,

Nostalgia Politik Kaukus Lima Serangkai

Politik tidak selamanya soal dominasi, tapi lebih dari itu adalah pengaruh. Kuantitas boleh sedikit, tapi kualitas jadi penentu. Itulah yang dilakoni lima politikus Aceh, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) periode 2009 – 2014.

Pada pemilu legislatif 2009, kekuatan Partai Aceh selaku partai politik lokal dengan partai nasional agak berimbang di DPRA, antara minus 50 dan 50 plus, tidak ada yang berhasil mendominasi perolehan kursi 50 persen plus satu. Nah, di tengah kekuatan yang agak berimbang itu, muncul empat partai kecil sebagai penentu. Nasional kah yang akan muncul atau lokal. Empat kursi partai gurem itu jadi penentu kekuatan di DPRA.

Mereka adalah H Firmandez dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Tgk Muhibbussabri A Wahab dari Partai Daulat Aceh (PDA) kini berubah menjadi Partai Damai Aceh (PDA), Erly Hasyim dari Partai Bulan Bintang (PBB) dan H Irmawan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PBB). Kekuatan mereka ditopang lagi oleh T Saifuddin dari Partai Patriot (non kursi). Mereka membentuk kaukus lima serangkai partai politik kecil.

Minggu, 1 Mei 2014, mereka kembali bertemu di salah satu Café di kawasan Jln Prof Ali Hasymi, Pango, Uleekareng, Banda Aceh. Mereka bernostalgia dan saling bercerita tentang pengalaman masa-masa di DPRA itu. Sebagaimana diketaui H Firmandez dan H Irmawan kini merupakan anggota DPR-RI asal Aceh. Reuni itu juga dihadiri Wakil Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Aceh, T Sulaiman Badai, dan Faisal politisi asal Bireuen.

“Kaukus partai kecil ini sangat menentukan wajah DPRA masa itu, meski kami hanya empat kursi, tapi kami penentu wajah DPRA, lokalkah atau nasionalkah. Awalnya kami dipandang sebelah mata oleh partai nasional peroleh kursi dominan, tapi ketika kami yang satu-satu ini berkumpul jadi empat, maka kami penentunya. Akhirnya kami memilih bergabung ke Partai Aceh,” jelas H Firmandez.

Firmandez yang kini menjadi Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh di DPR-RI menjelaskan, dengan semangat persaudaraan mereka diterima bergabung ke kelompok Partai Aceh di DPRA, sehingga PA jadi dominan. “Kami diterima dengan baik, dengan rasa persaudaraan, sehingga keempat kami dipercaya duduk dalam berbagai alat kelengkapan dewan,” ungkap Ketua Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh ini.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua PDA, Tgk Muhibbussabri A Wahab. Menurutnya, mereka yang dianggap kecil pada masa itu, ketika bergabung dengan PA di parlemen Aceh, menjadikan PA unggul di atas partai nasional. Ia membuat tamsilan. “Kami masa itu umpama paku, orang tidak memandang paku itu karena satu, jadi kami berkumpul, dan kemudian menjadi sandungan, menjadi penentu arah kebijakan dan anggaran,” jelasnya.

Tgk Muhib melanjutkan, dalam agama seseorang dilarang sombong, dalam politik lebih-lebih lagi tak boleh sombong. Ego partai nasional masa itu dinilai sebagai kesombongan karena menolak mereka yang kecil, tapi berbalik menjadi sandungan ketika mereka yang kecil jadi penentu dan beralih ke partai lokal.

“Kami ini meski masing-masing hanya satu kursi, tapi kami berempat adalah para ketua partai. Kami jadi penentu hitam putihnya anggaran di DPRA pada masa itu. Kami buang ego kami sebagai ketua partai, kepentingan Aceh harus dikedepankan. Ketika kami panas, Bang Firman bawa air, jadi sejuk lagi, sehingga kami kemudian diperhitungkan di DPRA. Hal-hal yang mustahil kami dilakukan, kemudian bisa kami lakukan. Lima serangkai ini diakui sebagai pemain. Itulah hikmah dan nikmatnya kebersamaan,” lanjut Tgk Muhib.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PKB Aceh, Irmawan menambahkan, diterimanya mereka dalam kelompok Partai Aceh tak lepas dari komunikasi politik yang baik antara dua pihak. Mereka merapat ke Partai Aceh setalah partai nasional menolaknya.

“Lebih dari itu adalah soal kebersamaan, meskipun kami dari partai nasional, kami bisa harmonis dengan Partai Aceh. Ini juga karena kami bisa menjalin komunikasi politik dan menyesuaikan diri dengan baik,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua PBB Aceh, Erly Hasyim mengatakan, bersatunya mereka dengan Partai Aceh kala itu, tidak terlepas dari kesepakatan-kesepakatan dan beberapa konsekwensi yang tidak direspon oleh partai nasional peraih kursi dominan di DPRA, maka mereka masuk ke kelompok Partai Aceh, menjadikan Partai Aceh dominan atas partai nasional di DPRA.

“Ini merupakan cerminan dari langkah politik yang tak terakomodir di partai nasional. Tapi diakomodir oleh Partai Aceh, sehingga kami bisa masuk dalam alat kelengkapan dewan, bisa menjadi pemain yang menentukan berbagai arah kebijakan, termasuk soal penundaan tahapan pilkada hingga beberapa kali itu, kami terlibat di dalamnya,” akunya.

Di akhir reuni kaukus lima serangkai itu, meski kini dua diantara mereka sudah menjadi anggota DPR RI, yakni H Firmandez dan H Irmawan. Mereka sama-sama berharap harmonisme itu tegak kembali dalam berbagai langkah politik ke depan, terutama dalam hal partisipasi Pilkada Aceh 2017. Semoga. [Isn]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Iskandar Norman

Pemimpin Redaksi http://teropongaceh.com. Pernah bekerja di Tabloid Modus Aceh, Harian Aceh Independen, Harian Aceh dan Pikiran Merdeka. Menulis sejumlah buku seperti Nuga Lantui, Legenda Aceh dan Hadih Maja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *