Panorama Lhok Me dan Kota Kuno yang Hilang

0
361

Lhok Me merupakan salah satu objek wisata bahari terfavorit di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Letaknya sebelah timur Pelabuhan Krueng Raya. Di atas bukit pesisir pantai itu, ada Lamuri, kota kuno yang tak lagi diketahui wujudnya.

Perjalanan pertama saya ke Lhok Me terjadi jauh sebelum kawasan itu ditata menjadi objek wisata. Adalah kawan-kawan dari Komunitas Aceh Forum yang pertama kali mengajak saya ke sana, sekitar sebelas tahun yang lalu, ya tahun 2008 silam.

Perjalanan ke sana dari Kota Banda Aceh dengan sepeda motor butuh waktu hampir satu jam. Jelang siang kami tiba di Pelabuhan Krueng Raya, membeli bekal makanan pada kios sekitar pasar. Maklum, Lhok Me pada masa itu masih “perawan” belum ada yang menjajakan makanan.

Dari Pasar Krueng Raya kami harus menaiki jalan berkelok dan berbukit, terus melaju ke arah timur. Tak lama kemudian kami melintas sebuah bukit. Kawanku mengatakan itu Bukit Soeharto. Ya, Soeharto Presiden kedua Republik Indonesia. Katanya, ada sebuah rumah mewah dulu di sini milik keluarga Cendana.

Beberapa menit selanjutnya kami tiba di sebuah persimpangan, belok ke kiri lewat jalan setapak menuju pantai. “Ini dia Lhok Me,” kata kawan saya. Kami bergegas, memarkirkan sepeda motor begitu saja di semak-semak. Kemudian berlari menuju bibir pantai. Lelah sepanjang perjalanan benar-benar hilang, ketika mata kami menghadau pasir putih dan laut yang tenang. Bagai dikomandoi oleh hasrat yang sama, tanpa basa-basi kami segerombolan terjun bebas ke laut, berenang dan menyelam. Kami benar-benar menikmati keindahannya.

Usai makan siang, saya memilih untuk berteduh di bawah semak-semak. Membuka catatan-catatan kecil. “Di mana kota kuno itu,” gumamku dalam hati. “Ya, di mana Lamuri, kota yang jauh sudah ada bahkan sebelum nama Aceh itu ada,” aku semakin penasaran.

Keingintahuanku itu seolah mendorongku untuk mencari “Lamuri” tapi di mana?. Yang kutahu hanyalah, Lamuri merupakan salah satu kerajaan tertua di Aceh, ia sudah ada jauh sebelum Kerajaan Aceh Darussalam muncul. Cerita tentang Lamuri banyak menghiasi literasi asing, mulai dari penulis Arab, Cina hingga Eropa.

Ingatanku kemudian melayang kepada buku berbahasa Belanda, De Hikayat Aceh ulasan dan terjemahan dari Hikayat Aceh berbahasa Melayu dan Aceh lama ke bahasa Belanda yang dilakukan oleh Prof Dr Teuku Iskandar, Dekan Pertama Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), dosen luar biasa di Brunei University, Brunei Darussalam dan guru besar di Leiden University, Belanda.

Catatan dari penjelasan Prof Dr Teuku Iskandar dalam De Hikayat Aceh mengungkapkan, berita tertua mengenai Lamuri ada dalam catatan Ibnu Khordadhbeh (844 – 848), Sulaiman (955), Mas’udi (943) dan Buzurg bin Shahriar (955) semuanya penulis-penulis Arab. Mereka telah menyebut Lamuri dengan nama Ramni dan Lamuri, sebuah daerah yang menghasilkan kapur barus dan hasil bumi penting lainnya pada masa itu.

Sementara AK Dasgupta dalam tesis Ph.D di Cornel University tahun 1962 dengan judul, Aceh in Indonesia Trade an Politic; 1600-1641 mengungkapkan, naskah dari Tiongkok (Cina) tentang Lamuri sudah disebut sejak tahun 960. Dalam naskah Tiongkok nama Lamuri disebut sebagai Lanli, sebuah tempat yang dapat disinggahi oleh utusan-utusan Parsi yang kembali dari Cina sesudah berlayar 40 hari lamanya. Di sana mereka itu menanti musim teduh untuk seterusnya berlayar lagi ke negeri asal mereka.

Nama Lamuri juga disebut dalam prasasti Tanjore (1030) dengan nama Ilamuridecam. Sejarawan NJ Krom dalam buku *Zaman Hindu* terjemahan Arif Efendi dan diterbitkan di Jakarta pada tahun 1956 oleh PT Pembangunan menjelaskan, Illamuridecam tersebut identik dengam Lamri atau Lamuri. Keterangan NJ Krom juga selaras dengan tulisan B HM Vlekke dalam buku Nusantara, A History of Indonesia (Let Editions Mankan SA Bruzelle, 1961).

Sementara RO Winstedt dalam bukunya A History of Malaya yang diterbitkan Luza de co di London pada tahun 1935, pada halaman 28 mengungkapkan, berdasarkan keterangan Chau Yu Kwa dalam buku Chu Fan Shi yang ditulis pada tahun 1225 juga menyebutkan nama Lan wu li sebagai Lamuri.

Dalam naskah itu Raja Lam wu li disebutkan belum beragama Islam, memiliki dua buah ruang penerimaan tamu di istananya. Jika ia bepergian ia diusung atau mengendarai seekor gajah. Jika dari negeri ini seorang bertolak di musim timur laut, maka ia akan tiba di Ceylon di dalam waktu 20 hari. Dalam tahun 1286, Lan wu li pernah mengirim utusan ke negeri Cina dan berdiam di sana sambil menunggu kembalinya ekspedisi Kubilai Khan. Masih menurut RO Winstedt, ketika Macro Polo pada tahun 1292 tiba di Sumatera, ia mendapatkan di sana delapan buah kerajaan di antaranya Lamri. Kerajaan ini katanya tunduk kepada Kaisar Cina dan mereka diwajibkan membayar upeti.

Kemudian dalam tahun 1310 seorang penulis Parsi bernama Rashiduddin menyebut untuk pertama kalinya, bahwa tempat-tempat penting “di pulau Lumari yang besar itu”, selain Peureulak dan Samudera adalah Aru dan Tamiang.

Pra Odorigo dari Pordenone yang singgah juga di Lamri. Mereka menyebutnya sebagai Lamori, mengatakan bahwa negeri ini banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang yang datang dari negeri-negeri jauh dan dikatakannya pula bahwa Lamori sering berperang dengan Sumoltra (Samudera) yang terletak di bagian selatan.

Sejak tahun 1286 Lamri telah mengirim utusan-utusannya ke Cina. Dalam buku tahunan Dinasti Ming dijelaskan pada tahun 1405 telah dikirim ke Lam bu li (Lamuri) sebuah cap dan sebuah surat dan pada tahun 1411 negeri ini mengirimkan utusan ke Cina untuk membawa upeti. Perutusan tiba bersamaan dengan kunjungan perutusan Klantan dan Cail, kemudian kembali bersama-sama ekspedisi Cheng Ho.

Tahun 1412 Raja Maha-Ma-Shah (Muhammad Syah) dari Lam bu li bersama-sama Samudera mengutus sebuah delegasi ke Cina untuk membawa upeti. Di antara utusan- utusan Lam bu li ke Cina yang secara teratur dikirim saban tahun terdapat nama Shache han (mungkin Syah Johan putera Muhammad Syah).

Sewaktu Ceng Ho dalam tahun 1430 membawa hadiah-hadiah keseluruh negeri, Lamri juga memperolehnya. Besar kemungkinan bahwa pengiriman hadiah-hadiah ini bukanlah untuk pertama kali, karena lonceng bernama Cakro Donya yang dulunya tergantung di istana Sultan Aceh dan sekarang disimpan di Museum Aceh dengan tulisan Cina dan Arab padanya dibubuhi angka tahun 1409. Menurut dugaan Tichelman bahwa lonceng ini dibawa dari Pase ke Aceh sesudah kerajaan itu dapat ditaklukkan oleh Ali Mughayatsyah.

Sepoi angin pantai Lhok Me kemudian menyadarkanku, bahwa masih banyak panorama yang harus dinikmati, dari pada terpaku pada sebuah catatan. Kami akan terus menelusuri pantai itu hingga petang. Meski larut dalam keindahan panorama Lhok Me, pikiranku tetap berjalan bagai penziarah yang mencari pusara; di mana Lamuri, kota kuno yang penuh sejarah itu?.[Iskandar Norman]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here