,

Muhammad Nur Gaybita, Comeback-nya Sang Sepuh

Usianya sudah senja, ya, sudah 76 tahun, tapi semangatnya masih sangat membara. Itulah Muhammad Nur Gaybita. Pria yang sudah malang melintang di dunia pertanian. Pernah 12 tahun menjadi Kepala Dinas Pertanian Aceh, kemudian ditarik ke Departemen Pertanian di Jakarta, kini pulang kampong untuk memberdayakan petani.

Kakek dengan 16 cucu ini kembali ke Timang Gajah, Bener Meriah sekitar tiga tahun lalu. Ia berhasrat mengubah masyarakat dataran tinggi Gayo itu dari belenggu kemiskinan.

Pulang kampung, pria yang sering disapa Aman Is ini melakukan berbagai riset dan penelitian. Ia mengajarkan masyarakat di sana tentang budi daya ikan mujahir, nila, dan ikan mas tanpa pakan pelet. Selain itu juga melakukan budidaya kopi Arabica, anggur dan berbagai tanaman buah khas daerah. Hebatnya, semua dilakukan dengan biaya sendiri, tanpa bantuan pemerintah.

Ketika ditanya alasannya pulang kampong setelah hidup super nyaman di kota Metropolitan, Aman Is mengatakan, ia merasa sangat berdosa dan bersalah kalau di akhir hidupnya tidak bisa mengabdikan diri untuk masyarakat kampungnya di Bener Meriah.

“Banyak saudara-saudara kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, mereka harus bangkit dan sejahtera mengejar ketertinggalan dari masyarakat di kabupaten/kota lainnya di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya,” kata Aman Is dalam bincang-bincang santai, Sabtu, 21 Januari 2017.

Ilmu pertanian didapat Muhammad Nur Gaybita bermula dari kuliah di Akademi Pertanian Ciawi Bogor, di sana ia memperoleh gelar sarjana muda. Jenjang pendidikan S1 dan S2 diselesaikanya di Universitas Muhamamdiyah, Jakarta.

Karirnya di birokrasi juga mentereng. Ia pernah menjadi staf Kementan RI di Banten Jawa Barat, Kepala Dinas Pertanian Aceh selama 12 tahun, menjadi Direktur Kementan RI dan Dirut PT Pertani dan Ketum PERPADI serta sejumlah jabatan lainnya.

Ia berpesan agar generasi muda mengubah dan meningkatkan taraf hidup menjadi lebih sejahtera dengan resep harus kerja keras, disiplin, jujur dan cerdas, sesuai dengan perintah ajaran agama Islam.

“Berbuat untuk negeri, berbakti untuk negeri tidak harus punya jabatan dulu, punya kekayaan dulu akan tetapi kita harus mulai dari sendiri punya niat dan itikat yang baik dan menekuni dan meyakini terhadap satu bidang pekerjaan insya Allah akan sukses dan berhasil,” tegasnya.

Di mata Setwan Gayo Lues, Ibrahim MY, sosok Muhamamd Nur Gaybita pantas diacungi jempol. Ia merupakan sosok yang langka, sederhana, bersahaja, dan selalu bersemangat untuk membangun masyarakat yang sejahtera, meski usianya sudah tak lagi muda.

“Sangat jarang kita lihat sosok orang seperti beliau, meski sudah pensiun, tapi tetap saja ingin merubah menset warganya agar selalu rajin, dan memberikan contoh yang baik agar diikuti masyarakat lainya jejaknya, saya terkesan dengan beliau,” akunya.[Win Porang]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *