Mengenal Tradisi Cah Rot Dalam Pernikahan di Aceh

0
765

Istilah cah rot atau cah ret dalam bahasa Aceh bermakna membuka jalan atau meretas jalan dalam bahasa Indonesia. Setiap orang yang ingin meminang gadis Aceh harus memahami hal ini. Yang pertama harus memahami ini adalah ibu si pemuda yang hendak meminang anak gadis Aceh.

Dalam tradisi masyarakat Aceh, bila seorang sudah memiliki kehendak mencari seorang gadis untuk anak laki-lakinya, mereka akan bermufakat membicarakan tentang gadis yang akan dipilih. Lalu cah rot dilakukan.

Ibu si pemuda tersebut ditemani oleh satu atau dua wanita lain, akan datang secara tidak resmi ke rumah orang tua si gadis. Alasan kedatangannya pun dicari-cari momen tertentu. Misalnya menjenguk orang sakit kalau ada orang sakit di rumah itu. Bahkan, berpura-pura mencari buah-buahan jika di halaman rumah gadis tersebut ada tanaman yang sedang berbuah.

Menariknya, ada satu anggapan klasik saat kunjungan perdana menelisik si gadis tersebut. Misalnya, ketika mereka sampai dan melihat si gadis sedang pulang dari sumur membawa air, atau sedang mengerjakan salah satu pekerjaan rumah, maka itu petanda baik. Dan, ibu si pemuda akan berusaha untuk mendapatkan menjadi menantunya.

Sebaliknya, jika saat datang pertama itu melihat si gadis sedang merepet atau marah, itu pertanda tidak baik. Bahkan jika yang direpetinnya itu hanya kawanan ayam atau bebek di kandang yang bertengkar sesamanya.

Ketika sampai di rumah itu, ibu si pemuda dengan ibu si gadis akan berbincang-bincang. Pada saat itu biasanya si gadis akan menyiapkan minuman dan dihidangkan untuk sang tamu. Setelah itu ia akan kembali ke dapur atau ruang belakang.

Saat menikmati hidangan minuman itulah, ibu si pemuda yang sedang menjalankan misi cah rot akan berbasa-basi mengawali pembicaraan. Misalnya mengatakan “O..ka rayeuk sinyak geutanyoe. Peu na ureueng keureuleng-keureuleng ka? (Oh.. sudah besar anak dara kita. Apa sudah ada orang melihat-lihat?).”

Ibu si gadis yang mendengar itu pasti mahfum ke mana arah pembicaraannya. Setelah itu pembicaraan kemudian beralih ke hal-hal lain. Dan ibu si pemuda baru akan pulang setelah mendapat penjelasan tentang si gadis dari ibunya.

Jika mendapat lampu hijau pada kunjungan pertama cah rot itu, maka beberapa hari selanjutnya ibu si pemuda akan datang lagi, kedatangan kedua ini dilakukan juga secara resmi, dan belum membawa apa-apa. Lagi-lagi si gadis akan menyiapkan minuman untuk tamu ibunya itu.

Pembicaraan antara ibu si pemuda dengan ibu si gadis pada kunjungan cah rot kedua ini akan lebih menjurus. Biasanya saat si gadis menghidangkan minuman, ibu si pemuda akan berkata. “Adak jeut bungong nyoe bah keu aneuk ulon, bek jipet le gob le (kalau bisa bunga ini biarlah untuk anak saya, jangan dipetik orang lain).”

Kalimat seperti itu secara halus mengisyaratkan bahwa, ibu si pemuda akan datang lagi untuk cah rot kali ketiga. Dan kunjungan cah rot ketiga ini akan dilakukan secara resmi dengan membawa buah tangan (oleh-oleh). Saat cah rot ketiga inilah tujuan untuk meminang si gadis disampaikan.

Begitulah keraifan adat istiadat Aceh mengatur tata krama sebelum meminang anak gadis orang. Bila cah rot ketiga ini ditanggapi dengan baik, maka prosesi selanjutnya akan dilanjutkan ke tahap meulakee le seulangke, yakni meminang oleh orang yang dituakan atau orang yang ditunjuk menjadi perantara oleh keluarga si pemuda. Tentang meulakee le seulangke ini akan saya tulis pada postingan lain nantinya.[Iskandar Norman]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here