,

Nestapa Manaf di Gubuk Bocor

Semua orang mendambakan kehidupan layak dengan peninapan yang layak pula. Tak terkecuali dengan Abdul Manaf Amin, warga Dusun peutua Tuloet, Seunebok Kuyuen, Idi Timur, Aceh Timur. Ayah anak ini sudah lama mendambakan rumah layak huni.

Namun pria berusia 62 tahun tersebut tak memiliki keterbatasan secara ekonomi. Pekerjaannya yang tidak menentu, membuat impian untuk mendapatkan rumah layak huni menjadi nihil. Ya, benar-benar nihil. Lima bupati sudah berganti, ia masih saja hidup di bawah kemiskinan.

“Saya sudah pasra, lihat saja atap rumah saya sudah banyak bocor tak sanggup saya ganti. Anak-anak harus tidur berdesakan kalau hujan di malam hari. Beruntung tiga anak saya sudah berkeluarga, jadi tinggal bersama kami di sini empat anak saja,” kata Manaf mengawali pembicaraan.

Suami Hasnah (50) ini melanjutkan, ia sangat ingin mengganti atap rumahnya dengan atap baru, karena selama 25 tahun atap dari daun rumbia itu belum pernah diganti, sehingga banyak yang lapuk dan bocor.

Ia sangat sedih melihat anak-anaknya harus tidur di bawah atap bocor. Dari hasil perkawaninannya dengan Hasnah, ia dikaruniai empat putra dan tiga putri. Namun ketiga anaknya sudah mempunyai isteri dan suami. Sementara keempat anaknya tinggal bersamanya.

Keempat anaknya yang tinggal bersamanya yakni Samsul Bahri (23), Maulana Hamzah duduk di bangku sekolah SMP, Nurhayati tidak sekolah lagi dan Anwar anak bungsunya masih duduk dibangku sekolah SDN Gampong setempat. Namun ketiga anaknya lagi yakni Muhammad, Marlina dan Safaliah sudah bekeluarga.

Jika hujannya lama, ketiga anaknya harus tidur diatas pangkuannya dan isterinya hingga hujan reda sambil menunggu fajar menyinsing. Sementara Samsul Bahri harus menahan ember atau wadah sebagai penampung air hujan yang bocor.

“Nyoe keuh lagee nyoe kondisi udep kamoe siuroe-uroe, phet mameh kamoe uet keudroe (Beginilah kehidupan kami sehari-hari, pahit manis kami telan sendiri,” kata Abdul Manaf dengan nada datar.

Abdul Manaf mengakui, dari pekerjaannya yang serabutan alias mocok-mocok, penghasilannya per hari tak sampai Rp 50 ribu. Jangankan untuk membuat rumah baru, untuk merehab gubuk itu saja ia tidak mampu. “Bisa untuk makan sehari-hari dan menyekolahkan dua lagi anak kami sudah sangat bersyukur,” terang Abdul Manaf.

Abdul Manaf mengisahkan, pernah dulu sekitar tahun 2004 dan 2005 datang ke rumahnya petugas dari kecamatan untuk foto rumah dan minta foto copy KK (Kartu Keluarga) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk mengurus rumah bantuan baginya. Namun hingga saat ini bantuan rumah tersebut tidak pernah ada.

“Bahkan tidak sekalipun pihak pemerintah kabupaten maupun dari pihak Dinas Sosial datang meninjau kondisi rumah dan kehidupan kami. Sering saya dengar setiap tahunnya selalu ada bantuan rehab rumah dan bantuan rumah duafa serta bantuan rumah layak huni, namun bantuan tersebut tak pernah kunjung datang kepada kami.
Sementara warga lain yang rumahnya masih layak huni bahkan rumahnya beton dan besar mendapatkan bantuan rehab rumah dari pemerintah Aceh Timur melalui dinas Sosial, sungguh ironis,” kata Abdul Manaf.

Ia sangat berharap kepada Pemerintah Aceh Timur untuk mendapatkan bantuan rumah maupun bantuan rehab rumah untuk kami. “Loen ha melumpoe na rumoh geudong (saya tidak mimpi punya rumah gedung). Rumah yang layak dan bisa untuk kami berteduh itu sudah cukup,” ujar Abdul Manaf.

Pantauan Teropongaceh.com rumah Manaf selain atapnya banyak yang sudah bocor, dinding rumah yang berukuran 5 x 7 meter itu juga sudah lapuk. Bahkan hampir seluruh dinding bagian rumah lapuk akibat dimakan rayap. Yang paling memprihatikan lagi, dapur tempat Abdul Manaf memasak juga terdapat di dalam rumah yang tidak terpisah. Sementara untuk keperluan mandi dan air dirinya terpaksa mengambil di sumur sekitar 200 meter jaraknya dari rumah. [Iskandar Idi]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *