,

Musuh Politik

Jika Anda ingin memiliki seorang musuh yang baik, maka peliharalah seorang teman, dia tahu di mana dan kapan harus menyerang Anda.

Pesan ini disampaikan Diane De Poiteirs (1499 – 1566). Ia kekasih gelap pangeran Henry II dari Prancis. Ya…, dalam politik, teman Anda adalah musuh yang paling dekat dengan Anda. Waspadailah terhadap tindak tanduk dan tindakan mereka, karena mereka mudah merasa iri, dengki dan khianat terhadap Anda.

Dalam dunia politik, tak ada kawan dan lawan yang abadi, semua bermain berdasarkan kepentingan. Sejauh mereka masih menggunakan Anda untuk pemuasan kepentingan mereka, sejauh itulah mereka akan menemani Anda, sebaliknya, ketika itu tak ada lagi, maka Anda akan menemukan seorang musuh yang sangat bersahaja.

Sebaiknya, pekerjalah mantan musuh Anda untuk berbagai kepentingan. Mereka akan bertindak setia, karena didorong oleh rasa bersalah sebelumnya. Mereka punya kepentingan politik untuk memperbaiki citranya di mata Anda, bahwa mereka sudah berubah dan akan selamanya siap menjadi mitra Anda. Pun demikian tetaplah berhati-hati dengannya.

Robert Green dalam The 48 Law of Power mengatakan, ada lebih banyak hal yang harus Anda takuti dari teman Anda dari pada musuh Anda. Jika Anda tidak memiliki musuh, ia menyarankan Anda untuk menciptakannya. Sejarah telah mencatat banyak hal tentang ini. Baldassare Castiglione (1478-1529) pernah mengeluh tentang hal ini.

Katanya, “Jika aku sendiri telah lebih dari sedikit ditipu oleh orang yang paling kusayangi dan orang yang di antara semua orang lain paling kupercaya karena kasihnya padaku. Karena itulah aku yakin bahwa mungkin baik bagiku untuk mengasihi dan melayani seseorang melebihi orang lain berdasarkan prestasi dan nilai dirinya, tetapi aku tidak boleh terlalu mempercayai jebakan persahabatan yang menggiurkan ini karena tindakan ini telah menyebabkan diriku menyesali di kemudian hari.”

Seorang politisi harus mampu memahami hal ini, apalagi ketika ia mengangkat orang-orang sekitarnya untuk suatu jabatan. Ketika seorang katakanlah Gubernur mengangkat Kepala Satuan Pemerintah Aceh (SKPA). Hanya para kepala itu yang akan tersenyum mesra bersama keluarganya. Sementara yakinlahlah puluhan bahkan mungkin ratusan orang lainnya akan memandang hal itu sebagai momen untuk mengkhianati gubernur karena bukan dia yang menempati posisi tersebut.

Simak apa yang dikatakan Raja Louis XIV (1638 – 1715). Katanya, setiap kali ia menganugerahkan suatu jabatan kepada seseorang, maka ia akan menyebabkan seratus orang tidak tahu berterima kasih padanya. Ini pula yang disetil oleh Tacitus sekitar 55 – 120 masehi lalu. Katanya, manusia lebih siap membalas sakit hati dari pada keuntungan, karena rasa syukur merupakan beban dan dendam adalah kesenangan.

Nabi dalam sabdanya berpesan, belajarlah hingga ke negeri Cina. Kali ini mari kita lihat hal itu dalam sejarah Cina. Selama berabad-abad setelah kejatuhan Dinasti Han (222 Masehi) sejarah Cina–sebagaimana ditulis Robert Greene—menunjukkan pola kudeta berdarah dan penuh kekerasan dari orang-orang di sekitar kaisar.

Para tentara berkomplot membunuh seorang tentara yang lemah kemudian menggantikannya di Tahta Naga dengan seorang jenderal yang kuat. Beberapa tahun kemudian pola itu terulang dan kudeta kembali terjadi terhadap kaisar yang dilakukan oleh orang-orang dekatnya. Begitulah perebutan kekuasaan terjadi ketika kawan dan lawan tak mampu dijaga dalam kepentingan yang sama.

Pada tahun 959 masehi, Jenderal Chao K’uangyin diangkat menjadi Kaisar Sung. Ia menyadari apa yang dialami para pendahulunya biasa saja menimpanya. Ia sadar bahwa dalam waktu satu dua bulan dia pasti akan dikudeta dan dibunuh oleh lawan politiknya yang tak lain adalah orang-orang dekat di sekelilingnya.

Saban malam ia tidur dalam ketakutan, ia menyalipkan pedang di bawah kasurnya untuk berjaga-jaga. Lama merasa ketakutan seperti itu, ia kemudian menggelar jamuan makan malam dengan semua jenderal yang mungkin salah satunya berpotensi untuk melakukan kudeta terhadapnya.

Mendapat undangan seperti itu, para jenderal ketakutan, mereka takut kaisar akan membunuh mereka sekaligus dalam jamuan makan malam itu untuk menghindari kudeta terhadap dirinya. Namun ternyata Kasisar Sung tidak melakukan itu, ia memainkan politik berkawan dengan musuh-musuh di sekelilingnya. Ia berkata kepada para jenderal itu, “Aku tidak meragukan kesetiaan kalian, tapi jika bawahan kalian menginginkan kalian untuk menjadi kaisar dengan membunuhku, siapa diantara kalian yang mampu menolaknya?”

Mendapat pertanyaan seperti itu para jenderal kebingunan dan kemudian menyatakan kesetiannya kepada Kasisar Sun. Jadi, dalam urusan politik, cara terbaik untuk menjaga kekuasaan adalah dengan berkawan dengan musuh, karena musuh sesungguhnya adalah teman di sekitar kekuasaan itu sendiri.

Para jenderal itu menyadari dari pada terlibat dalam kudeta lebih baik hidup senang sebagai jutawan. Kaisar Sun memberikan jaminan hidup bagi mereka. Dan para jenderal itu esoknya mengundurkan diri dan pensiun sebagai bangsawan. Selamatlah ia dari musuh-musuhnya.

Dengan cara seperti yang dilakukan Kasai Sun, seorang politisi bisa mengubah sekawanan “serigala” di lingkungan kekuasaannya menjadi “domba” penurut yang yang tak berselera untuk merebut kekuasaan. Jadi, ciptakan musuh politik Anda untuk kelak menjadi teman yang akan mendukung pencalonan kembali Anda sebagai pemilik tampuk kekuasaan.[]

Written by Iskandar Norman

Pemimpin Redaksi http://teropongaceh.com. Pernah bekerja di Tabloid Modus Aceh, Harian Aceh Independen, Harian Aceh dan Pikiran Merdeka. Menulis sejumlah buku seperti Nuga Lantui, Legenda Aceh dan Hadih Maja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *