,

Pacuan Kuda Gayo Antara Jodoh dan Mantra

Pacuan kuda tradisional di Gayo Lues, bukan hanya sekedar perlombaan adu cepat saja. Di balik itu juga bermain matra-mantra para pawang untuk kemenangan kuda sang tuan. Sementara bagi muda-mudi, itu juga ajang mencari jodoh.

Setiap ada event pacuan kuda tradisional, masyarakat dari sebelas kecamatan di negeri seribu bukit tersebut akan hadir untuk menyangksikannya. Tak menyaksikan pacuan kuda akan dianggap tetangga sebagai orang yang tak berpunya. Ya.. diangap tak punya uang karena untuk nonton pacuan kuda saja tak bisa.

Begitulah, meski zaman telah berubah, penggunaan mantra pada pacuan kuda masih tak lekang di arena pacu. Seperti pada perlombaan pacuan kuda yang digelar Pemkab Gayo Lues sejak 8 Agustus 2016. Dan Minggu, 14 Agustus 2016 merupakan puncaknya. Partai final digelar di stadion Buntul Nege, ribuan warga berjubel untuk menyaksikan kuda sang juara berlaga.

Inen Ayu salah satu warga Kecamatan Teragun mengatakan, dirinya datang bersama anggota keluarganya dari Terangun ke Buntul Nege hanya untuk menyaksikan perlombaan pacuan yang sudah turun temurun digelar di Gayo Lues. Untuk menyaksikan pacuan kuda ia rela mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu rupiah.

“Kami sengaja membawa nasi dari rumah, kami hanya sediakan uang untuk membeli jajanan di sini, itupun sudah ratusan ribu yang habis. Menyaksikan perlombaan pacuan kuda merupakan hal yang lumrah dilakukan warga setahun sekali, kadang ada warga yang merasa sangat malu jika tidak menonton pacuan kuda karena dianggap para tetangga tidak memiliki uang,” jelasnya sambil tersenyum.

Begitu juga dengan Kamisin warga Kecamatan Pining, ia bersama keluarganya datang ke pusat kota Gayo Lues hanya untuk menonton pacuan kuda karena sudah sangat lama tidak ke Blangkejeren, jauh hari sebelum pacuan kuda, dirinya sudah mempersiapkan biayanya.

“Dulu semasa saya lajang, pada saat pergelaran pacuan kuda dan tari saman merupakan moment mencari pacar atau mencari jodoh, karena hanya pada saat itu saja orang dari berbagai kecamatan berkumpul, setelah kenalan, langsung jalan-jalan, jika memang sudah cocok, langsung saja dibawa ke rumah pak Imam. Saya dulu juga menemukan jodoh di arena pacuan kuda,” katanya bangga sambil melirik istri di sampingnya.

Disamping hiburan dan tempat mencari jodoh, perlombaan pacuan kuda juga dimanfaatkan warga Gayo Lues sebagai ajang membuktikan kesaktian mantra. Biasnaya, kesaktian seseorang akan dimasukan ketubuh kuda sehingga saat berlari akan kencang dan bisa juara.

Ada juga yang menyiapkan obat dari rumahnya dengan cara menyembur air ke ubun-ubun kuda, memandikan kuda dengan peralatan tertentu, hingga memberikan kapur di bawah selengkang kuda.

“Jaman dulu kalau kita tidak memiliki kesaktian ataupun mantra-mantra yang hebat tidak akan pernah dikenal, berbeda dengan sekarang, kalau sekarang kita tidak punya uang maka dianggap remeh sama orang lain meskipun ada mantra, pokoknya jauh berbeda dengan zaman dulu,” kata Kamisin sambil menatap kuda-kuda yang berlari kencang di arena Buntul Nege. [Win Porang]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *