,

Menkum HAM Diminta Evaluasi Pengawasan Rutan

TEROPONG ACEH | TAPAKTUAN – Tokoh Masyarakat Aceh Selatan, T Sukandi meminta kepada Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H Laoly, segera mengevaluasi sistem pengawasan dan pengamanan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Tapaktuan.

Permintaan itu disampaikan Sukandi menyikapi kasus kaburnya sebanyak tujuh Narapidana (Napi) dengan cara membobol dinding kamar mandi kamar sel nomor 2 pada Sabtu dini hari, 13 Agustus 2016 pekan lalu.

“Seluruh persoalan yang terjadi di Rutan Tapaktuan tersebut jelas-jelas membuktikan bahwa pengawasan dan pengamanan yang berjalan selama ini sangat lemah. Karena itu, sudah sewajarnya kasus tersebut mendapat perhatian serius dari Menteri Hukum dan HAM dengan cara segera mengevaluasi kembali SOP mereka,” kata Sukandi kepada wartawan di Tapaktuan, Minggu, 14 Agustus 2016.

Menurut dia, kasus kaburnya tujuh orang Napi di Rutan Tapaktuan serta penemuan satu butir peluru aktif dan bungkus plastik bekas tempat sabu-sabu berikut puluhan HP, tidak terlepas dari longgarnya pengawasan dan pengamanan yang menjadi tugas pokok dan tanggungjawab mutlak petugas sipir penjara.

Seharusnya, tegas Sukandi, sistem pengawasan dan pengamanan rutan mesti lebih ditingkatkan lagi di atas jam 12 malam karena pada waktu lengang atau sepi tersebut sangat rawan timbulnya kasus tahanan kabur.

Demikian juga terkait ditemukannya puluhan barang yang semestinya tidak boleh ada di dalam rutan. Menurut Sukandi, hal itu sebenarnya tidak akan terjadi jika saja pengawasan terhadap pengunjung yang keluar masuk Rutan diperiksa secara cermat dan teliti.

Mantan Anggota DPRK Aceh Selatan ini juga meminta Menteri Hukum dan HAM segera meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana rutan kelas IIB Tapaktuan yang kondisinya saat ini sudah over kapasitas. Rutan tersebut kini dihuni 147 napi, padahal kapasitasnya hanya untuk 75 orang napi saja.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIB Tapaktuan, Irman Jaya, secara tegas menampik tudingan yang menyebutkan pihaknya keteledoran terkait kaburnya tujuh orang napi. Menurut dia, langkah pengamanan sudah dilaksanakan sesuai SOP, hanya saja yang menjadi kendala bagi pihaknya adalah dengan kondisi rutan yang sudah over kapasitas, namun mereka hanya memiliki petugas pengamanan sebanyak 12 orang.

“Sebanyak 12 orang petugas tersebut dibagi dalam 4 regu, satu regu terdiri dari 3 orang, maka tiga orang tersebutlah yang selalu rutin melakukan pengamanan sesuai shif jaga piket yang telah ditentukan. Tiga orang tersebut, komandan regu jaga di Pos, dua orang lagi satu jaga di depan dan satu lagi jaga di blok sel tahanan,” kata Irman Jaya.

Menurut dia, terkait kondisi Rutan yang sudah over kapasitas tersebut, pihaknya telah selesai menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan pembuatan gambar untuk pembangunan gedung baru. Usulan tersebut telah di serahkan kepada Kementerian Hukum dan HAM RI di Jakarta melalui Kanwil Kemenkum HAM Provinsi Aceh di Banda Aceh.[Hendri Z]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *