,

Napi Kabur Dimasukkan dalam Register F

TAPAKTUAN – Dede Irfan Gunarto nara pidana (Napi) yang melarikan diri dari Lapas II-B Tapaktuan, dan ditangkap kembali di Bireuen, dijatuhi sanksi dimasukkan dalam register F, ia tidak bisa lagi mendapatkan cuti bersyarat dan bebas bersyarat. Yang bersangkutan juga dipindahkan ke LP Aceh Barat Daya.

Kepala Rutan kelas II-B Tapaktuan, Irman Jaya, Jumat, 23 September 2016 di Tapaktuan menjelaskan, pemindahan ke luar daerah dilakukan karena yang bersangkutan terbukti melanggar aturan, yakni kabur setelah membobol rutan bersama enam tahanan lainnya.

Dedek Irfan merupakan napi yang tersangkut kasus penggelapan dengan vonis penjara selama 2,6 tahun tersebut telah diserahkan oleh pihak Polres Aceh Selatan kepada mereka pada Kamis, 22 September 2016 setelah ditangkap kembali di Bireuen.

Selain kepada Dedek Irfan, sanksi serupa juga telah dijatuhkan oleh pihaknya kepada dua orang napi yang lain masing-masing bernama Razali (kasus narkoba masa hukuman 8 tahun) dan Agung Maulana (kasus pencurian masa hukuman 5 tahun).

Menurutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan, Razali dan Agung Maulana yang juga menghuni kamar sel nomor 2, juga bagian dari kelompok napi tujuh orang yang berhasil kabur setelah membobol dinding kamar mandi lalu memanjat pagar penjara setinggi 6 meter.

Namun mereka gagal kabur bersama tujuh orang napi lainnya karena saat Razali hendak memanjat pagar penjara ternyata tali sudah dilempar sebelah luar pagar. Sedangkan Agung Maulana yang memiliki postur tubuh tinggi besar itu, badannya tidak muat saat hendak mau keluar melalui lobang dinding kamar mandi yang sudah dibobol.

“Razali mengaku bahwa karena tidak bisa lagi memanjat pagar kemudian dia kembali ke dalam kamar sel nomor 2 dan berpura-pura tidur kembali. Sedangkan Agung Maulana memang tidak sempat keluar kamar sel karena badannya tidak muat lobang. Artinya bahwa kedua orang ini sudah ada niat ingin lari, sehingga keduanya wajib dijatuhi sanksi,” jelas Irman Jaya.

Dalam kesempatan itu, Irman Jaya kembali menegaskan bahwa pasca kejadian tujuh orang napi kabur tersebut tidak hanya para napi yang menghuni kamar sel nomor 2 telah diperiksa oleh pihaknya, tapi juga termasuk beberapa orang sipir penjara.

“Beberapa orang sipir penjara yang dinilai harus bertanggungjawab atas kaburnya tujuh orang napi tersebut, telah dilakukan proses pemeriksaan mulai tingkat Rutan Tapaktuan sampai ke Kantor Wilayah Kemenkum HAM di Banda Aceh. Hasil kesimpulan pemeriksaan sementara memang tidak ada bukti yang mengarah terhadap dugaan keterlibatan petugas dalam kasus tersebut, sebab jika terbukti terlibat maka saya yakin mereka akan dijatuhi sanksi tegas oleh pihak Kanwil,” pungkasnya.[Hendri Z]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *