

Mereka diterima oleh Wakil Wali Kota Zainal Arifin. Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum PKPMI-CA Amirul Nasyriq yang datang bersama delapan rekannya memperkenalkan organisasi yang bernaung resmi di bawah Kedubes Malaysia di Indonesia.

“Saat ini kami memiliki 452 anggota yang sebagian besar kuliah di UIN Ar-Raniry, dan sebagian lain menuntut ilmu di beberapa pesantren yang ada di Banda Aceh hingga ke Samalanga. Tugas utama PKPMI-CA adalah untuk membantu segala keperluan mahasiswa asal Malaysia yang ada di Aceh, mulai dari hal akademik, imigrasi hingga keselamatan. Adapun tujuan kedatangan kami adalah untuk bersilaturahmi sekaligus memperdekatkan lagi hubungan dua negara serumpun, Indonesia-Malaysia,” jelas Amirul.

Menurutnya, mereka adalah duta kecil negaranya yang menjadi cerminan Malaysia secara keseluruhan. “Mengapa kami memilih kuliah di sini, karena Aceh tempat yang sangat cocok untuk belajar agama Islam dengan serius. Universitasnya lebih bagus daripada daerah lain, demikian juga dengan pesantrennya,” ungkapnya.

Amirul melanjutkan, pihaknya juga kerap mempromosi Aceh khususnya Banda Aceh saat berada di Malaysia, dan warga Malaysia sangat tertarik untuk berwisata ke Aceh.

Menanggapi hal itu Wakil Wali Kota Zainal Arifin menjelaskan, Aceh dan Malaysia memiliki sejarah panjang dan hubungan yang harmonis sejak dulu. “Bahkan di Banda Aceh ada Gampong Keudah. Dan saya juga baru pulang dari Keudah, Malaysia, dan mendapat sambutan yang sangat hangat dari datuk bandar di sana,” jelasnya.

Pemko Banda Aceh, katanya, juga tengah bekerjasama dengan Malaysia terutama dalam bidang pendidikan. “Kami telah mengirim 34 guru PAUD dan TK ke Malaysia, dan April ini akan kita kirim lagi untuk belajar di sana. Kami menilai, dari beberapa sisi, sistem pendidikan di Malaysia lebih maju dari pada Aceh maupun Indonesia,” lanjut Zainal Arifin.

Ia juga mengapresiasi para mahasiswa asal Malaysia yang mampu beradaptasi dengan masyarakat dan budaya serta peraturan yang berlaku di Aceh khsususnya Banda Aceh. “Alhamdulillah saya belum pernah menerima laporan tentang adanya mahasiswa asal Malaysia yang bermasalah terutama terkait dengan pelanggaran syariat Islam. Saya yakin kondisi kondusif ini dapat terus dipertahankan, apalagi kultur budaya kita tak jauh berbeda,” pungkasnya.[rls]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *