,

Melawan Maut di Lintasan Pining – Lokop

Jalur alternatif yang dibangun pemerintah dari Gayo Lues ke Aceh Timur, memangkas waktu perjalanan, dibandinkan dengan jalur Blangkejeren – Tekengon – Bireuen – Medan atau sebaliknya, Blangkejeren–Medan–Kuala Simpang.

Namun, waktu yang lebih pendek harus dibayar dengan ketaknyamanan. Ya, sepanjang jalan lintas Kecamatan Pinding, Gayo Lues menuju Kecamatan Lokop Serbajadi, Aceh Timur, jalan belum diaspal, hampir sepanjang jalan lubang menga-nga, plus jurang dalam dan terjal.

Seperti di daerah Uring, Kecamatan Pining misalnya, selain banyak jalan berlubang dan menanjak, jurang yang dalam juga sudah menanti di samping kiri jalan. Tak heran bila sebagian pengendara yang belum mahir terjatuh di daerah tersebut.

Begitu juga dengan jembatan panjang yang ada di Kecamatan Pining hingga ke bekas banjir bandang dan longsor Pining, daerah ini juga sangat rawan kecelakaan akibat sulitnya melewati medan yang terjal.

Bila melaju dari arah kota Blangkejeren menuju pusat Kecamatan Pining, para pengendara bisa menempuh selama 1,5 jam, bila perjalanan tetap dilanjutkan, maka sekitar selama setegah jam sudah sampai di jembatan darurat Aih Putih yang menghubungkan Kecamatan Pining, Gayo Lues dengan Lokop Serbajadi, Aceh Timur.

Irwan, salah seorang pelintas jalur alternatif tersebut, Kamis, 12 Mei 2016 mengungkapkan, mulai dari daerah Aih Putih hingga ke Lokop jalan tak beraspal. “Sangat sulit melewati kawasan itu, medannya sangat berbahaya,” ungkapnya.

Di lintasan itu hutan masih sangat rimbun, meski di beberapa titik terdapat bekas pembakaran, di kiri kanan jalan hutan sudah ditebang oleh warga untuk membuka kebun.

Irwan mengaku was-was saat melewati pekebunan warga di tengah hutan perawan tersebut. Sinyal telepon seluler tidak ada, kalau terjadi kecelakaan atau kenderaan mogok, tak akan ada yang membantu, karena jalan tersebut sangat jarang dilintasi warga.

Apa lagi setelah melewati tiga sungai yang masih belum dibangun jembatan, di sungai ini sering sekali kendaraan mogok akibat airnya terkadang dalam dan terkadang sedikit kering, bila tidak turun dan melihat kondisi terlebih dahulu, di sungai ini kendaraan roda dua dan roda empat bisa mati mendadak di tengah sungai.

“Akhirnya setelah melewati banyak rintangan dan jalan yang berlubang, kami tiba di kota Langsa sekitar pukul 3:00 Wib, ini perjalanan yang melelahkan tanpa banyak berhenti di pinggir jalan, mungkin kalau bersantai-santai saja bisa memakan waktu hingga delapan jam,” ujarnya.

Melewati jalan Pining-Lokop menuju kota Langsa atau Aceh Tamiang lebih menguntungkan pengendara jika dibandingkan dengan perjalanan dari Gayo Lues meuju Medan ataupun dari Gayo Lues menuju Biruen, sebab, dari kota Blangkejeren menuju kota Medan memakan waktu hingga 11 Jam ditambah perjalanan dari Medan menuju Langsa yang mencapai 4 Jam hingga 5 Jam, begitu juga dengan jalan Biruen yang memakan waktu hingga 15 jam perjalanan.

“Hanya saja bagi orang yang ingin melintasi jalan Pining Lokop, jagan lupa membawa bekal di jalan, serta membawa peralatan-peralatan, karena kerusakan kendaraan tidak bisa kita prediksi dijalan berlubang dan terjal itu,” kata Irwan mengigatkan.[Win Porang]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *