Panglima Nyak Dum Diplomat Perekat Aceh–Turki (2)

0
182

Aceh da Turki punya ikatan sejarah yang kuat. Kisah diplomat Panglima Nyak Dum dengan meriam Lada Sicupak salah satu jejaknya. Armada Turki juga pernah membantu melatih tentara Kerjaan Aceh dan mengusir Portugis di Selat Malaka.

Baca: Panglima Nyak Dum Diplomat Perekat Aceh-Turki (1)

Pengakuan Turki Terhadap Aceh
Pemberian Turki berupa meriam dan bendera kepada Kerajaan Aceh sebagai bentuk pengakuan Turki bahwa Kerajaan Aceh berada di bawah perlindungan khalifah Islam. Bantuan Turki kepada Aceh itu bukan saja sebagai bantuan militer belaka, tapi memiliki arti politik yang menjelaskan tentang kedudukan Aceh dalam kesatuan kekhalifahan Islam.

Tentang hubungan Aceh dengan Turki juga ditulis dalam buku Aceh, Nusantara dan Khilafah Islamiyah, terbitan Huzbut Tahrit Indonesia (2005). Buku itu merujuk pada buku Protecting the Routhers to Mecca, karangan Farooqi.

Dalam buku itu dijelaskan bawa Farooqi menemukan sebuah arsip dari Khalifah Utsmani yang berisi sebuah petisi dari raja Aceh, Sulthan Alauddin Riayat kepada penguasa Turki, Sulthan Sulayman Al-Qanuni. Farooqi menyebutkan surat itu dibawa oleh seorang utusan bernama Huseyn Effendi. Mungkin ini yang dimaksudnya adalah Panglima Nyak Dum sebagaimana dalam riwayat sejarah Kerajaan Aceh.

Dalam surat itu dijelaskan bahwa, Kerajaan Aceh mengakui penguasa Utsmani sebagai Khalifah Islam. Surat itu juga berisi laporan tentang aktivitas militer Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap para pedagang muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Mekkah. Karena itu, Aceh meminta bantuan Turki untuk menghalau Portugis di Selat Malaka.

Meski Sulthan Sulayman Al-Qanuny wafat pada tahun 1566 Masehi, akan tetapi petisi Aceh mendapat dukungan dari penggantinya, Sulthan Selim II (1566-1574). Ia mengeluarkan perintah untuk melakukan ekspedisi besar militer ke Aceh.

Turki Mengirim Tentaranya ke Aceh
Sekitar September 1567, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis diperintahkan berlayar menuju Aceh dengan sejumah ahli senjata api, tentara dan alteleri. Pasukan ini diperintahkan tetap berada di Aceh selama dibutuhkan oleh kerajaan Aceh.

Menurut Ayumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, dalam perjalanannya armada besar itu hanya sebagian yang sampai ke Aceh karena dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir pada tahun 1571.

Kehadiran Kurtoglu Hizir Reis bersama armada dan tentaranya disambut dengan upacara besar oleh raja Aceh. Kurtoglu Hizir Reis kemudian diberi gelar Gubernur Turki di Aceh yang merupakan utusan resmi Khalifah Utsmani yang ditempatkan di Kerajaan Aceh.

Catatan lainnya, dalam buku karangan Marwati Djuned Pusponegoro, Sejarah Nasional Indonesia, jilid III, pasukan Turki yang tiba di Aceh antara tahun 1566 sampai 1577 sebanyak 500 orang, termasuk ahli senjata api, penembak dan ahli peperangan. Dengan bantuan itu Kerajaan Aceh menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1568.

Inilah beberapa literasi sejarah tentang hubungan baik Kerajaan Aceh dengan Turki pada masa lampau. Jadi sangat beralasan jika Wakil Perdana Menteri Turki, Fikri Isik dalam kunjungannya ke Aceh, Jumat, 13 Oktober 2017, mengatakan bahwa Ia ke Aceh untuk melanjutkan apa yang telah dibina oleh nenek moyang orang Turki dengan Aceh tempo dulu. Semoga hubungan diplomasi Aceh – Turki ini terus berlanjut dalam segala bidang.[Selesai]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here