,

OTT KPK dan Runtuhnya Kesucian Astaka Meuligoe Aceh

Oleh Tuanku Warul Waliddin

Ditangkapnya Gubernur Aceh di Meuligoe oleh tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu, seakan telah meruntuhkan kesakralan dan kesucian tempat tersebut. Pasalnya, Meuligoe atau Pendopo tersebut merupakan bekas komplek Istana (Dalam) Kerajaan Aceh.

Bagi masyarakat Aceh “Dalam” atau komplek kediaman sultan merupakan salahs atu tempat sakral setelah Masjid Raya Baiturrahman. Dikatakan demikian, karena di Dalam inilah sultan Aceh bersama mufi dan para ulama serta wazirnya menyusun konsep pembangunan dan memimpin rakyat.

Komplek Dalam di Meuligoe Gubernur Aceh sekarang merupakan areal kedua pusat pemerintahan sultan Aceh, setelah komplek istana di Gampong Pande dipindahkan ke sana. Pemindahan dilakukan karena banjir besar (tsunami) yang terjadi sekitar 600 tahun lalu.

Ketika Aceh memasuki dalam periode perang dengan Belanda sejak 26 Maret 1873, kediaman sultan dipertaruhkan dengan segenap jiwa. Perang besar terjadi, sehingga sultan dan rakyat Aceh memindahkan lagi pusat kekuasaannya ke Keumala, Pidie. Maka sejak 1874 komplek Dalam dikuasi Belanda.

Sejak saat itu hingga 1945 Indonesia dinyatakan merdeka dari Belanda dan Aceh dibujuk oleh Soekarno melalui Daud Beureuh pada 1948 untuk bersama-sama membangun negeri nusantara yang bernama indonesia. Pendopo yang dahulunya Istana atau Keraton Sultan berubah menjadi Rumah Dinas atau Kediaman Gubernur Aceh secara turun temurun.

Pembicaraan menyangkut agenda pembangunan negeri dan pertemuan dengan para tamu gubernur dilangsungkan di tempat yang mulia ini. Namun sejak ditangkapnya oleh KPK Gubernur Aceh Bapak Irwandi Yusuf di tempat yang punya nilai yang sangat mulia bagi rakyat Aceh ini, maka nilai kesucian dan Astaka atau tempat yang tinggi di hati Rakyat Aceh ini menjadi terkotori.

Kota Medan yang menjadi Pusat pemerintahan Provinsi Sumut, dimana Gubernurnya berkediaman di rumah dinas Gubernur Sumut di jl. Sudirman, bukan di Istana Kesultanan Deli, demikian pula dengan provinsi lainnya di indonesia. Hanya di Aceh kondisi ini terjadi, dimana nilai serta simbol kemuliaan Istana Sultan Aceh menjadi rendah marwahnya disaat KPK menangkap Gubernur Pilihan Rakyat Aceh di tempat ini.

Sudah saatnya pemegang tampuk pemerintahan kedepan memikirkan lokasi lain untuk rumah dinas Gubernur Aceh kedepannya. Kini saatnya kita menjaga kesucian Istana Sultan Aceh ini untuk mengembalikan marwah Aceh di mata dunia, sudah cukup sejarah kita menjadi dongeng dengan catatan dari masa kemasa, namun kita tidak dapat menunjukkan bukti fisik simbol keagungan dan kebesaran kesultanan Aceh kepada dunia.

Mari merevitalisasi kembali nilai-nilai sejarah Aceh sebagai bentuk tanggung jawab kepada generasi Aceh selanjutnya. Agar rakyat Aceh kelak tidak lagi buta dengan sejarahnya.

*Tuanku Warul Waliddin adalah Pang Ulee Komando Aneuk Muda Alam Peudeung (Komandan) Al Asyi. Ia juga anggota Keluarga Besar Kesultanan Aceh Darussalam dari Dinasti Alaiddin dengan nama lengkap Tuanku Warul Walidin Bin Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah.

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *