,

Pasien Gangguan Jiwa Tewas Tergantung di Rumah Sakit

TAPAKTUAN – Syahrul, 30 tahun, pasien gangguan jiwa asal Gampong Pulo Kambing, Kluet Utara, Aceh Selatan, ditemukan tewas tergantung di kamar mandi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yulidin Away, Tapaktuan, Senin malam, 6 Februari 2017 sekitar pukul 22.15 WIB.

Syahrul merupakan pasien yang sedang menjalani perawatan di Unit Pelayanan Insentif Psikiatri (UPIP) Cempala RSUD Yulidin Away. Kematian Syahrul pertama kali diketahui oleh perawat piket yang masuk shif siang bernama Devi Suhelmi.

Karena mau operan (ganti) piket dengan perawat yang masuk shif malam bernama Anzirwan, mereka secara bersama-sama mendatangi seluruh ruangan sambil mengecek para pasien yang sedang dirawat.

Ketika didatangi ruangan isolasi tempat korban berada, mereka menaruh curiga sebab biasanya Syahrul yang sejak masuk ke UPIP Cempala tersebut pada Sabtu, 4 Februari 2017 selalu membuat keributan dan sering berteriak-teriak sendiri, kenapa secara tiba-tiba diam waktu dipanggil dari balik jeruji besi.

Devi Suhelmi mengungkapkan, Syahrul terpaksa ditempatkan di ruangan isolasi khusus sendiri, karena sering mengamuk sehingga dinilai berbahaya jika digabungkan dengan pasien lain.

“Sudah tiga hari dia berada di rumah sakit sering berteriak sehingga ruangan gaduh. Namun saat kami lakukan pengecekan sekitar pukul 22.15 WIB itu mau ganti piket, kami merasa aneh karena waktu dipanggil pasien tidak menyahut. Untuk memastikan apa yang terjadi, kami masuk ke dalam ternyata pasien sudah gantung diri dalam kamar mandi,” ujar Devi Suhelmi.

jasad Syahrul tergantung dengan leher terlilit jelana jeans yang terikat ke jeruji kamar mandi. Sebagai tempat pijakannya, korban menarik sebuah ember tempat penampungan air lalu berdiri di atas ember tersebut.

Jenazah korban kemudian dievakuasi ke ruangan kamar jenazah RSUD YA. Menurut informasi, pihak rumah sakit sudah menghubungi keluarga korban via handphone. Namun keluarga korban langsung meminta agar jenazah langsung dibawa ke rumah duka di Desa Pulo Kambing dengan syarat tidak boleh dikafankan di rumah sakit, sebab pihak keluarga ingin melihat langsung wajah dan leher korban terjerat celana jensnya.[Hendri Z]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *