,

Nelayan Pasie Raja Meninggal Akibat tak Indahkan Peringatan

TAPAKTUAN – Meninggalnya dua nelayan Mata Ie, Pasie Raja, akibat dihantam badai dan gelombang tinggi, memunculkan keprihatinan dari Panglima Laot Aceh Selatan, Tgk M Jamil. Musibah itu tak akan terjadi seandainya nelayan mengindahkan instruksi panglima laot.

Sehari sebelum peristiwa naas itu terjadi, Jumat, 20 Mei 2016 saat kenduri laut digelar, pihaknya telah mewanti-wanti nelayan agar mengurungkan niat pergi melaut jika kondisi cuaca sedang buruk apalagi saat ini sedang musim barat.

“Saya sangat menyesalkan atas sikap panglima laot Pasie Raja yang tidak mengeluarkan larangan kepada nelayan setempat agar tidak melaut di saat kondisi cuaca sedang buruk. Padahal instruksi itu baru saja saya sampaikan saat kenduri adat laut hari Jumat (20/5) di Pasie Raja, namun ternyata ke esokan harinya mereka tetap pergi melaut,” kata Tgk M Jamil kepada wartawan di Tapaktuan, Minggu, 22 Mei 2016.

Ironisnya lagi, sambung M Jamil, beberapa saat pasca insiden perahu terbalik di perairan laut Desa Mata Ie, Kecamatan Pasie Raja tersebut, dia langsung menghubungi Panglima Laot Kecamatan setempat, namun sayangnya beberapa kali ditelpon meskipun terdengar panggilan masuk namun tidak diangkat.

“Ini merupakan salah satu bukti bahwa mereka telah merasa bersalah dan malu hati kepada saya, sebab sehari sebelumnya saya telah menyampaikan peringatan di hadapan nelayan setempat agar barhati-hati pergi melaut, jika memang cuaca sedang tidak mendukung maka dibatalkan niat melaut sebab kondisi saat ini sedang dilanda musim barat,” ujarnya.

Menurut M Jamil, puluhan nelayan lainnya di beberapa Kecamatan dalam Kabupaten Aceh Selatan seperti nelayan Lhok Meukek, Lhok Sawang dan Lhok Labuhanhaji justru sangat mematuhi instruksi yang dia sampaikan tersebut. Buktinya, para nelayan di wilayah tersebut sudah hampir mencapai satu pekan lebih tidak melaut karena kondisi cuaca saat ini sedang tidak mendukung.

“Jika kurang percaya bisa lihat sendiri apakah benar sejumlah boat dan perahu nelayan di Lhok Pasie Meukek dan Lhok Labuhan Tarok, Kecamatan Meukek, tertambat sudah hampir satu pekan lebih di kolam pelabuhan PPI. Mereka sudah sangat faham bahwa saat ini sedang musim barat, sewaktu-waktu bisa saja dilanda angin kencang dan gelombang besar setinggi lebih dari 3 meter. Kondisi itu sangat berbahaya bagi keselamatan nelayan itu sendiri,” tegasnya.

Sementara itu, Pawang Perahu Sinar, Hasbi (62), memastikan bahwa tenggelamnya perahu yang berisi 11 nelayan di Perairan laut Desa Mata Ie, Kecamatan Pasie Raja, Sabtu, 21 Mei 2016 sekitar pukull 09.30 WIB kemarin bukan karena tidak melakukan kenduri laot, melainkan karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. “Insiden itu terjadi setelah para nelayan melaksanakan kenduri laot pada Jumat kemarin,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, saat hendak melempar pukat, tiba-tiba nelayan diterjang angin kencang, namun saat hendak menepi ke daratan justru mereka dihantam gelombang setinggi 3 meter.

“Tadinya sudah sempat menabur pukat (jaring), tiba-tiba angin kencang menghadang. Kami berniat pulang tetapi saat mau mendarat terjadi musibah perahu terbalik yang merenggut nyawa Miswar dan Ibnu Hajib, akibatnya dua nelayan meninggal dunia dan 2 lagi kritis serta sembilan lainnya selamat,” ungkap Hasbi.

Ke 11 orang nelayan tersebut masing-masing adalah Ibnu Hajib (60) dan Miswar (50) meninggal dunia. Korban kritis Muhammad Tahir dan Darmandi dirawat di Puskesmas. Korban selamat, Hasbi (62), Muslem (47), Suhardi (27), Adi Bisu (21), Syafrijal (25), Ismail R (43) dan Muhammad Nasir (25).[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *